Advertorial
Ardine Agristi
Calon Pemegang Dua Gelar Sarjana yang Bermimpi jadi Pengusaha
Muda bukanlah suatu kata keramat yang membatasinya untuk mulai berusaha sendiri. Mimpi sebagai wirausahawan membuat mahasiswi religius ini selalu menanamkan sikap mandiri.
Oktober siang itu, dengan balutan kerudung merah muda dan baju motif bunga-bunga warna senada, Ardine duduk santai di sofa. Sesekali dia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, dengan masih memasang senyum selalu. Sangat kontras dengan permasalahan izin KKN yang sedang dihadapinya saat ini, sekembalinya dia dari program double degree di Belanda. “Karena semua KKN diurus oleh PPM UGM, jadinya OIA (Office of International Affairs FEB UGM –red) pun tidak punya kuasa untuk menentukan,” keluhnya. Meskipun akhirnya terhambat dalam menjalankan kegiatan KKN, dia merasa sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan double degree tersebut.
Mahasiswi Jurusan Manajemen International Undergraduate Program (IUP) FEB UGM angkatan 2009 ini memang agak “nekat” mengambil Financial Economics sebagai jurusan di program double degree-nya. Dengan thesis tentang price multiples, mahasiswi yang aktif juga di Advokasi BEM FEB UGM ini berhasil mendapatkan titel Bachelor of Science dari Erasmus School of Economics, Rotterdam. “Cerita dari yang dulu sih (kakak angkatan yang sebelumnya double degree di Rotterdam –red), kuliahnya memang berat. But I never ever thought it would be that hard!” ujarnya sambil tersenyum simpul. Erasmus mengajari Ardine segalanya: dedikasi, hard work, determination, dan commitment. Di sana jugalah dia mendapatkan ilmu yang benar-benar baru, salah satunya adalah Economics of Aging. Berasal dari Indonesia –negara dengan piramida penduduk bentuk limas (expansive)– menjadikan Ardine mengerti masalah uang pensiun ataupun asuransi yang dihadapi negara dengan piramida penduduk bentuk granat (stationary). Mahasiswi yang berminat meneruskan master degree pada Shariah Economics ini beruntung bisa masuk di Program IUP FEB UGM.
Anggota Indonesian Muslim Association, Rotterdam dan Indonesian Students Association, Rotterdam ini mulai berminat di bidang enterpreneur saat dia mengamati orang tuanya membuka usaha franchise restoran di Melbourne, delapan tahun silam. Meskipun berstatus anak pemilik restoran, dia diperlakukan sama dengan pegawai lainnya saat menjadi tenaga part timer di sana selama 12 jam sehari. Walaupun hanya menyapu, membersihkan meja, dan mengangkat piring dan gelas kotor, Ardine belajar banyak dari keterlibatannya di restoran. “Dari situ, diajari tentang supply chain, operations begini, keuangannya seperti ini, gitu,” jelasnya. Kelak, dia bermimpi bisa membuka restoran Korea di Yogyakarta. Setelah sukses dengan menjadi konsultan kosmetik Oriflame Beauty dan finance specialist bisnis T-shirt The Untouchables, Ardine yakin akan sukses jika nantinya berhasil membuka resturan Korea ini. Selain karena passionnya yang besar pada masakan Korea, beberapa teman pun juga mendukung gagasannya tersebut.
Dari double degree yang sudah selesai dilakukannya, dia berharap nantinya fakultas dan universitas bisa menjalin kerja sama dan komunikasi yang lebih meringankan beban mahasiswa, seperti perizinan KKN. Bagi mahasiswa double degree pun, dia berpesan untuk selalu siap, apalagi jika mereka melakukan lintas jurusan seperti yang dilakukannya. Walaupun begitu, mendapatkan dua gelar dari dua universitas merupakan hal yang membanggakannya. Saat ditanya kapan rencana wisuda, Ardine menjawab dnegan mata berbinar “Insya Allah, Februari tahun depan.” [dwi andi]









