Who's Who
Prasetyo Supono
Menuntut Ilmu Adalah Kehidupan: "Life Begins at 70"
Selalu ingin memperbaiki diri dengan memperbarui apa yang pernah dipelajari dan mempelajari hal-hal baru dengan berbagai cara bahkan saat usianya tak muda lagi, itulah pedoman Prasetyo Supono yang dijulukinya, "Life Begins at 70."
Wajah yang berseri-seri dalam usia yang tak muda lagi, Prasetyo menceritakan dengan semangat yang membara tentang gagasannya tersebut. "(Life Begins at 70) itu karena pada usia 70-an saya baru akan bisa masuk perpustakaan New York University (NYU) via cucu saya yang baru saja diterima di sana memakai ID-nya," ujranya. Dosen Jurusan Manajemen FEB UGM ini selalu memperhatikan tren yang ada. Walaupun usianya sudah berkepala tujuh, dia masih membaca berbagai buku via internet ataupun fasilitas kindle (e-book). Dia selalu berprinsip bahwa belajar tak mengenal umur. Begitu pula dengan sikapnya yang tak malu bertanya pada rekan dosen yang lebih muda.
Pengalaman mengajar selama 46 tahun telah memberikan berbagai pengalaman dalam penilaian sistem pengajaran yang baik. Dulu, sistem pengajaran yang dipergunakan adalah sistem pengajaran bebas di mana absensi tidak ada bagi mahasiswa dalam sistem perkuliahan tahunan. "Hanya orang yang super saja yang dapat mengatasi sistem pengajaran bebas," tambahnya.
Baginya, sistem pengajaran yang baik adalah sistem yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas, selain juga kedisiplinan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Kelemahan bahan pembelajaran yang hanya bersifat teoretis harus dilengkapi dengan usaha untuk mengundang sejumlah pembicara tamu yang menggantikan jam-jam kuliah agar mahasiswa mendapat pengalaman (insight) serta wawasan lebih luas dari para praktisi bisnis. Prasetyo menyoroti juga waktu perkuliahan yang menurutnya terlampau panjang. Seharusnya, sesi perkuliahan yang ideal hanya satu jam saja untuk mengoptimalkan daya tangkap mahasiswa yang terbatas.
Melihat persaingan global yang semakin ketat, mahasiswa saat ini menurut Prasetyo harus bekerja keras dalam meningkatkan performa akademik serta keterampilan-keterampilan teknis yang diperlukan. Penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang banyak dipergunakan serta bahasa-bahasa asing lainnya diperlukan pula sebagai modal untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri dan juga memasuki berbagai bidang pekerjaan, termasuk di perusahaan mulitinasional.
Pengajar yang memperoleh gelar doktoralnya di Tenessee University, Amerika Serikat ini mengemban amanah sebagai pengajar dengan sikap profesional. Semua mata kuliah yang diberikan padanya akan diterimanya dengan senang hati, meskipun dia sendiri merasa tidak cocok untuk mengajar mata kuliah tersebut. Hal inilah yang diharapkannya terjadi pula pada dosen-dosen lainnya terutama yang lebih muda di FEB UGM. "Bagi mereka yang tough grader, rubahlah kebiasaan itu menjadi lenient grader dengan menganggap bahwa tiap kelas yang diasuh berbeda-beda prestasinya. Dosen harus memiliki kesan yang baik karena dosen tidak hanya dinilai oleh prestasi akademiknya saja, tetapi juga oleh koleganya," pesannya. [dwi andi]









