Lembaga Akreditas Internasional untuk Sekolah Bisnis, The Association To Advance Collegiate Schools of Business (AACSB), melakukan visitasi ke UGM dalam rangka proses akreditasi internasional Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Kunjungan tim akreditasi AACSB dipimpin langsung Peer Review Team terdiri Prof. Gonzalo Garland, Prof. Fernando Antonio D’Alessio dan Prof. Kwei Tang.

Rektor UGM, Pratikno, mengatakan FEB UGM saat ini tengah mengikuti proses tahap akhir untuk mendapatkan pengakuan akreditasi ineternasional dari lembaga akreditasi prestisius dari Amerika Serikat tersebut. “Semua  sekolah bisnis di dunia berlomba-lomba untuk mendapat pengakuan dari lembaga ini. Jika UGM sukses mendapatkan akreditasi maka UGM akan menjadi universitas pertama di Indonesia dan ketujuh di Asean yang mendapatkannya,” kata Pratikno usai menerima kunjungan dari tim AACSB di kantor pusat UGM, Senin (3/3).

Untuk mendapatkan akreditasi internasional AACSB, FEB UGM telah mengikuti proses selama kurang lebih 7 tahun, namun begitu akreditasi tersebut tidak serta dengan mudah didapatkan. Proses rekognisi internasional ini meliputi persyaratan ketat terkait perbaikan di segala bidang yang selalu ditinjau selama bertahun-tahun. “Bukan hanya perbaikan dari sisi manajemen tapi perbaikan dari sisi kualitas mahasiswa, dosen, publikasi dan riset. Kalau menunjukkan perbaikan dan kemajuan maka baru divisitasi seperti sekarang ini,” ujarnya.

Pratikno berharap agar FEB UGM bisa mendapatkan akreditasi inetrnasional AACSB. Dengan begitu bisa mendorong fakultas yang lain di UGM untuk berlomba-lomba mendapatkan pengakuan dari lembaga akreditasi internasional lainnya. “Akreditasi ini tentunya akan mendongkrak reputasi internasional. Saya harapkan bisa memberikan dampak bagi fakultas yang lain di UGM,” katanya.

Pengajuan akreditasi internasional AACSB tidak hanya dilakukan oleh UGM tapi juga beberapa universitas lain di Indonesia. Lama dan ketatnya proses untuk mendapatkan akreditasi tersebut menjadikan beberapa perguruan tinggi lain akhirnya mengundurkan diri di tengah jalan.”Apabila UGM berhasil mendapatkannya tentu akan  mendorong universitas lain untuk melakukan hal yang sama,” pungkasnya.

Sumber: Gusti/UGM