Kementerian Keuangan Republik Indonesia bersama Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) kembali menyelenggarakan kuliah umum. Acara yang berlangsung di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo, Magister Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ini dihadiri lebih dari 700 peserta. Banyaknya peserta yang datang tidak sebanding dengan kapasitas ruangan. Beberapa peserta terpaksa mengikuti kuliah umum di luar ruangan melalui live streaming. Tingginya antusias peserta dalam kuliah umum disebabkan oleh pembicara yang mengisi sesi kuliah umum ini yaitu Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati.

Acara kuliah umum dibuka dengan sambutan oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni Universitas Gadjah Mada, Dr. Paripurna P. Sugarda, S.H., L.L.M. Selanjutnya, kuliah umum dimoderatori oleh Dekan FEB UGM, Eko Suwardi, M.Sc., Ph.D.
Sri Mulyani membuka kuliah umum dengan pemaparan mengenai APBN dan sejarah bangsa Indonesia. Menurutnya, APBN merupakan salah satu instrumen negara yang didesain untuk memenuhi kebutuhan negara. Kebutuhan negara tidak bisa dilepaskan dari cita-cita pendiri bangsa yang telah berjuang menghantarkan bangsa Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan. Dalam rentang waktu antara tahun 1945 hingga tahun 2017, pencapaian yang telah diraih bangsa Indonesia dijadikan tolok ukur keberhasilan mencapai tujuan bangsa. Pencapaian tersebut dibandingkan dengan negara lain yang memperoleh kemerdekaan di tahun 1945-1960. Tidak semua negara mengalami nasib yang sama pasca kemerdekaan. Ada negara yang sudah makmur, maju, bermartabat, dan berpengaruh di dunia, tetapi ada juga negara yang masih dalam kondisi perang, miskin, dan tidak berkembang.

Kemudian, Sri Mulyani menjelaskan jika ingin mengetahui posisi pencapaian Indonesia saat ini, diperlukan sebuah indikator. Indikatornya adalah pertumbuhan ekonomi. Selama beberapa tahun, rata-rata pertumbuhan Indonesia sebesar 5,2%. Hal tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat 3 pertumbuhan ekonomi negara G-20.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Indonesia memiliki modal awal seperti letak geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sistem politik. Dalam kuliah umum ini, Sri Mulyani lebih menekankan aspek sumber daya manusia. Indonesia memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia dengan komposisi penduduk didominasi oleh usia di bawah 30 tahun. Kondisi demografi seperti itu menjadi keuntungan bagi Indonesia. Bandingkan dengan Jepang, RRT, dan Singapura yang komposisi penduduknya didominasi oleh penduduk berusia tua.

Keunggulan dalam hal kuantitas penduduk juga harus diikuti dengan kualitas penduduk. Kualitas penduduk dapat dinilai melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM Indonesia meningkat dari sebelumnya di bawah 70 menjadi di atas 70. Komponen-komponen dalam IPM antara lain angka harapan hidup sebesar 70,9 tahun, rata-rata lama bersekolah sebesar 7,2 tahun, dan pendapatan per kapita sebesar Rp10,42 juta. "Nilai tersebut masih belum baik. Ilustrasinya dengan mendapat nilai kuliah 70 yang dikonversi menjadi nilai B saja sudah lulus, sedangkan teman kelas lain ada yang dapat nilai 90. Nilai 70 atau B masih rendah dari teman lain (negara)." kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan bahwa pembangunan manusia perlu dimulai sejak manusia lahir di dunia. 1000 hari pasca kelahiran merupakan waktu yang krusial bagi seseorang untuk berkembang. Asupan nutrisi yang cukup berperan dalam pembentukan kualitas SDM. Jika dalam masa 1000 hari pasca kelahiran orang Indonesia tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, maka akan kalah bersaing dengan negara lain yang memberikan asupan nutrisi lebih baik. Apalagi melihat tantangan ke depan, persaingan tenaga kerja bukan hanya dengan negara lain tetapi juga dengan Artificial Intelligence (AI).

Sumber: Ade/FEBUGM

Lihat Video