Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan masyarakat kelas menengah di Indonesia berkembang sangat pesat. Meskipun demikian Hatta berharap agar pertumbuhan kelas menengah ini merata baik di perkotaan maupun pedesaan. Untuk itu pemerintah saat ini terus mendorong berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan baru secara merata di Indonesia.

"Bahaya kalau pertumbuhan hanya terjadi di kota sedangkan di desa tidak berkembang," papar Hatta pada acara Seminar Prisma Tour "Perselingkuhan Bisnis dan Politik" di Gedung Pascasarjana UGM, Jumat (8/3) sore.

Hatta menjelaskan kelas menengah adalah masyarakat yang memiliki pengeluaran antara 2-20 dolar per harinya. Ia memberikan data kenaikan kelas menengah tersebut, yaitu jika tahun 2003 jumlahnya sekitar 81 juta, maka tahun 2010 telah naik mencapai 131 juta orang.

"Ada kenaikan sekitar 50 juta,"imbuh Hatta.

Pada kesempatan tersebut Hatta juga berharap agar pertumbuhan investasi bisa terus meningkat seiring kebutuhan konsumtif yang ikut naik. Hatta sempat menyayangkan upaya perbaikan iklim investasi yang telah dilakukan beberapa diantaranya tidak sesuai harapan.

"Maka salah satunya melalui MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) kita optimis 2025 Indonesia menjadi negara nomor tujuh yang kuat ekonominya," katanya.

Sementara itu pengamat ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Dr. Sri Adiningsih, M.Sc menilai pesatnya pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia bisa menjadi sebuah ancaman bagi bangsa Indonesia jika tidak diwaspadai.

"Yang sudah terjadi bisa dilihat di Afrika, Asia maupun Amerika Latin," kata Adiningsih.

Ancaman ini cukup beralasan karena sampai sekarang masih terjadi ketimpangan pengeluaran penduduk yang jumlahnya meningkat serta kualitas manusia Indonesia yang masih rendah. Beberapa bidang yang masih bisa diharapkan untuk meningkatkan perekonomian Indonesia, kata Adiningsih, antara lain melalui sektor mikro dan informal.

"Jangan sampai kita menjadi negara yang stagnan pertumbuhan ekonominya seperti prediksi ADB terhadap 11 negara yang tengah berkembang di kawasan Asia," tuturnya.

Sumber: Satria/UGM