Konsumsi swasta yang kuat dan performa investasi yang membaik diproyeksikan akan membuat Indonesia mampu mencetak pertumbuhan yang lebih tinggi tahun ini dan 2014. Hal tersebut terungkap dalam seminar “Asian Development Outlook 2013: Tren, Peluang dan Tantangan” yang diadakan oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) bersama Asian Development Bank (ADB) pada 11 April 2013 di Pertamina Tower FEB UGM.

Pada seminar yang dibuka oleh Dekan FEB UGM Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D tersebut, dipaparkan proyeksi yang terangkum dalam publikasi terbaru ADB, yaitu Asian Development Outlook (ADO 2013) terbitan ADB. Dalam publikasi yang berisi prediksi tren ekonomi di kawasan Asia dan Pasifik tersebut, Indonesia diprediksi akan tumbuh sebesar 6,4% di 2013 dan melaju ke level 6,6% di 2014. Angka ini merupakan rekor pertumbuhan tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

Berbicara di awal Seminar, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian, Kerjasama dan Alumni FEB UGM,  Muhammad Edhie Purnawan, M.A., Ph.D menyampaikan pada 2013 beban fiskal Indonesia cukup berat, dengan rencana pendapatan negara sebesar Rp1.529,7 triliun (yang terdiri dari penerimaan pajak Rp1.192 triliun dan bukan pajak Rp332,2 triliun). Namun demikian, Indonesia optimistik menjaga stabilitas makro ekonomi dan fiskal dengan syarat inflasi IHK tidak jauh melebihi 6% dan kurs tetap dipertahankan pada kisaran Rp9.000-Rp9.500 per USD. Sehingga sudah saatnya energi nasional diarahkan untuk membentuk akumulasi-akumulasi optimisme di berbagai sektor ekonomi.

“Penguatan konsumsi swasta dipicu oleh meningkatnya lapangan pekerjaan, upah minimum rata-rata, dan gaji pegawai negeri,” ujar Deputy Country Director ADB untuk Indonesia. Edimon Ginting, Ph.D yang berbicara pada seminar tersebut. “Investasi pihak swasta maupun pemerintah juga cenderung menunjukkan ekspansi yang sehat. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan peringkat kredit oleh lembaga independen, menurunnya suku bunga, meningkatnya alokasi pembiayaan bagi infrastruktur, dan rekor pertumbuhan ekonomi yang kuat.”

ADO 2013 mencatat bahwa Indonesia tumbuh sebesar 6,2% di 2012, sebagai hasil dari tingkat konsumsi domestik dan investasi yang terus menguat. Konsumsi swasta tumbuh sebesar 5,3%, yang merupakan angka tertinggi dalam empat tahun terakhir. Hal ini didorong oleh semakin banyaknya lapangan pekerjaan, meningkatnya gaji, dan rendahnya tingkat inflasi.

Sementara itu, investasi meningkat menjadi 9,8% pada 2012, yang didorong oleh membaiknya iklim investasi, rekor pertumbuhan ekonomi yang kuat beberapa tahun terakhir, dan peningkatan kredit. Sebagai hasilnya, rasio investasi terhadap PDB meningkat menjadi 33,2% dalam periode setidaknya 20 tahun terakhir. Sementara itu upaya Pemerintah untuk mendorong investasi sektor publik dapat dilihat dari semakin meningkatnya belanja modal di sektor ini.

Selain itu, ekspor diprediksi akan kembali meningkat pada tahun 2013 ini, yang antara lain didorong oleh menguatnya pertumbuhan di Republik Rakyat China (RRC) dan negara-negara lain. Angka ini diproyeksikan akan terus meningkat pada 2014, karena semakin membaiknya peluang pertumbuhan di negara-negara industri lain.

Menanggapi proyeksi ADO 2013 di atas, Direktur Penelitian Pelatihan Ekonomika dan Bisnis FEB UGM, Prof. Sri Adiningsih, M.Sc, Ph.D menyatakan bahwa segala pencapaian itu tidak boleh membuat Indonesia berpuas diri. “Tantangan terbesar pemerintah adalah bagaimana memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dirasakan oleh semua pihak,” tegasnya. “Masih diperlukan berbagai kebijakan yang difokuskan pada usaha pengurangan kesenjangan, termasuk upaya berkesinambungan untuk memperbaiki infrastruktur publik.”

Sebagaimana diungkapkan dalam ADO 2013, angka kemiskinan menurun sebanyak 0.7 poin menjadi 11,7% dalam 12 bulan sampai dengan September 2012. Perbaikan ini disebabkan oleh meningkatnya upah bagi para pekerja sektor pertanian dan konstruksi, serta pendapatan petani yang makin tinggi. Di saat yang sama, ADO 2013 juga mencatat bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi selama enam tahun terakhir telah mengentaskan 6,4 juta orang dari kemiskinan, masih ada 29 juta masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan Pemerintah.

Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia dianggap telah melakukan berbagai perubahan penting untuk mengurangi hambatan bagi pembangunan infrastruktur. Hal-hal ini dilakukan antara lain dengan dikeluarkannya aturan pelaksanaan Undang-undang Pengadaan Tanah, ditingkatkannya anggaran untuk pembangunan infrastruktur di kawasan timur Indonesia, serta pengembangan beberapa kawasan pelabuhan utama.

Terkait kegiatan ini, Muhammad Edhie Purnawan, M.A., Ph.D. menyatakan bahwa kerjasama antar lembaga semacam ini harus terus ditingkatkan. “Melalui seminar terbuka semacam ini, kalangan akademisi dan masyarakat luas menjadi paham akan peluang dan tantangan ekonomi yang ada di depan kita,” ujarnya. “Dengan demikian, seluruh pihak dapat ikut berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan bangsa ini khususnya dari sektor ekonomi, yang pada akhirnya harus selalu bermuara pada upaya mengurangi kemiskinan dan mencapai kesejahteraan rakyat.”

Sumber: Nia/FEB