News From Abroad 


L'éducation égale et amicable pour tous
(Pendidikan yang Merata dan Ramah Untuk Semua)


“Bonjour”, “Bonjour à tous!” Itulah kata-kata yang paling sering saya dengar di telinga sejak menginjakkan kaki pertama kali di Perancis pada Oktober 2010 sampai hari ini. Begitu mendengarnya, tentu sebagian kita serta merta membayangkan le vin, la tour Eiffel, atau cantiknya tata kota di negara berpenduduk sekitar 65 juta jiwa ini. Tulisan berikut akan memaparkan kesan yang saya dapat terutama dari sisi kebijakan pendidikan dan dampak yang dirasakan oleh warga negara Perancis.

Usai perjalanan udara selama 15 jam dengan rute JOG-KUL-CDG, memasuki terminal kedatangan (terminal d'arrivée) di Paris pandangan pertama tertuju pada  bangunan bandara CDG yang tampak berumur panjang tetapi fungsional dan kokoh. Antrian imigrasi cukup panjang sehingga perlu 45 menit untuk sampai di depan loket petugas imigrasi karena jumlah penumpang yang banyak. Setelah di depan petugas, tak sampai 30 detik paspor sudah distempel dan cleared! Bienvenue en France (Selamat datang di Perancis).  Proses pengambilan bagasipun begitu sederhana dan cepat,  tidak ada prosedur pemeriksaan oleh petugas bea cukai ataupun yang berwajib (sambil membayangkan kalau di negara kita tak ada baggage check). Bahkan tak ada dokumen yang perlu kita isi di tempat itu. Keluar dari bandara, beberapa pilihan mode transportasi untuk membawa kita ke tempat tujuan yang telah tersedia. Bagi pendatang yang harus melanjutkan perjalanan ke kota lain, kereta adalah pilihan utama. Untuk sampai ke Gare d’Austerlitz (salah satu stasiun besar di Paris) yang menyediakan kereta-kereta menuju Perancis Selatan,  ada taksi saat kita harus mengejar jadwal keberangkatan kereta yang berhimpitan dengan jadwal kedatangan pesawat. Jika kita tak ingin berjalan kaki terlalu jauh dan mendorong-dorong  bagasi yang berat dengan tarif  relatif mahal (50€), ada shuttle bus bagi kita yang memiliki waktu luang (tidak terburu-buru) dengan harga tiket yang relatif terjangkau(10€), atau metro (kereta bawah tanah) yang dikenal sangat efisien, bebas macet, dan relatif murah (1,7€). Transportasi manapun yang kita pilih, petugasnya akan melayani dengan ramah. Kalaupun kita kebetulan bertemu petugas atau supir taksi yang sedikit bisa berbahasa Inggris, cukup tunjukkan tiket kereta Anda dan mereka tak akan memutar-mutar kota untuk sampai ke stasiun tujuan. Singkat kata, begitu kereta berjalan, kesan yang muncul kemudian adalah meskipun Perancis yang  bagi sebagian orang dianggap negara tua (dilihat dari distribusi usia penduduk dan kota-kota yang di didominasi bangunan tua), namun di sisi lain negara ini menunjukkan kepemimpinannya dalam pengembangan teknologi kereta cepat yang melaju lebih senyap dengan layanan akses broadband sepanjang perjalanan.

Bagi sebagian orang asing, menguasai bahasa Perancis adalah sesuatu yang sulit. Ada yang mengatakan hal ini karena apa yang ditulis seringkali berbeda dengan apa yang diucapkan. Namun, sebagian berpendapat Anda seharusnya menulis kata-kata dengan cara penulisan terbaik dan mengucapkannya dengan pengucapan tercantik. Tak mengherankan, seorang teman memerlukan waktu empat tahun untuk dapat berbicara dengan lancar seperti native. Untuk persiapan studi, banyak mahasiswa Indonesia yang memerlukan 1-2 semester sebelum berangkat melanjutkan studi ke Perancis. Orang Perancis juga sangat terkenal menjunjung tinggi bahasanya yang bagi sebagian orang asing sulit untuk memahami pola kalimatnya, tetapi kabar baiknya adalah 30% kata-kata bahasa Inggris adalah serapan dari bahasa Perancis (dan banyak kemiripan dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia seperti kado, plafon, tante, sore, dll). Dengan kata lain banyak kata-kata Perancis yang cukup familiar bagi kita.

Sistem pendidikan di Perancis secara umum dibagi tiga tingkatan yaitu pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, sama seperti di negara lain. Sekolah berlaku wajib bagi anak berumur 6 tahun ke atas meskipun banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya lebih dini ke maternelle (TK –red) untuk mengajari keterampilan dasar sebelum masuk jenjang pendidikan wajib.  Karena sifatnya wajib, pemerintah bertanggung jawab penuh terhadap biaya pendidikan, termasuk status dan kompensasi bagi pengajar. Motto liberté, égalité, fraternité sangat tampak dalam banyak aspek. Misalnya, pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara, oleh karena itu semua anak umur sekolah berhak mendapatkan pendidikan dengan segala fasilitasnya tanpa seleksi masuk, uang gedung atau uang pendaftaran bagi calon siswa. Tidak ada kategori sekolah favorit atau non favorit karena semua sekolah mempunyai standar kualitas yang sama, sehingga siswa disarankan untuk masuk ke sekolah di daerah setempat (kecamatan) sesuai alamat tempat tinggal masing-masing. Meskipun jarang terjadi,  calon siswa bisa ditolak jika memang kapasitas kelas di sekolah yang paling dekat dengan rumah sudah terpenuhi dan ia akan direkomendasikan ke sekolah kedua yang terdekat, begitu seterusnya. Yang membuat anak-anak senang adalah hari sekolah hanya Senin, Selasa, Kamis dan Jum’at serta tidak ada ujian naik kelas karena proses evaluasi dan feedback tertulis termasuk kepada orang tua siswa dilakukan secara kontinu dengan interval satu bulan sekali. Dari pengalaman kami sebagai orang tua yang menemani anak belajar di tingkat pendidikan dasar, beban belajar siswa di Perancis lebih ringan dibandingkan dengan beban belajar siswa di Indonesia. Misalnya, anak kelas tiga SD akan mendapat tujuh pelajaran dengan fokus pada kemampuan berhitung dan berbahasa. Guru memberi pekerjaan rumah dalam jumlah sedikit namun kontinu, satu soal satu hari, sehingga siswa tetap belajar tanpa merasa terbebani dengan tugas yang banyak.

Biaya sekolah, terutama SD hingga SMA, yang ditanggung orang tua siswa di Perancis sangat murah karena sebagian besar biayanya ditanggung pemerintah. Tidak ada biaya registrasi per semester atau biaya buku. Jika sekolah mengadakan trip, siswa hanya membayar 10-20% dan sisanya disubsidi pemerintah. Demikian juga, kantin sekolah yang menyediakan makan siang bagi siswa tidak mewajibkan pembayaran makan siang (déjeuner) pada saat itu. Meskipun siswa dapat memilih untuk makan siang di rumah atau di kantin sekolah, namun sebagian besar memilih makan siang di sekolah yang harganya yang sangat murah dan pembayarannya dilakukan secara periodik melalui departemen keuangan dan nilainya disesuaikan dengan tingkat penghasilan keluarga. Untuk menu yang sama, keluarga yang berpenghasilan rendah bisa dikenakan tarif seperlima dari tarif keluarga berpenghasilan tinggi. Ini juga menjadi semacam subsidi silang tak langsung antarsiswa dari keluarga dengan beragam tingkat penghasilan.  Sekolah menyediakan staf khusus untuk menemani para siswa yang datang lebih awal ataupun pulang lebih akhir dari jam sekolah tanpa dipungut biaya. Fasilitas ini sangat menguntungkan bagi para orang tua siswa yang bekerja atau tidak dapat menjemput anaknya tepat waktu.

Akses pendidikan yang murah dan mudah juga dapat kita temui di level pendidikan tinggi seperti  tak ada ujian/seleksi masuk, biaya pendaftaran atau biaya masuk  (untuk S1). Sebagai informasi, meskipun terdapat PTS di Perancis yang mendapat sebagian besar sumber dana dari industri atau yayasan dan menunjukkan peningkatan jumlah mahasiswa, PTN masih menjadi pilihan utama bagi hampir semua siswa. Biaya SPP, misalnya, berkisar antara 300-700€ per tahun termasuk biaya asuransi kesehatan. Dengan kata lain, mahasiswa menanggung tuition fee sepersepuluh sampai seperduapuluh lebih murah dibanding pendidikan di negara maju yang lain! Bagi sebagian kritikus, pendidikan gratis dan tanpa seleksi masuk sering dikaitkan dengan menurunnya motivasi belajar dan kurang bersaingnya lulusan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa selain seiring dengan semangat égalité dan fraternité, sistem ini diyakini mampu memberi hak pendidikan bagi semua dan dapat menjadi salah satu usaha untuk memutus rantai kemiskinan. Bagi mahasiswa dari keluarga tak mampu, tersedia beasiswa untuk biaya hidup bagi yang memenuhi syarat dan bahkan subsidi biaya tinggal terutama di apartemen yang dikelola badan pemerintah. Beasiswa ini umumnya berlaku untuk semua mahasiswa tanpa membedakan status warga negaranya. Besar sekali anggaran dari pemerintah untuk pendidikan! Dengan anggaran pendidikan sekitar 60€ miliar per tahun (atau sekitar 5,6% dari PDB dibandingkan 3 sampai 3,8% di Indonesia) wajar saja dosen/peneliti di PTN Perancis mendapat kompensasi antara 2.300€ – 6.000€ per bulan (tergantung pangkat/golongan) sementara kompensasi guru sekolah dasar bahkan dapat melebihi kompensasi dosen PTN tersebut.

Kesan égalité juga dapat dilihat dari keragaman latar belakang etnik maupun agama di sekolah dan di berbagai institusi. Meskipun demikian, data mengenai agama dan etnik memang tidak diperbolehkan ditanyakan dalam bentuk apapun sejak 1870 (La Troisième République). Yang menarik, sejak Maret 2004, simbol dan pengajaran agama di sekolah tidak diperbolehkan dengan tujuan untuk mencegah adanya ajakan untuk pindah agama dan untuku menguatkan toleransi antaretnik.  Sehingga, di sekolah yang ada bukan pelajaran agama tetapi L'éducation civique (mirip PPKN) yang mengajarkan la République, fungsi dan organisasi republik/negara, hak dan kewajiban warga negara serta falsafah liberté, égalité, fraternité. Di sisi lain, menurut sebagian politikus (libertarian) dan agamawan, pelarangan itu justru bertentangan dengan prinsip liberté yaitu bahwa hukum seharusnya tidak menghalangi kebebasan warga negara untuk menjalankan ajaran agamanya.

Sebagai salah satu negara yang menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai kependidikan, Perancis telah membuktikan kemampuan dalam menyediakan layanan publik (pendidikan) yang ramah bagi setiap orang tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Saya bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu peserta pendidikan tinggi di Perancis. Oleh karena itu bagi rekan-rekan seperjuangan, mari berusaha memanfaatkan kesempatan untuk belajar dan memberi sedikit kontribusi bagi negeri kita. Hal penting yang harus dimiliki adalah niat, tabah & kerja keras. Vouloir, c'est pouvoir! (à bientôt)

Penulis : Bowo Setiono, M.Com.

 
 
godaddy counter