Advertorial
Bhima Yudhistira Adhinegara, Berkarya Lewat Pena
“Democracy and Student Movement in Malaysia”. Judul itu tertulis besar-besar di kolom Opini harian nasional terkemuka, Jakarta Post (3/1) lalu. Hal ini sungguh mencengangkan jika mengingat kolom Opini terkenal sulit ditembus editorialnya bagi masyarakat umum, apalagi mereka yang hanya berstatus mahasiswa tahun keempat sebuah universitas. Sosok di balik tulisan tersebut ternyata adalah Bhima Yudhistira Adhinegara, mahasiswa International Undergraduate Program tahun angkatan 2008.
Bagi mahasiswa jurusan Manajemen ini, pemikiran mahasiswa tidak bisa dikotak-kotakkan hanya berdasarkan jurusan saja. Tengok saja tulisannya yang mulai membahas tentang ekonomi mikro berjudul “Pembatasan BBM dan UMKM” yang dimuat di Seputar Indonesia (6/2) sampai pada tulisan bertema keuangan yang diterbitkan di Republika (19/1) berjudul “OJK: Mengawasi atau Merugikan Lembaga Keuangan”. Kebiasaan menulis sejak dia masih menjadi mahasiswa tahun pertama di buletin EQ (BPPM Equilibrium, pers mahasiswa FEB UGM –red) meningkat menjadi tulisan opini di berbagai harian nasional. Motivasinya bermacam-macam, mulai dari aktualisasi diri, koneksi dengan mahasiswa dan pakar yang memiliki keingintahuan seputar masalah yang serupa, sampai pada honor yang mungkin terkadang tak seberapa.
Menemukan Bhima di IUP FEB UGM serasa menemukan oase di padang pasir tandus karena talenta uniknya. Dari sekian banyak mahasiswa IUP yang memilih aktif dalam berbagai konferensi mahasiswa internasional maupun kompetisi bisnis internasional, mahasiswa yang pernah menjadi Ketua Komite Penyelenggaraan Konferensi Internasional ASEAN Young Leaders “Towards ASEAN Community 2015” pada 2011 lalu ini lebih memilih aktif di organisasi kemahasiswaan, berbagai penelitian bidang ekonomi, dan tentu saja menyalurkan pemikirannya lewat tulisan. ”Kita menulis bukan karena the greatness of words, tapi karena public need it,” jawabnya fasih saat ditanya mengapa dia sangat gemar mengirimkan tulisan ke surat kabar. Selain itu, menulis di surat kabar merupakan salah satu langkah awal dalam meraih mimpinya untuk bekerja di World Bank.
Menulis tidak sekedar memberikan honor untuk Bhima, tetapi juga banyak pelajaran dan koneksi. Sering beberapa orang menghubunginya untuk membahas topik yang dia tulis secara lebih mendalam. Pernah juga seorang dosen FEB UGM meneleponnya dan menyanggah pendapatnya itu. “Kata beliau, “Itu (pembahasannya) bukan seperti itu...”,” kata Bhima yang sebentar lagi akan menjadi Kepala Pusat Studi Ekonomi Syariah di sebuah departemen, menirukan suara dosen tersebut.
Bagi Bhima pribadi, masuk ke IUP memberikan nilai lebih di dalam hobinya sebagai penulis. IUP memberikan banyak manfaat padanya untuk selalu berpikir secara global dan selalu berpikir analitis. Di dalam kelas, dia harus selalu memiliki stance dalam segala perdebatan dengan berbagai argumentasi-argumentasi yang ada. Statusnya sebagai mahasiswa program internasional juga merupakan poin lebih atas beberapa kepercayaan yang diberikan padanya, salah satunya dari surat kabar berbahasa internasional. Manurutnya, IUP memberikan banyak manfaat terutama kemudahan mengakses berbagai data-data riset internasional ataupun buku-buku ADB. “Sayang kalau ini tidak dimanfaatkan,” tambahnya menutup wawancara lewat kawat sore itu. [Dwi Andi]









