Penduduk muslim yang kurang lebih 218 juta jiwa memiliki prospek besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Tidak heran, pertumbuhan pasar keuangan dari perbankan syariah nasional meningkat pesat dari tahun ke tahun. Namun perbankan syariah lebih banyak bergerak pada pembiayaan jual beli dibandingkan pembiayaan perdagangan dan investasi, "Alokasi berbagai proyek untuk kepentingan rakyat dapat didanai melalui skema pebiayaan syariah," kata Pengamat ekonomi syariah dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Taufikur Rahman, MBA., dalam Seminar Sosialisasi Surat Berharga Syariah Negara di Auditorium BRI FEB UGM, Rabu (20/11).

Sektor perdagangan dan investasi menurut Taufik memang belum digarap seirus oleh perbankan syariah. Kendati demikian, Aset perbankan syariah tumbuh pesat dari tahun ke tahun. "Diperkirakan tahun ini akan mancapai Rp 269 triliun, tumbuh 44% dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 179 triliun," kata Dosen Juruan Akuntansi FEB UGM ini.

Prosentase pertumbuhan perbankan syariah melebihi pertumbuhan industri perbankan nasional yang berkisar 20% per tahun. Bahkan berada di atas pertumbuhan keuangan global yang hanya berkisar 15-20%. Dari jumlah nasabah, sebesar 13,4 juta hingga bulan Oktober 2012. Tumbuh 36,4% dari tahun 2011 yang hanya berjumlah 9,8 juta," katanya.

Untuk lebih menguatkan fondasi ekonomi syariah, perbankan syariah diusulkan tidak hanya bergerak di sektor moneter tapi juga di sektor riil termasuk penguatan governance kelembagaan syariah. Oleh karena itu, sumber daya manusia perlu disiapkan untuk menunjang industri keuangan dan ekonomi syariah dengan mendorong perguruan tinggi dan lembaga pendidikan tinggi lainnya membuka prodi keuangan islam.

Yang tidak kalah penting, katanya, dibutuhkan dana riset untuk penelitian dan pelatihan di bidang ekonomi dan keuangan syariah. Kerjasama yang harus dilakukan dengan jaringan keuangan islam dunia agar Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam ekonomi islam global.

Sementara Agus P. Laksono dari Direktorat Pembiayaan Syariah, Kementerian Kuangan RI, mengatakan kebutuhan akan keuangan syariah dan alternatif investasi mendorong perkembangan pasar keuangan syariah berkembang. Pemerintah sendiri telah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara dengan menyediakan alternatif investasi syariah yang banyak dibutuhkan oleh investor, baik syariah maupun konvensional. "Perkembangan industri keuangan bergantung pada inovasi produk dan struktur akad serta dukungan pemerintah lewat regulasinya," katanya.

Sumber: Gusti/UGM