Jumat lalu (15/09), dalam rangka memperingati Dies Natalis FEB UGM ke-62, acara sarasehan diadakan dengan mengusung tema "Kearifan Lokal untuk Menghadapi Tantangan Global". Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk memberikan wawasan kepada civitas akademika FEB UGM mengenai peran yang dapat diimplementasikan dari nilai-nilai luhur yang dimiliki Bangsa Indonesia yang kemudian dapat digunakan untuk menghadapi tantangan global ke depannya, khususnya di bidang pendidikan.

Acara sarasehan diadakan di Auditorium Mubyarto Magister Ekonomi Pembangunan (MEP) FEB UGM dengan narasumber drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. R.M. Gunawan Soemodiningrat, M.Ec., Prof. Basu Swastha Dharmmesta, M.B.A., Ph.D., serta Prof. Indra Wijaya Kusuma, M.B.A., Ph.D. Sarasehan dibawa oleh Bayu Aji Aritejo sebagai moderator serta dibuka oleh Dr. Eko Suwardi, M.Sc. selaku Dekan FEB UGM. Dalam acara ini, narasumber memberikan wawasan mengenai bagaimana cara agar UGM dapat membawa nilai-nilai kearifan lokal untuk menjawab tantangan global dengan perspektif yang berbeda-beda.

Drg. Ika Dewi berbagi perspektif tentang universitas sebagai agen perubahan sosial dan penopang kedaulatan bangsa. Drg. Ika menitikberatkan fokusnya pada tren urbanisasi dan tingkat kemiskinan di Indonesia. Menurut beliau, UGM harus berkontribusi terhadap ilmu dan teknologi. Salah satu indikatornya adalah ranking universitas serta jumlah sitasi artikel ilmiah. Drg. Ika berpendapat bahwa kontribusi universitas terhadap kesejahteraan masyarakat sebaiknya menjadi kriteria untuk peringkat universitas di dunia. Sehingga, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu rekomendasi yang dapat dilakukan civitas akademika.

Prof. Gunawan memaparkan pendapatnya mengenai globalisasi sebagai proses menuju kebaikan yang dapat dibangun dari dalam (lokal). Tridharma perguruan tinggi melaksanakan kearifan lokal dengan cara pendampingan terhadap masyarakat. Perlu adanya tindak lanjut mengenai tantangan kearifan lokal untuk menghadapi tantangan global, di antaranya menata dan mengoptimalkan kerjasama berbagai pihak yang sudah dilaksanakan dalam aliansi strategis, meningkatkan kapasitas pendamping masyarakat dengan training of trainer, serta memperluas contoh sukses pembangunan yang menerapkan kearifan lokal yang sudah dibangun UGM.

Prof. Basu menggarisbawahi nilai-nilai yang dianut FEB UGM, yaitu integritas, profesionalisme, objektivitas dan keselarasan, kebebasan akademik, dan kepedulian sosial, untuk dengan bijak menghadapi kondisi global. Kemudian, Prof. Indra memaparkan bahwa pendidikan hendaknya tidak hanya mengarah pada tren internasional, tetapi justru mengangkat kearifan lokal sebagai dasar untuk memperkuat kebermanfaatan kepada masyarakat. Kurikulum sebaiknya disusun dengan memuat karakter bangsa Indonesia. Yang terakhir, kontribusi pendidikan harus nyata kepada masyarakat melalui pemikiran, pengembangan daerah, pembuatan produk, serta penghiliran produk.

Sumber: Acha/FEB UGM