Kamis (14/9), pukul 08.00 WIB, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membuka acara Gadjah Mada International Conference on Economics and Business (GAMAICEB) 2017 yang ke-5 dengan konferensi yang bertempat di Auditorium BRI FEB UGM. Konferensi tahun ini mengangkat tema "Pembangunan Berkelanjutan: Tantangan dan Peluang Negara Berkembang". Konferensi dibuka dengan sambutan oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia, Kusdhianto Setiawan, Sivilekonom., Ph.D. Sesi pagi konferensi dimoderatori oleh Heni Wahyuni, S.E., M.Ec.Dev., Ph.D. Konferensi menghadirkan tiga orang pembicara yaitu, Prof. Juliet Willetts, Ph.D. dari University of Technology Sidney, Australia, A. Tony Prasetiantono, Ph.D., dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia, dan Salmi Mohd. Isa, Ph.D. dari Universiti Sains Malaysia, Malaysia.

A. Tony Prasetiantono memulai sesi pertama konferensi dengan memaparkan sejarah subprime mortgage yang terjadi di Amerika Serikat hingga menyebabkan krisis global. Menurutnya, krisis global dipengaruhi oleh sektor keuangan terutama untuk transaksi derivatif. "Indonesia beruntung karena transaksi derivatif pada saat itu masih sedikit sehingga dampak krisis global tidak signifikan. Ditambah lagi Indonesia memiliki kekayaan alam yang banyak." kata Tony.

Tony menambahkan, pemerintahan Presiden Jokowi saat ini tengah fokus untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Hal itu dilakukan dengan memprioritaskan infrastruktur dalam APBN. Alokasi anggaran untuk infrastruktur berada di posisi kedua setelah prioritas pendidikan. "Presiden Jokowi mengalokasikan pengeluaran sebesar Rp 387 triliun untuk infrastruktur" kata Tony. Dengan berfokus pada pembangunan infrastruktur, diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 7%. Pertumbuhan ekonomi juga dapat menyerap tenaga kerja baru ke pasar.

Lalu, sesi kedua dilanjutkan oleh Juliet Willetts. Dalam sesi ini, Juliet Willetts menekankan pada Sustainable Development Goals (SG) 6 mengenai air bersih dan sanitasi. Ada tiga pesan yang disampaikan oleh Juliet Willetts mengenai air bersih dan sanitasi yaitu integrasi antarkoneksi, pengusaha skala kecil, dan lompatan teknologi. Lalu, pesan itu dipecah lagi menjadi 6 hal yaitu akses untuk air minum, akses untuk sanitasi, air yang terbuang dan kualitas air, penggunaan air yang efisien, sumber air yang terintegrasi, dan memproteksi air terkait ekosistem.

Salmi Mohd. Isa mengisi sesi ketiga konferensi. Dia menitikberatkan peran kepemimpinan dalam bisnis dan keberlanjutan. "Dalam pembangunan keberlanjutan, fokus utamanya terletak pada manusia dan kepemimpinan." kata Isa. Isa menambahkan bahwa ada lima hal pemimpin bisnis harus percaya pada pembangunan keberlanjutan yaitu mengurangi biaya, memitigasi resiko, menghasilkan pendapatan, memicu inovasi, dan meningkatkan perkembangan karyawan.

Seusai pemaparan pembicara, sesi dilanjutkan dengan tanya jawab dan komentar dari peserta. Lalu, konferensi dilanjutkan dengan pemaparan paper dari peserta di kelas-kelas yang sudah disediakan.

Sumber: Ade/FEB UGM