Ekonomi Dunia Tak Pasti, Industri Berbasis Lokal Jadi Tulang Punggung Ketahanan Ekonomi Nasional YOGYAKARTA-Ketidakpastian perekonomian dan keuangan yang terjadi saat ini dan kedepan menimbulkan sejumlah risiko dan tantangan bagi stabilitas perekonomian domestik. Dalam kaitan ini, kerjasama lintas otoritas atau antar negara di kawasan regional maupun internasional sangat diperlukan untuk mengawal stabilitas moneter dan sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan masing-masing negara.

Hal tersebut ditegaskan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ardhayadi Mitroatmodjo, M.A., saat mengisi kuliah umum mahasiswa Program Pendidikan Profesi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Kamis (22/9). Acara dipandu oleh Ketua Pengelola Program Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM, Drs. Sugiarto, M.Acc., MBA.,Ak.

Sejalan dengan kondisi itu Bank Indonesia, kata Ardhayadi, mengambil respon suku bunga serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya untuk memitigasi risiko tersebut dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi, yaitu 5%+% pada 2011 dan 4,5%+1% pada 2012.

“Untuk itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, BI, dunia usaha, perbankan, akademisi dan seluruh aspek masyarakat untuk mengubah tantangan menjadi peluang, sehingga terwujud pembangunan ekonomi berkelanjutan menuju kesejahteraan masyarakat,”kata Ardhayadi.

Dalam acara itu Ardhayadi menjelaskan di tengah kondisi prospek ekonomi dunia yang memburuk, justru kinerja perekonomian domestik menunjukkan ketahanan yang baik. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2011 dan 2012 masing-masing akan mencapai 6,6% dan 6,7% didukung oleh kinerja ekspor dan investasi yang tumbuh tinggi.

“Tapi pertumbuhan ekonomi tahun 2012 punya potensi lebih rendah dari proyeksi tersebut. Pertumbuhan ekonomi, volume perdagangan, dan harga komoditas dunia paska penurunan rating AS diperkirakan akan melambat, sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih rendah,”paparnya.

Di tengah kondisi perekonomian yang dihadapkan berbagai risiko global maupun domestik, Ardhayadi menilai pemulihan ekonomi global yang tidak berimbang, persistensi krisis utang di kawasan peripheral Eropa, dan gejala pemanasan ekonomi di negara-negara emerging market, tetap berisiko menyebabkan pasar keuangan global bergejolak. Dinamika pasar keuangan global tersebut akan berpengaruh cepat ke perekonomian domestik, karena cukup terbukanya pasar keuangan kita.

Dari paparannya, Ardhayadi mengatakan adanya beberapa tantangan. Beberapa tantangan tersebut, yaitu bagaimana agar sistem keuangan domestik dapat diperkuat, mentransformasikan ekonomi Indonesia menjadi ekonomi yang lebih berdaya tahan, serta mengarahkan inflasi ke tingkat yang rendah dan stabil sesuai target yang ditetapkan. Dalam menjawab beberapa tantangan itu, BI dituntut berperan lebih baik dalam merumuskan kebijakan dan strategi untuk menjaga kestabilan moneter dan sistem keuangan nasional.

“Di sisi lain tantangan pemerintah selaku otoritas fiskal dan sektor riil juga semakin kompleks. Untuk itu, koordinasi otoritas moneter dan pemerintah menjadi semakin penting,”urai sarjana akuntansi UGM tahun 1976 itu.

Untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing global, pemerintah selaku otoritas fiskal dan sektor riil perlu mengambil langkah-langkah strategis melalui kebijakan dan regulasi untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor industri unggulan dan sektor lainnya yang merupakan advantage perekonomian nasional seperti sektor kehutanan, perikanan, perkebunan, dan pertambangan.

Industri berbasis lokal tersebut, imbuh Ardhayadi, akan mampu menjadi tulang punggung ketahanan dan perekonomian nasional di era globalisasi sekarang ini, karena akan memberikan kontribusi distribusi pendapatan yang berkeadilan bagi sebagian besar masyarakat.

 

Sumber: Satria/UGM