Perekonomian Indonesia dewasa ini dianggap telah memasuki taraf "menegangkan" oleh beberapa ekonom. Dalam "Economic Financial Review 2013 & Outlook 2014" (23/12/13), ekonom-ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) memaparkan bagaimana keadaan ekonomi Indonesia, juga prediksi akan keadaan ekonomi ke depan. Peramalan akan kondisi perekonomian merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban akademik yang menunjukkan kontribusi nyata mereka kepada masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kemerosotan sepanjang tahun 2013 ini. Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah, BI rate yang naik, dan inflasi yang tinggi. Selain itu, terdapat pula instabilitas ekonomi makro yang semakin tinggi, seperti peningkatan inflasi, rupiah yang anjlok, dan lain sebagainya. Kombinasi dari instabilitas makro yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang terus turun dapat menyebabkan kondisi yang tidak menyenangkan, yakni meningkatnya pengangguran. Masyarakat akan kehilangan pekerjaan sehingga mengakibatkan kesejahteraan menurun. Demikian hal yang disampaikan oleh Prof. Sri Adiningsih, Ph.D., Direktur Macrodashboard FEB UGM, mengenai gambaran perekonomian sepanjang tahun 2013.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2014? Apakah keadaan ekonomi akan membaik, atau justru sebaliknya? Menurut GAMA Leading Economic Indicator, perekonomian Indonesia pada tahun 2014 akan mengalami volatilitas yang tinggi. Apalagi, tahun tersebut merupakan tahun pemilu. Sehingga indikator-indikator ekonomi bisa saja dipengaruhi oleh faktor politik. Kemudian, inflasi akan menurun pada kisaran 8 persen, meskipun masih tetap tinggi. Sedangkan, rupiah diprediksi masih akan melemah. Atau bisa dikatakan bahwa tahun depan ekonomi Indonesia akan mengalami penurunan kembali.

Hal yang senada juga kemungkinan besar akan dialami oleh sektor finansial Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya akan bergerak pada kisaran 4000. Kemudian, akan terjadi penurunan perdagangan yang menyebabkan industri yang terkait impor akan mendapat tekanan. Selain itu, pertumbuhan sektor property dan otomotif akan menurun. Pertumbuhan kredit perbankan juga akan melambat. Demikian hal yang disampaikan oleh I Wayan Nuka Lantara, Ph.D.

Meskipun peramalan kondisi perekonomian pada tahun 2014 memang tidak terlalu baik, akan tetapi ekonom-ekonom ini juga masih menyimpan harapan bagi Indonesia. Pelaksanaan pemilu yang aman dan damai harus dijaga agar tidak menjadi faktor luar yang ikut menggoyang indikator-indikator ekonomi. Tahun depan bisa jadi merupakan tahun yang berat bagi Indonesia.

Sumber: Nadia/FEB