Penguatan dan pengembangan perekonomian pedesaan menjadi salah satu aspek kajian yang dilakukan para ekonom di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Rencananya, lima komoditas produk di bidang  pangan, perikanan-peternakan, tanaman perkebunan, usaha mikro, serta pengelolaan keuangan yang dijadikan sektor unggulan bagi setiap desa untuk dapat menumbuh kembangkan ekonomi berbasis pedesaan. “Prinsipnya satu desa, satu produk komoditas,” kata Kepala Dashboard Ekonomika Kerakyatan (DEK) FEB UGM, Prof. Gunawan Sumodiningrat, M.Ec., Ph.D, dalam Seminar Bulanan Ekonomika Kerakyatan bertajuk 'Membangun Ekonomi Menuju Desa Mandiri' belum lama ini.

Gunawan menambahkan, pihaknya sudah menjalankan program ini di beberapa desa di Yogyakarta sebagai pilot project diantaranya Desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman, dan Desa Tawangsari, Pengasih, Kulonprogo. “Kita juga tengah merintis di beberapa desa lagi di Ponjong Gunungkidul dan Temon, Kulonprogo,” katanya.

Pengembangan ekonomi kerakyatan di pedesaaan ini dikatakan Gunawan melibatkan para wirausaha yang ada di desa setempat. Para wirausaha ini disiapkan sebagai pendamping usaha ekonomi masyarakat desa. Dengan harapan, selain memiliki jiwa wirausaha, kader-kader ini nantinya bisa memiliki karakter kepemimpinan yang kuat dan wawasan kebangsaan. “Sampai saat ini sudah ada 15 Kader wirausaha yang dilibatkan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kulonprogo, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menceritakan pengalaman dirinya dalam pengembangan desa di wilayah Kulonprogo. Dalam menyelesaikan persoalan di wilayahnya, kata alumnus FK UGM, Ia bersama jajaran pemerintah berupaya melaksanakan program-program inovatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami mempraktekkan beberapa hal, seperti koperasi sebagai soko guru, sumber daya alam untuk rakyat dan revitalisasi Badan Usaha Milik Daerah,” tuturnya.

Untuk mendukung pengembangan perekonomian rakyat, kebijakan yang dilakukan Pemkab adalah menciptakan produk beras lokal unggulan. Pasalnya, beras yang diproduksi Kulonprogo setiap tahunnya mencapai 125 ribu ton. Sementara konsumsinya hanya sekitar 47 ribu ton. “Ini kan sayang kalau raskin saja harus dari luar?” paparnya. Pihaknya kini telah mewajibkan PNS Kulonprogo untuk membeli produk beras lokal.

Kebijakan inovatif lain, tambah Hasto, menerapkan sister family untuk mengurangi kemiskinan. Program ini memungkinkan keluarga kaya untuk menjadi keluarga asuh bagi keluaraga miskin. “Tidak harus memberi uang, cukup dengan mendukung usaha perekonomian keluarga asuhnya saja. Misalnya dengan berbelanja secara rutin pada keluarga asuh yang memiliki toko kelontong,” ungkapnya.

Isto Suwarno, pemilik Telaga Nusery Prambanan, ikut hadir jadi pembicara, mengatakan perkebunan menjadi salah satu sektor usaha yang dapat dikembangkan masyarakat petani di pedesaan. “Yang kami lakukan menanam komoditas buah-buahan yang menjadi primadona di pasar, misalnya buah kelengkeng,” tuturnya.

Didukung dengan sarana teknologi yang memadai serta melakukan pemeliharaan yang sesuai dengan yang diharuskan, bisnis menanam buah kelengkeng bisa sangat menguntungkan. “Salah satu jenis kelengkeng yang prospek adalah kelengkeng Itoh. Jenis ini mampu berbuah hanya dalam waktu 1,5 tahun,” ujarnya.

Sumber: Faisol/UGM