News From Abroad
Sekar Utami Setiastuti
Menjadi Mahasiswa di North Carolina: “The Dream I, Even, Have Never Dared to Dream About”
Sungguh merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi saya untuk bisa mewartakan secuplik berita dan membagi sedikit cerita kepada segenap sivitas akademika FEB UGM mengenai kehidupan “baru” saya sebagai mahasiswa program doktoral di negara bagian North Carolina, Amerika Serikat. Semoga artikel ini bisa menjadi “obat rindu” bagi kolega dan seluruh sivitas akademika FEB UGM.
Kabar Gembira dari Jakarta
Enam bulan setelah saya diangkat menjadi tenaga pengajar di Jurusan Ilmu Ekonomi FEB UGM, tepatnya pada medio akhir bulan Desember 2011, datang sebuah kabar yang sangat mengejutkan bahwa saya terpilih menjadi penerima beasiswa program S3 dari Support for Economic Analysis Development in Indonesia (SEADI). Program yang merupakan sebuah proyek dari USAID (United States Agency for International Development) ini menawarkan kerja sama penelitian dan beasiswa penuh bagi akademisi, birokrat, dan ekonom yang bekerja di LSM di seluruh Indonesia —untuk mendapatkan gelar pascasarjana S2 atau S3 di universitas di Amerika Serikat. Bagi saya, kesempatan tersebut merupakan sebuah kesempatan yang tidak pernah terbayangkan. At that point of time, saya tidak pernah menyangka bahwa gerbang menuju cita-cita saya terbuka dengan begitu cepat. It was, simply, surreal.
Belajar Ilmu Ekonomi di North Carolina State University
“We’re the Red and White from State,
And we know we are the best.
A hand behind our back,
We can take on all the rest…”
(The Red and White Song by J. Perry Watson) *1
Setelah mendapatkan tawaran dari beberapa universitas, saya memutuskan untuk bergabung dengan NC State University. Universitas ini merupakan bagian dari The University of North Carolina *2 . Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 34.000, NC State merupakan universitas terbesar di negara bagian North Carolina. Berumur lebih dari 125 tahun, universitas ini juga merupakan universitas publik yang cukup terkemuka di Amerika Serikat dengan program yang terkenal antara lain: College of Textile, College of Engineering, dan Department of Statistics —yang tersohor karena salah satu alumni departemen tersebut merupakan pembuat software statistika yang sangat populer, yaitu SAS (Statistical Analysis System).
Di universitas ini, saya memilih untuk bergabung dengan Department of Economics, di bawah Poole College of Management. Keputusan saya untuk mengambil program doktoral Ilmu Ekonomi di NC State didasarkan oleh reputasi program yang cukup baik, terutama untuk spesialisasi Ekonometrika, Ekonomika Lingkungan, dan Ekonomika Sumber Daya Alam. Adapun faktor lain yang mendorong saya untuk menerima tawaran dari NC State University adalah konsorsium antara Departemen Ilmu Ekonomi di NC State University, University of North Carolina-Chapel Hill, dan Duke University. Dengan konsorsium ini, mahasiswa doktoral di setiap program diperbolehkan mengambil mata kuliah di kedua universitas yang lain. Tidak hanya itu, ketiga departemen juga memiliki research triangle initiative untuk bidang minat Ekonometrika yang memungkinkan mahasiswa untuk memanfaatkan resources dan expertise di program lain —yang tidak dimiliki oleh program di mana ia tergabung.
Dilihat dari struktur program, program doktoral Ilmu Ekonomi di NC State tidak berbeda dengan program doktoral Ilmu Ekonomi yang lain di Amerika Serikat. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Bapak Eddy (Eddy Junarsin, Ph.D. –red) di beberapa edisi EB News yang lalu, mahasiswa program doktoral harus menjalani courseworks di dua tahun pertama program doktoral. Beberapa courseworks “standar” yang harus diambil oleh mahasiswa doktoral Ilmu Ekonomi adalah Teori Mikroekonomi, Teori Makroekonomi, dan Ekonometrika. Selain itu, mahasiswa juga sangat disarankan untuk mengambil beberapa mata kuliah dari Department of Mathematics dan Department of Statistics—seperti Advanced Calculus, Real Analysis, Topology, dan Bayesian Inference. Tidak hanya diwajibkan menjalani courseworks, setiap mahasiswa doktoral juga harus melewati ujian komprehensif tertulis, yaitu core courses (Teori Mikroekonomi dan Teori Makroekonomi) di akhir tahun pertama, dan field courses (atau mata kuliah bidang minat) di tahun kedua. Setelah melewati beberapa ujian tersebut, barulah mahasiswa doktoral bisa menyandang “gelar” Ph.D. Candidate dan diperkenankan untuk melanjutkan studi ke tahap riset.
The Journey So Far
Baru dua bulan memulai program doctoral –tingginya standar dan ekspektasi staf pengajar dan tekanan akademis luar biasa yang menyeruak tatkala melihat statistik ujian komprehensif– bisa dibilang sangat depressing. Tahun lalu, hanya 30 persen mahasiswa doktoral Ilmu Ekonomi lulus ujian komprehensif dalam percobaan pertama. Sebagai catatan, jika mahasiswa tersebut kembali gagal pada percobaan kedua, maka ia tidak diperkenankan melanjutkan studi S3 dan hanya diluluskan dengan gelar Master of Arts pada tahun kedua. Oleh sebab itu, di akhir kata —selain meminta maaf jika ada perkataan dan ucapan yang kurang berkenan di dalam artikel ini— saya juga sangat memohon doa dan dukungan dari seluruh sivitas akademika FEB UGM agar dapat melalui seluruh tahapan studi dengan baik dan dapat kembali membagi cerita dan berita melalui EB News di lain kesempatan.
*1) Biasanya dinyanyikan oleh suporter NC State pada athletic atau sport events antaruniversitas.
*2) Merupakan sistem pendidikan tinggi negeri di North Carolina dan terdiri dari 16 institusi diantaranya: NC State University, UNC Chapel-Hill, UNC Charlotte, UNC Greensboro, NC A&T University, NC Central University, dan East Carolina University.









