Turunnya nilai mata uang Rupiah terhadap Dollar menyebabkan respon pasar yang negatif. Pertanyaan akan seberapa jauh dampak penurunan nilai ini bagi perekonomian terus terjadi. Saat ini ketidakpastian terhadap kestabilah nilai Rupiah masih dialami. Menurut Mudarajad Kuncoro, volatilitas Rupiah yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh dua faktor, yakni eksternal dan internal. Hal yang membuat nilai Rupiah makin anjlok adalah pembiaran yang dilakukan pemerintah.

Dalam diskusi interaktif bertajuk Volatilitas Rupiah: Penyebab dan Dampaknya bagi Perekonomian Nasional pada (12/09) silam, pada awal acara lima puluh persen peserta yang hadir menyatakan kepesimisannya terhadap mata uang negara Indonesia tersebut. Sedangkan sisanya menyatakan bahwa siklus turunnya nilai mata uang ini hanyalah sementara. Mereka optimis terhadap perkembangan perekonomian nasional.

Salah satu pihak yang merasa pesimis adalah Dwi Suyono, seorang jurnalis. Ia menyatakan bahwa saat ini Rupiah sudah berada di jurang kehancuran karena ia terlalu bergantung terhadap nilai Dollar. “Saat ini Indonesia kembali dijajah, tapi oleh perusahaan-perusahaan,” katanya. Sementara itu, perwakilan dari pengusaha pun menyatakan hal yang serupa. Pengusaha amat dirugikan dengan pergolakan nilai Rupiah yang terjadi ini. Segala transaksi akan lebih mudah dilakukan menggunakan Dollar. Mereka merasa akan lebih baik bila Indonesia menggunakan Dollar dalam bertransaksi.

Namun, masih ada pula beberapa pihak yang menyatakan bahwa apa yang tengah dialami Rupiah kali ini hanya sebatas siklus. Sehingga hal ini belum dapat diartikan sebagai krisis. Mereka juga optimis bahwa Bank Indonesia (BI) dan pemerintah melalui kebijakan moneter dan fiskal yang dikeluarkan akan mampu memperbaiki keadaan. Meskipun, hal ini masih akan dilihat dalam jangka panjang. Menurut Edhie Purnawan, optimism itu perlu dibangun.

Berkenaan dengan dekatnya tahun ini dengan tahun pemilu, terdapat pula beberapa pihak yang mempertanyakan apakah keadaan ini salah satunya juga dipicu oleh politik. Namun, pihak KPU sendiri meyakinkan bahwa gejolak pemilu tidak akan menimbulkan banyak efek terhadap hal ini. Meskipun, ada pihak yang menyangsingkan hubungan antara demokrasi dengan kemakmuran.

Pada akhir acara diketahui bahwa pemikiran peserta diskusi berubah. Pihak yang merasa optimis terhadap masa depan Rupiah dan perekonomian meningkat menjadi lebih dari tujuh puluh persen. Kesimpulan yang dapat diambil dari diskusi ini adalah bahwa gejolak yang saat ini dialami belum pada kondisi kiris. Hal yang makin memperburuk nilai Rupiah terhadap Dollar adalah karena lemahnya daya saing produk impor. Sehingga fundamental perekonomian harus diperbaiki.

Sumber: Nia/FEB