EBNEWS - Suara seseorang yang terdengar di telepon sebenarnya hanya berupa kumpulan bits 0 dan 1. Luar biasanya, sistem bit menjadikan kita dapat mengenali pemilik suara dengan baik. Hal ini juga berlaku untuk komputer. Sayangnya, walau lebih dari 500 tahun akuntansi telah dikaruniai pengetahuan debet kredit tetapi kontribusinya belum optimal dalam kehidupan.

KRISIS & GELOMBANG REFORMASI

Krisis ekonomi dan keuangan merupakan fakta buruk yang berpeluang terjadi lagi di masa datang. Banyak faktor yang menyumbang terjadinya krisis (lihat Holthausen 2009; Ball, 2009). Pemerhati akuntansi sepatutnya bertanggungjawab atas terjadinya skandal keuangan dan berbagai tragedi keuangan yang menyebabkan krisis karena sistem perekonomian dewasa ini diukur secara keuangan. Sebagai bidang ilmu, akuntansi diharapkan menyajikan informasi keuangan yang dapat mencegah, mendeteksi, dan mengoreksi berbagai kesalahan yang terjadi.

Sayangnya, realitas berbeda dari harapan. Kalau pada awal abad 20 akuntansi mendapat serangan dari pakar non-akuntansi (Hatfield, 1924), saat ini akuntansi justru mendapat serangan dari dalam (Hopwood, 2007; Demski, 2007; Fellingham, 2007; Ball, 2008). Bahkan, pemerhati akuntansi Basu (2008) meminta beberapa pakar akuntansi untuk mendiskusikan topik "What is the most important accounting issue where we either think we understand it but in fact do not or have failed to consider the issue in anywhere near the depth it deserves?"

Gagasan untuk melakukan perubahan akuntansi sebenarnya sudah dimulai (Arnold, 2009; Mosso, 2010). Juga, saat ini dewan standar akuntansi IASB dan FASB bekerjasama mengimplementasikan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang diharapkan berlaku secara global. Namun, gagasan-gagasan tersebut masih layak dipertanyakan keefektifannya, terutama implementasi IFRS, karena sulit meyakini bahwa 1 standar universal dapat menyelesaikan berbagai isu akuntansi yang dinamis. Disamping itu, hingga sekarang belum ada contoh standar yang berlaku secara global. Sebaliknya, beberapa industri, seperti misalnya telekomunikasi dan komputer, menggunakan beberapa standar yang berbeda tetapi justru dapat berinteraksi dengan baik.

AKUNTANSI DAN SEJARAHNYA

Setiap insan pemerhati akuntansi berhak sekaligus mengemban amanah untuk menggagas reformasi akuntansi. Berbeda dari gagasan-gagasan sebelumnya yang mengandalkan pemikiran masa kini, penulis mengajukan gagasan reformasi akuntansi berlandas pada sejarah akuntansi itu sendiri.

Akuntansi terdokumentasi di buku Matematika berjudul Summa de Arithmetica, Geometria, Proportioni et Proportionalita (Summa) oleh Luca Pacioli sebagai profesor matematika yang mengajar selama 30 tahun dan menerbitkan banyak buku matematika (Sangster et al., 2007) pada 516 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1494 (Peters and Emery, 1978; Weis and Tinius 1991).

Sayangnya, pengembangan akuntansi modern menunjukkan adanya sinyal pengingkaran terhadap sejarahnya. Pertama, Pacioli lebih dikenal sebagai tokoh agama ataupun pedagang, dibanding sebagai mathematician. Kedua, keberadaan akuntansi di buku Summa lebih dipandang sebagai ketidaksengajaan. Ketiga, pemerhati akuntansi lebih tertarik mengklaim akuntansi sebagai "language of business". Keempat, pemerhati akuntansi menganggap double entry bookkeeping "hanya" sebatas warisan kuno yang terpaksa dilestarikan. Kelima, pengembangan akuntansi mengutamakan kepatuhan terhadap standar dan aturan. Pengembangan ilmu yang mengabaikan sejarah berisiko gagal. Terjadinya krisis ekonomi dan keuangan global dapat menjadi gambaran kegagalan akuntansi. Pengembangan akuntansi yang berakar pada sejarah, sebaliknya, berpeluang sukses.

REFORMASI BERBASIS MATEMATIKA

Di samping berakar pada sejarah, gagasan reformasi akuntansi berbasis matematika memberi banyak manfaat (lihat Warsono-bin-Hardono, 2010): Menegakkan kembali hukum dasar akuntansi. Fisika mengenal hukum "Reaksi samadengan Aksi" maka akuntansi memiliki hukum yang selama ini diabaikan, yaitu "Penggunaan dana samadengan Pemerolehan dana". Akuntansi modern lebih suka menggunakan hukum "Sumberdaya samadengan Sumberdana", padahal tidak semua sumberdana berwujud sumberdaya (aset), tetapi dapat diwujudkan langsung dalam pengorbanan (biaya).

Mengungkap "kecerdasan yang dibungkus dengan kearifan". Debet itu kiri sedangkan kredit itu kanan. Peters and Emery (1978) berpendapat bahwa debet kredit digunakan karena pada masa itu angka negatif belum digunakan. Sebagian besar pakar menyimpulkan bahwa debet kredit digunakan karena kesepakatan. Penulis berpendapat bahwa akuntansi menggunakan debet kredit karena 2 alasan. Pertama, akuntansi mendasarkan diri pada persamaan aljabar. Kedua, akuntansi menggunakan alat ukur berupa nilai moneter yang tidak mengenal angka negatif. Oleh karena ketiadaan nilai negatif di satuan moneter maka old but true accounting scholars menyajikan nilai negatif dengan cara memindahkan ke sisi lain dalam persamaan aljabar. Misalnya, minus 5 (-5) di sisi debet persamaan dapat dituliskan menjadi plus 5 (+5) di sisi kredit. Menariknya, cara berpikir matematika ini juga menjadikan mekanisme debet kredit yang selama dianggap sesuatu yang harus dihafalkan oleh setiap pembelajar ternyata dapat dijelaskan secara logis dan mudah.

Mengidentifikasi Keterbatasan Standar. Menggunakan cara berpikir matematika, standar akuntansi keuangan yang telah berlaku lebih 25 tahun dapat diidentifikasi keterbatasannya. Sebagai contoh, transaksi barter terlewatkan oleh standar akuntansi keuangan sehingga berpeluang terjadinya earnings management. Menariknya, transaksi barter merupakan fenomena yang semakin sering dipraktikkan di bisnis.

Mengajukan Solusi atas Isu-isu Terkini. Menggunakan cara berpikir matematika, akuntansi berpotensi untuk dikembangkan agar dapat menghasilkan informasi keuangan yang reliable sekaligus relevant, dan menyajikan informasi yang bermanfaat bagi stakeholders, bukanhanya stockholders.

SEGITIGA PENGEMBANGAN AKUNTANSI

Teknologi informasi (TI) dan akuntansi memiliki kesamaan dasar; keduanya berfungsi menyediakan informasi, dan keduanya berlandas matematika. Lebih mudah menganggap sistem bit (binary digits) sebagai aplikasi matematika dibanding sekedar "kesepakatan", bukan? Di sisi lain, TI dan akuntansi memiliki perbedaan yang nyata. Di usianya yang relatif muda, peran TI semakin disegani seiring dengan semakin banyak individu mengandalkan TI untuk kehidupan, sedangkan di usia yang sudah mapan peran akuntansi justru dienggani seiring dengan penerapan akuntansi hanya jika dipaksakan oleh aturan.

Akuntansi selama ini diperlakukan sebagai ilmu atau teknologi sosial. Contoh teknologi sosial adalah lampu lalu-lintas. Dalam kondisi normal, lampu lalu-lintas berfungsi secara otomatis. Namun, polisi dapat melakukan intervensi dengan meniadakan fungsi lampu lalu-lintas jika ada "pihak penting" akan muncul. Persoalannya, intervensi di akuntansi harus diminimalkan karena menjadi sifat dasar manusia untuk melakukan intervensi jika berkaitan dengan keuangan. Jika intervensi mudah dilakukan maka akuntansi tidak lagi dapat diandalkan menyajikan realitas ekonomi.

Pengembangan akuntansi seharusnya berlandas 3 pilar utama. Pilar pertama berupa ilmu mapan, yaitu pengetahuan yang ditemukan manusia (bukan yang dibuat manusia). Pilar kedua berupa prinsip dasar yang dikembangkan berdasar kesepakatan. Dan pilar ketiga berupa rancang-bangun (seni) agar akuntansi dapat memberi kontribusi sesuai kebutuhan individu. Model ini dikembangkan berdasar perjalanan sejarah akuntansi sendiri. Awal pengembangan akuntansi, the founder mendasarkan pada pilar matematika (ilmu mapan). Dalam perjalanannya pengembangan akuntansi lebih berfokus pada seni (pilar rancang-bangun) dan selanjutnya bergeser sebagai ilmu sosial (pilar prinsip dasar). Sudah saatnya pemerhati akuntansi mengembangkan akuntansi berdasar ketiga pilar secara seimbang. TI berhasil dikembangkan berlandar tiga pilar secara seimbang, dengan pilar pertama sebagai pegangan utama dalam pengembangan pilar prinsip dasar dan rancang-bangun.

UNTUK KITA RENUNGKAN

Baik sebelum maupun sesudah Isaac Newton menemukan teori gravitasi, buah apel tetap jatuh ke bawah. Seandainya jatuhnya buah apel dipersepsikan sebagai "takdir" ataupun adanya "invisible hand" yang tidak menarik untuk dikaji, mungkin manusia sekarang belum menikmati pesawat terbang dan berbagai teknologi canggih lainnya. Sudah saatnya pemerhati akuntansi mempersepsikan mekanisme debet kredit sebagai cerminan dari ilmu mapan, yaitu matematika, dan termotivasi mengembangkan akuntansi berlandas matematika dengan sky as the limit.

Seperti halnya ilmu sosial lainnya, akuntansi dewasa ini terlalu fokus pada pengembangan standar dan aturan. Dianalogikan, 3 garis lurus yang panjangnya tidak proporsional (misal: 3m, 5m, dan 20m) maka tidak mungkin menghasilkan segitiga yang ideal. Oleh karena itu, reformasi akuntansi harus dilakukan berdasar 3 (tiga) pilar secara seimbang dengan pilar matematika sebagai pilar utama. Keberhasilan dalam mengembangkan akuntansi secara seimbang ini dapat memotivasi ilmu-ilmu sosial maupun eksakta lainnya di kampus biru ini untuk berlomba menemukan ilmu mapan yang betul-betul betul.

Jika diantara pembaca masih ragu atas keterkaitan akuntansi dan matematika, mungkin dapat belajar dari Soren, the owl dalam film Legend of the Guardians, yang meyakini bahwa "kisah (sejarah) yang diceritakan, meskipun tidak dapat ditemu-kenali jejaknya, bukan berarti tidak riil". Kalau akuntansi jelas-jelas terdokumentasi di buku matematika oleh profesor matematika, mengapa kita justru lebih suka mengabaikannya?

 

DAFTAR PUSTAKA

Arnold, P.J. 2009. Global financial crisis: The challenge to accounting research. Accounting, Organizations and Society, 34: 803-804.
Ball, R. 2008. What is the actual economic role of financial reporting? Accounting Horizons, 22: 427-432.
Ball, R. 2009. Market and political/regulatory perspectives on the recent accounting scandals. Journal of Accounting Research. 47: 277-323.
Basu, S. 2008. Panel on big unanswered questions in accounting-Genesis. Accounting Horizons, 22: 425-426.
Demski, J.S. 2007. Is accounting an academic discipline? Accounting Horizons, 21: 153-157.
Fellingham, J.C. 2007. Is accounting an academic discipline? Accounting Horizons, 21: 159-163.
Hatfield, H. R. 1924. An historical defense of bookkeeping. Journal of Accountancy, 241-253.
Holthausen, R.W. 2009. Accounting standards, financial reporting outcomes, and enforcement. Journal of Accounting Research. 47: 447-458.
Hopwood, A.G. 2007. Whither accounting research? The Accounting Review. 82: 1365-1374.
Mosso, D. 2010. Transparency unveiled: Financial crisis prevention through accounting reform. Accounting Horizons, 24: 95-107.
Peters, R.M. & Emery, D.R. 1978. The role of negative numbers in the development of double entry bookkeeping. Journal of Accounting Research, 16: 424-426.
Sangster, A., Stoner, G.N., & McCarthy, P.A. 2007. Lessons for the classroom from Luca Pacioli. Issues in Accounting Education, 22: 447-457.
Warsono-bin-Hardono, S. 2010. Reformasi Akuntansi: Membongkar Bounded Rationality Pengembangan Akuntansi. Asgard Chapter. Facebook/email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Weis, W.L. and Tinius, D.E. 1991. Luca Pacioli: Renaissance accountant. Journal of Accountancy, November: 91–102.

---

Artikel Dosen: Menggagas Reformasi dari Kampus Biru
Dimuat pada majalan EBNEWS Edisi 7 Tahun 3