Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini menguasai sebagian besar porsi perekonomian Indonesia. Keterlibatan mikro financial dalam pertumbuhan usaha-usaha kecil ini sangat diperlukan sehingga UMKM bisa lebih dekat dengan perbankan. Wakil Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Dr. Edhi Purnawan mengatakan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan UMKM antara lain edukasi serta regulasi untuk mempermudah perbankan masuk ke UMKM.

“Langkah ini bisa semakin mendekatkan UMKM ke perbankan,”tutur Edhi dalam seminar bulanan dengan mengusung tema “Membangun Ekonomi Menuju Desa Mandiri, KKMB Memajukan Ekonomi Rakyat”, di Auditorium BRI Magister Sains FEB, Jumat (7/11). Seminar  menghadirkan Cahyo Binarto selaku Ketua Asosiasi Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) DIY, Rudy Suryanto, S.E., M.Acc., Ak., CA. sebagai Sekertaris Umum KKMB DIY dengan dimoderatori oleh Prof Gunawan Sumodiningrat, M. EC., Ph.D yang juga menjabat sebagai Dewan Pengurus Dashboard Ekonomika Kerakyatan FEB UGM.

Sementara itu Cahyo Binarto selaku Ketua Asosiasi KKMB mengatakan KKMB merupakan konsultan keuangan mitra bank yang memiliki visi menjadi mitra masyarakat, perbankan dan pemerintah dalam mewujudkan one village one product. KKMB ingin membentuk UMKM yang sehat. Strategi yang pertama dilakukan adalah penguatan kelembagaan dengan menambah jumlah KKMB secara kuantitas dan kualitas.
“KKMB akan membantu UMKM untuk mendapatkan akses pasar, mencarikan bahan baku, konsultan manajemen, serta melakukan penguatan permodalan dari bank secara bersama-sama,”papar Cahyo.

KKMB mendorong usaha mikro agar berkembang menjadi usaha kecil, menengah, besar. Dalam jangka pendek, asosiasi ini akan menyiapkan satu pendamping setiap kecamatan di DIY dan Jawa Tengah.

Senada dengan itu, Rudy Suryanto menambahkan data UMKM yang tidak valid mempersulit usaha KKMB untuk melakukan proses pemberdayaan. Sistem manajerial UMKM yang lemah, serta ketidakpahaman UMKM dalam menyusun laporan keuangan menjadi penyebab paling sering UMKM sulit berkembang. Untuk memulai bisnis yang benar, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan potensi desa oleh pendamping. Kemudian, penguatan kelembagaan, dilanjutkan dengan membantu akses jaringan ke bank dengan bunga yang murah.

“Jiwa entrepreneur juga penting ditumbuhkan supaya masyarakat dapat membaca peluang serta memanfaatkan sumber daya yang ada,” terang Rudy.

Sumber: Izza/UGM