Student Service Center (SSC) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Alumni Lecture Series (4/10). Kali ini alumni yang pulang ke kampus dan memberikan kuliah umum adalah Chief Executive Officer GS1 Indonesia Thatit Guritno.Tema yang diambil adalah subjek yang populer di ranah manajemen operasi, yakni "Standardization and Supply Chain Management".

Pembahasan topik kali ini berfokus pada penggunaan barcode sebagai sarana integrasi bisnis secara global. Salah satu barcode yang dibicarakan adalah sistem penomoran barcode yang diinisiasi oleh GS1. Telah banyak perusahaan besar yang menggunakan system barcode GS1 ini, antara lain P&G, Coca Cola, Unilever, Walmart, dan Nestle.

Sistem barcode ini digunakan untuk mengidentifikasi jenis, jumlah dan lokasi produk secara otomatis di seluruh dunia. Dengan sistem itu, pengaturan supply chain dalam perusahaan bisa menjadi lebih efisien.  "Mungkin (barcode GS1) hanya mengidentifikasi barang dalam (bentuk) penomoran, tapi fungsinya dalam sekali," tuturThatit.

Penggunaan barcode yang berskala global dapat membantu produsen dalam menghitung berapa dan kapan barang harus disalurkan ke retailer sehingga tidak banyak yang terbuang. Akan tetapi, sistem barcode global ini belum banyak digunakan di Indonesia karena alasan economics of scale. Hal tersebut dipaparkan Thatit di depan puluhan mahasiswa FEB UGM yang hadir dalam kuliah umum tersebut.

Ruang Audio Visual FEB UGM yang digunakan seakan tidak cukup untuk menampung antusiasme mahasiswa. Beberapa mahasiswa pun rela menikmati kuliah umum dengan hanya duduk di atas lantai. Tak hanya itu, acara juga disertai dengan diskusi kritis bersama peserta kuliah. Banyak pertanyaan tajam terlontar dari para mahasiswa.

Harits Budi Susilo (Manajemen, 2010) menilai materi kuliah yang disampaikan berhasil memberinya pengetahuan yang lebih dalam mengenai sistem informasi. Hal penting lain yang juga ditemukannya dari acara ini adalah, "Selain teoritis, (jurusan) Manajemen juga perlu tahu tentang hal teknis," ungkap Susilo.

Sumber: Arthur/FEB