Ekonom Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Rimawan Pradiptyo, PhD, baru-baru ini meraih penghargaan "The Best Paper Award" untuk bidang ilmu ekonomi pada The Global Accounting, Finance and Economics Conference, yang diselenggarakan Monash University, Melbourne Australia dari 14-15 Februari 2011. 
 
Rimawan yang dihubungi di Jakarta, Selasa (22/2), mengatakan artikel ilmiah yang meraih The Best Paper tersebut ditulis bersama dua co-authors yaitu Banoon Sasmitasiwi, MSc dan Gumilang Aryo Sahadewo, SE yang merupakan ekonom muda lulusan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM. 
 
Dijelaskannya, seminar internasional tersebut dihadiri oleh para ekonom dari Australia, China, India, Indonesia, Iran, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Korea Selatan, Taiwan, Thailand dan Uganda, dengan sekitar 46 karya ilmiah yang dipresentasikan pada seminar tersebut. 
 
Meski terdapat lima pemakalah yang berasal dari Indonesia di seminar tersebut, Rimawan mengatakan dirinya adalah satu-satunya pemakalah yang mewakili universitas di Indonesia. 
 
Pada seminar internasional tersebut, Rimawan menyajikan makalah berjudul "Evidence of Homo Economicus? Findings from Experiment On Prisoners? Dilemma Game". Penelitian ini berusaha untuk mengetahui sejauh mana orang Indonesia memiliki kemauan untuk bekerja sama dan berkoordinasi. 

Pada penelitian ini 96 subyek yang merupakan civitas akademik di lingkungan UGM mengikuti eksperimen untuk memainkan 32 permainan. Hasil penelitian ini cukup kontroversial karena menunjukkan bahwa kecenderungan subyek untuk bekerja sama atau berkoordinasi hanya 1-2 persen saja. 

Hasil ini konsisten muncul sejak game pertama hingga terakhir. Sejauh ini, lanjut Rimawan berbagai penelitian serupa yang dilakukan di negara-negara maju justru menunjukkan hasrat bekerjasama yang tinggi, yaitu dimulai sekitar 40 persen pada game pertama, dan turun menjadi sekitar 20 persen pada game terakhir. 

Penelitian yang dihasilkan Rimawan dan kawan-kawan ini menunjukkan bahwa koordinasi merupakan hal yang langka atau sulit dilakukan di Indonesia. Rimawan mengatakan bahwa di Indonesia, koordinasi hanya dipahami sebagai pertemuan semata, namun tidak ada pembagian tugas dan juga evaluasi terhadap pelaksanaan pembagian tugas tersebut. 

Penelitian tersebut menggabungkan antara teknik eksperimen dan game theory (teori permainan). Bidang spesialisasi Rimawan tercatat cukup unik dan langka untuk ukuran Indonesia, yaitu mencakup game theory, experimental economics dan crime economics. Di FEB UGM, Rimawan mengajar mata kuliah game theory, ekonomika mikro dan ekonomika kriminalitas (crime economics), baik untuk program S1, S2 maupun S3. 

Meski upacara pengumuman dan penyerahan the best paper award tersebut dilakukan pada jamuan makan malam setelah conference pada hari Selasa tanggal 15 Februari 2011, namun Rimawan baru mengetahui hal tersebut pada Senin 21 Februari 2011 via email yang dikirim panitia. 

Hal ini terjadi karena Rimawan menyajikan makalah pada sesi terakhir Senin (14/2) dan keesokan harinya Selasa (15/2) harus terbang ke Canberra untuk menyajikan dua makalah penelitiannya yang lain di Department of Economics, Australian National University dan KAGAMA cabang Canberra. 

Sebagai penghargaan atas prestasi tersebut, panitia seminar akan mengirimkan piagam penghargaan dan paper Rimawan tersebut langsung diterima dan akan diterbitkan di journal international The Journal of Business and Policy Research yang khusus hanya menerbitkan makalah-makalah terbaik dari seminar-seminar internasional. 

Rimawan menyatakan sangat gembira mendengar berita tersebut dan tidak mengira sama sekali bahwa paper tersebut akan meraih penghargaan tersebut. "Alhamdulillah pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari pihak Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM yang sangat mendukung para dosen dan mahasiswa untuk melakukan penelitian dan publikasi di tingkat internasional," kata pria kelahiran Ngawi 41 tahun lalu itu. 

Patut dicatat, bahwa FEB-UGM adalah perintis skema dosen kontrak penelitian pertama di lingkungan UGM dan Rimawan adalah salah satu dosen yang mengikuti skema tersebut. Skema kontrak penelitian tersebut memang dirancang untuk memberikan insentif kepada para dosen untuk melakukan penelitian dan publikasi bertaraf internasional.
 
 
Sumber: metrotvnews.com