Meskipun telah resmi menjadi calon wakil presiden (cawapres) bagi calon presiden (capres) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tidak mengurangi minat Boediono untuk tetap mengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Dr. Boediono, M.Ec. dalam acara perpisahan dengan koleganya, keluarga besar UGM, di Ruang Sidang FEB UGM. Acara yang berlangsung Sabtu (23/5) itu dihadiri oleh, antara lain, Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., Ketua Senat Akademik (SA), Prof. Dr. Sutaryo, Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA), Dr. Ali Wibowo, dan Dekan FEB, Prof. Dr. Marwan Asri, M.B.A.

“Kalau masih diperkenankan, saya tetap ingin mengajar di sini. Lebih asyik, karena ada yang mau mendengarkan saya. Kalau sudah ketemu pejabat, justru saya yang harus mendengar dia bicara,” kata Boediono yang langsung disambut dengan tawa hadirin.

Boediono yang juga Guru Besar FEB UGM ini menjelaskan bahwa menjadi cawapres SBY sama sekali tidak ia perhitungkan sebelumnya. Tawaran itu datang tiba-tiba dan mau tidak mau sebagai sebuah amanat harus ia jalankan.

“Itu datang tiba-tiba, beyond imagine, dan memang harus saya jalankan,” katanya.

Terkait dengan munculnya pandangan bahwa dirinya penganut faham neoliberalisme, Boediono menganggap hal itu merupakan sesuatu yang wajar di saat-saat menjelang pilpres. Hanya saja, ia menegaskan bahwa tidak bisa menilai seseorang sebagai neoliberalisme hanya dari satu aspek, apalagi ia berasal dari kampus 'ndeso', UGM, yang selama ini kental dengan ekonomi kerakyatan (Pancasila). "Saya ini dari universitas 'ndeso', UGM, mosok cocok dengan neolib?" ujarnya mempertanyakan.

Boediono mengaku tidak setuju dengan cara-cara mengecap seseorang itu sebagai neolib atau bukan tanpa menggunakan kaidah-kaidah dan landasan teoritis. "Tidak bisa mengecap hanya dengan satu atau dua aspek saja. Ini berat kalau ada perang yang mengecap masalah neolib, bahkan sampai ada yang mengatakan kafir," tambahnya.

Dicontohkannya, alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN sudah jauh dari neoliberalisme. Demikian pula dengan masalah-masalah kualitas pendidikan, akses kesehatan, serta kebutuhan pokok. "Debat boleh-boleh saja, tapi yang harus dilakukan gunakanlah energi kita itu untuk memecahkan masalah-masalah konkret daripada isu-isu," katanya.

Usai acara perpisahan, Boediono masih menyempatkan diri untuk menjawab beberapa pertanyaan dari koleganya. Setelah itu, ia melanjutkan dengan kegiatan mengajar puluhan mahasiswa di Ruang T101 FEB yang sebelumnya rutin dikerjakannya setiap Sabtu. Dari kampus UGM, Boediono meneruskan perjalanan ke makam pahlawan nasional Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Sumber : www.ugm.ac.id