EBNEWS - (Angin musim semi terasa segar
Bulan musim semi terang kemilau
Daun berguguran, awanpun buyar
Hati rindu bertemu, tak sabar lewati waktu
)

Puisi di atas merefleksikan perasaan sukacita Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) di sepanjang bulan Maret tahun ini. Bulan Maret senantiasa dinantikan karena merupakan permulaan musim semi yang indah dan bergairah. Di bulan yang sama ini, FEB UGM baru saja menerima official visit tiga orang asesor dari badan akreditasi internasional Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB), yaitu Prof. Gonzalo Garland, Prof. Fernando d’Alessio, dan Prof. Kwei Tang. Impresi ciamik dan komentar konstruktif yang diberikan ketiga reviewers tersebut membangkitkan optimisme yang luar biasa bagi segenap civitas akademika FEB UGM. Bila tidak ada aral melintang, keputusan final yang akan diumumkan pada bulan Mei 2014 niscaya akan menjadi klimaks perjuangan FEB UGM sejak 2005 untuk meraih akreditasi internasional bergengsi ini; sebuah perjalanan panjang yang melewati empat periode dekanat yaitu Prof. Ainun Na’im, Prof. Marwan Asri, Prof. Lincolin Arsyad, dan Prof. Wihana Kirana Jaya.

Makna Sebuah Perjuangan Panjang

Berbagai pihak, khususnya di awal proses akreditasi, bertanya-tanya mengenai manfaat konkret yang akan dinikmati oleh mahasiswa dan dosen FEB UGM setelah terakreditasi oleh AACSB. Sebenarnya ini bukan hal yang unik untuk FEB UGM saja. Pada tahun 2007, ketika saya memperoleh kesempatan menjadi visiting professor di Hochschule Pforzheim, seorang profesor senior yang juga Ketua Jurusan Controlling mempertanyakan hal serupa dan bahkan melancarkan covert complaints kepada Dekan. Beberapa tahun kemudian, sekolah tersebut akhirnya terakreditasi, tentunya setelah melewati proses panjang konsolidasi internal dan perbaikan eksternal.

Ketika kita menjumpai pertanyaan mengenai makna dan manfaat akreditasi internasional AACSB, berbagai respons dapat diberikan, antara lain:

  1. Memperbaiki kualitas belajar mengajar secara berkesinambungan.
    Dengan terakreditasi AACSB, FEB UGM harus terus mengikuti semua standar kualitas yang digariskan agar dapat mempertahankan akreditasi tersebut.
  2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas riset civitas akademika FEB UGM.
    Lambat laun, FEB UGM harus menyesuaikan diri dan memberi perhatian lebih pada penelitian. Bagaimanapun juga, penelitian yang banyak dan berkualitas baik merupakan pilar pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara, apalagi negara berkembang seperti Indonesia.
  3. Memperluas jaringan dan akses internasional.
    Setelah terakreditasi, FEB UGM akan semakin diminati oleh berbagai universitas partner di luar negeri, baik untuk dual degree programs, pertukaran mahasiswa, maupun pertukaran dosen.
  4. Mewujudkan visi FEB UGM untuk menjadi sekolah bisnis terbaik di Indonesia dan terhormat di Asia Tenggara.
    FEB UGM akan menjadi sekolah bisnis pertama di Indonesia yang menerima akreditasi internasional AACSB, yang secara tidak langsung mengonfirmasi posisi sentral FEB UGM di Indonesia dan Asia Tenggara.
  5. Membubuhi logo AACSB di ijazah lulusan FEB UGM.
    Ini barangkali adalah alasan yang paling tidak ilmiah, namun bisa jadi merupakan alasan yang paling praktis atau pragmatis karena dapat meningkatkan nilai jual alumni.

Tentunya masih banyak alasan dan argumen lain yang dapat diberikan. Dari semua respons di atas dan berbagai argumen lain, saya ingin memfokuskan diskusi pada satu point of interest, yaitu sinyal. Sebuah paper legendaris yang ditulis Akerlof (1970) memberikan inspirasi yang luar biasa bagi saya dalam menyusun artikel ini. Paper berjudul "the Market for Lemons" tersebut memaparkan tema sentral mengenai ketidakpastian kualitas.

Di dunia ini, semua orang dan organisasi selalu menghadapi asymmetric information. Yang berbeda hanyalah level asymmetric information yang dihadapi, ada yang cukup kecil namun ada yang besar. Kualitas pendidikan dan lulusan negara berkembang seperti Indonesia seringkali digeneralisasi dan dipersepsikan sebagai lemon, alias berkualitas kurang baik. Meskipun FEB UGM sudah memiliki kerangka dan operating procedures yang relevan untuk menjadi center of excellence di Indonesia, masalah lemon tadi menyebabkan sulitnya industri dan partner untuk memilah-milah asymmetric information akibat terlalu banyaknya institusi pendidikan lemon di negara berkembang.

Oleh karena itu, akreditasi internasional AACSB yang diraih oleh FEB UGM akan memberikan sinyal yang sangat positif, signifikan, dan relevan kepada masyarakat Indonesia, Asia, dan dunia. Dengan kata lain, akreditasi ini dapat menjadi bukti autentik bahwa FEB UGM bukan lemon meskipun berlokasi di sebuah negara berkembang. Tentu saja kita tidak mengklaim bahwa FEB UGM sudah menyamai high-caliber universities di dunia dalam hal pengajaran maupun penelitian, namun setidaknya akreditasi internasional AACSB memberi konfirmasi bahwa FEB UGM sudah memiliki quality control dan akan mengimplementasikan continuous quality improvements seperti yang ditentukan dalam standar-standar AACSB. Apalagi AACSB dianggap sebagai standar akreditasi tertinggi, yang berada di atas EQUIS, AMBA, dan ABEST21.

Implikasi Terhadap Fakultas, Mahasiswa, dan Dosen

Tidak dapat dipungkiri bahwa semenjak menjadi anggota AACSB (bahkan sebelum terakreditasi), FEB UGM dan civitas akademika di dalamnya mengalami euforia lonjakan peminat untuk melakukan kerjasama, baik dari industri maupun universitas partner mancanegara.  Hal ini dapat dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan citra atau publisitas, dan memperluas akses bagi civitas akademika FEB UGM untuk semakin terlibat dan kompetitif dalam industri bisnis maupun policy-making entities.

Selain itu, mahasiswa dan dosen juga memiliki kesempatan yang semakin luas untuk menikmati eksposur internasional melalui berbagai program akademik dan nonakademik. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya undangan bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam berbagai program internasional, termasuk kompetisi bergengsi. Misalnya, baru-baru ini Tim FEB UGM mampu meraih juara pertama CIMB ASEAN Stock Challenge 2013 di Jakarta, dan juga juara pertama Sol-Bridge Business Case Competition 2014 di Korea Selatan. Selain internasionalisasi dan orientasi prestasi, mahasiswa juga menikmati hasil akreditasi di mana Fakutas senantiasa dituntut untuk meningkatkan kualitas sarana-prasarana dan proses belajar-mengajar. Sementara itu, bagi dosen, internasionalisasi juga semakin terasa dengan semakin terbukanya peluang mengikuti trainings dan juga menjadi dosen tamu di berbagai universitas partner di luar negeri.

What’s Next?

Lalu apa yang akan dilakukan FEB UGM pascaakreditasi? Ini adalah pertanyaan besar yang memerlukan keseriusan pejabat Fakultas maupun seluruh civitas akademika untuk melakukan tindak lanjut. Akreditasi internasional AACSB dapat diibaratkan sebagai pemolesan dari luar, sedangkan pembangunan sebuah rumah yang baik seyogyanya dimulai dari pondasi yang kuat dan interior yang sehat. Dengan kata lain, meskipun telah memperoleh polesan eksternal yang indah, FEB UGM harus terus berupaya memperbaiki kondisi internal agar semakin sehat dan kuat secara organik.

Kita dapat memulai proses ini dari hal-hal mendasar, seperti perbaikan laboratorium komputer (penyediaan perangkat komputer mutakhir dan bebas virus); pengecekan rutin proyektor, komputer, lampu, dan sarana pembelajaran di kelas; perbaikan sistem informasi teknologi dan komunikasi di kampus; penyediaan software penting secara masif di kampus; pembelian databases vital (misalnya CRSP, Compustat, ExecuComp, SDC, WRDS, dll.) untuk menunjang penelitian; penyediaan alat pengecek plagiarisme (misalnya Turn It In atau D2L); restrukturisasi kompensasi dan insentif yang tepat untuk merangsang
dosen melakukan riset, mempresentasikan paper dalam konferensi internasional, dan memublikasikan papernya dalam jurnal internasional yang semakin berkualitas; dan lain-lain.

Meraih akreditasi merupakan prestasi yang membanggakan, namun mempertahankan akreditasi memerlukan upaya dan kerja keras yang tidak sedikit. Oleh karena itu, segenap civitas akademika FEB UGM dapat memulai quality improvements dari dirinya sendiri melalui hal-hal mendasar. Tentunya lebih baik lagi apabila terjadi quantum leaps dalam segala aspek di Fakultas tercinta.

Sebagai penutup, jalinan cinta antara FEB UGM dan akreditasi internasional AACSB dapat dideskripsikan oleh lirik lagu berikut:

"Yes I may dream a million dreams, but how can they come true...
...if there will never ever be another you?"
(Warren and Gordon 1942)

AACSB memang the only one dan on the top in today’s standard. Selamat, FEB UGM!

---

Artikel Dosen: Akreditasi Internasional AACSB: Buah Manis Sebuah Perjuangan
Dimuat pada majalan EBNEWS Edisi 17 Tahun 2014