Student Corner 


Mathias Mahendra

Mahasiswa Berjiwa Bisnis Sejati



Sudah banyak mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang mengikutsertakan proposalnya dalam Program Kreativitas Mahasiswa, beberapa di antaranya berhasil membawa pulang medali. Mathias Mahendra (Manajemen 2009) menjadi salah satunya. Ia dan timnya yang mengangkat bisnis Kopi Bekatul (Ricebran Coffee) berhasil menggondol medali emas pada PIMNAS 2011 di Makassar.

Perjalanan Menuju Medali Emas

Hendra, nama sapaannya, telah dua kali mengikuti PKM Kewirausahaan. Ia pertama kali diajak oleh kawannya untuk bergabung dalam tim yang mengangkat tema kaos kesehatan, pada PKM tahun 2009. “Waktu itu saya belum niat karena nggak tahu tentang PKM,” ujarnya sambil tertawa. Namun, Hendra dan tim berhasil masuk final PIMNAS meskipun belum mendapat mendali.

Kekalahan pada PIMNAS tersebut ingin dibayarnya dengan mengikuti PKM pada tahun selanjutnya. Kali ini ia bersama empat orang dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) mengajukan tema Kopi Bekatul. Hendra sendiri bertindak sebagai pihak manajemen yang mengurus perizinan, manajemen keuangan, peralatan, pelaporan, karyawan, dan sebagainya.

Tema ini diangkat karena bekatul dianggap memiliki potensi, meskipun orang mengasumsikannya sebagai sampah ataupun pakan ternak. Namun, menurut hasil penelitian, bekatul ternyata mengandung vitamin dan juga zat penetralisir kopi. “Kan kopi itu memicu jantung dan penyakit-penyakit lainnya. Nah, racun itu di kopi, madu itu di bekatul,” terang Hendra. Dari sinilah ide Ricebran Coffee berasal.

Keunikan produk dan rasa penasaran konsumenlah yang membuat produk ini dikenal luas. Ini pula yang membawa tim Hendra diliput media-media nasional. Produk mereka pernah diliput oleh Trans 7 dan TV One, sebagai sebuah berita eksklusif selama tiga puluh menit, serta media online seperti Okezone dan Detik.com. Pada akhirnya, mereka dapat meraih medali emas di PIMNAS 2011 karena menang dari segi marketing yang sudah mencapai skala nasional dan manajemen yang bagus.

Hendra berpendapat, PKM merupakan program yang bagus dan mendidik jiwa kewirausahaan mahasiswa. Setiap tahunnya, ratusan proposal masuk dan diseleksi. Proposal yang lolos tahapan prafinal –dengan persetujuan DIKTI– dan masuk final/presentasi akan mendapatkan dana untuk menjalankan ide tersebut. Dana stimulan ini mendidik mahasiswa untuk bertanggung jawab melaksanakan apa yang sudah direncanakannya. “Masa sudah dikasih uang, malah dikonsumsi (sendiri). Program ini mendorong orang untuk berusaha dan mencoba,” ujarnya. Praktiknya, menurut Hendra, banyak pula bisnis hasil mengikuti PKM yang memiliki omset hingga ratusan juta.

Banting Stir

Siapa sangka, Hendra yang dikenal cerdas dalam bidang manajemen ini dulunya berjuang di jalan sains. Sejak SD hingga SMA, ia selalu terlibat dalam kompetisi berbau sains. Ia pun pernah memenangkan medali olimpiade saat SMP dan SMA. Bahkan, ia telah diterima di jurusan Matematika UGM melalui PMDK tahun 2008. Hendra sendiri bahkan mengaku tidak terlalu menggemari pelajaran berbau sosial. “Dulu kalau remidi pasti remidi IPS atau PPKN,” tukasnya.

Baru kemudian saat semester pertama berkuliah, kesadaran akan cintanya pada dunia bisnis membawa Hendra ke FEB UGM. Suatu hari di tahun pertama itu, Hendra yang sedang memberikan les sains pada adik kelas, ditanya seputar informasi rumah yang sedang dijual. Ia memberikan informasi tersebut dan tanpa Hendra sadari, ia telah menjadi makelar penjualan rumah itu. Ia pun terkejut ketika mendapatkan komisi. Dari situlah, ia berminat pada dunia bisnis dan memutuskan untuk pindah ke jurusan Manajemen.

Hendra pun menemukan bahwa passion-nya ada di jurusan ini. Sejak itu, ia mendalami ilmu manajemen sembari mencoba-coba beberapa bisnis. “Makelar, jual beli mobil, saham, jual beli barang antik, sudah pernah saya coba semua. Sekarang yang masih adalah bisnis deterjen dan perkebunan,” terangnya. Uang yang sudah terkumpul dari bisnis-bisnis yang dijalaninya, dibelikan kebun, hingga sekarang ia sudah memperoleh sepertiga hektar.

Ia sendiri bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang juga seorang dosen atau guru. “Kalau cita-cita kan harus menantang, yaitu pengusaha. Kalau dosen atau guru, jika ada peluang ya tidak apa-apa, untuk pengabdian karena saya suka mengajar,” ungkap Hendra yang ternyata orang tua dan kakek neneknya adalah guru.

Ilmu manajemen tidak hanya dipraktikkan di bisnis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, yaitu manajemen waktu. Ia belajar memilah dan memilih kegiatannya. Dari manajemen waktu itu, Hendra berpendapat, ada pelajaran yang didapatkannya. “Dunia boleh bulat, tetapi kehidupan pasti piramida: yang sukses berada di puncak piramida. Menjadi yang sedikit berarti menjadi yang unik dan untuk sukses itu harus melakukan hal yang berbeda dari biasanya. Menjadi yang sedikit itu juga memiliki competitive advantage tersendiri,” tutup Hendra. [prima]

 
 
godaddy counter