Daya saing suatu negara sangat dibutuhkan di dalam perdagangan global. Hal ini dikupas dalam kuliah umum yang bertajuk "Perdagangan dan Daya Saing Kita" (Kamis, 17/04) di Auditorium BRI FEB UGM. Kuliah umum ini menghadirkan Dr. Lili Yan Ing (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia, ERIA), Dr. Ari Kuncoro (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), dan Dr. Sjamsu Rahardja (World Bank) sebagai pembicara. Daya saing suatu negara dalam perdagangan global akan mempengaruhi pertumbuhan perdagangan negara yang bersangkutan. Negara yang berdaya saing tinggi, pertumbuhan perdagangannya akan tinggi, sementara negara yang berdaya saing rendah, pertumbuhan perdagangannya juga akan rendah. Daya saing ini sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang ada. Sumber daya manusia yang berkualitas tinggi akan mampu meningkatkan daya saing suatu negara dalam perdagangan global. "Sumber daya manusia yang berkualitas, minimal harus memiliki kemampuan dalam bidang teknologi informasi, konsep, komunikasi, logika, dan aritmatika," terang Dr. Ari Kuncoro.

Sistem pendidikan di Indonesia mempengaruhi kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Sistem pendidikan semestinya tidak menekankan pada hafalan. "Perbaikan sistem pendidikan kita perlu dilakukan dari hulu ke hilir dengan mengurangi hafalan, dan memperbanyak praktek mengarang," demikian disampaikan oleh Dr. Ari Kuncoro. Selain itu, Beliau juga menyampaikan bahwa peningkatan pendidikan di Indonesia seharusnya bukan pada kuantitasnya, melainkan pada kualitasnya. "Jangan memperbanyak sekolah menengah kejuruan (SMK), tingkatkan kualitas SMK-nya," tambah Dr. Ari Kuncoro. Dalam kesempatan ini, Dr. Sjamsu Rahardja menyatakan bahwa untuk memiliki daya saing, suatu negara tidak harus membuat suatu produk secara utuh, kita dapat membuat satu bagian tertentu saja dari suatu produk asalkan pekerjaan tersebut lebih efisien.

Sumber: Arlina/FEB