Bertemu komunitas petani di daerah terpencil di Jawa dan Bali selama 3 bulan berturut-turut pada 2004, mengubah persepi Helianti Hilman terhadap petani. Disitu ia bertemu dengan para petani yang gigih mempertahankan berbagai jenis varietas padi dengan beragam nilai kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi. Wanita kelahiran Jember 44 tahun lalu ini mengatakan terjun sebagai wirausaha awalnya tidak sengaja. Namun, terinspirasi dari keuletan petani yang betul-betul menghargai hasil bumi mendorongnya untuk semangat berbuat sesuatu bagi petani. "Saya sebelumnya bekerja sebagai konsultan Bank Dunia dan UNDP pernah ditempatkan di Banglades dan Nepal. Pulang ke Indonesia saya dikenalkan teman yang kerja di FAO. Mengunjungi petani Jawa sampai Bali selama 3 bulan. Mengubah perjalan hidup saya sampai hari ini," kata CEO PT Javara ini dalam talkshow Meniti Jalan Menjadi Social Entrepreneurship di FEB UGM belum lama ini.

Setelah bertemu banyak petani yang begitu menginspirasi baginya, Helianti Hilman berpikir bagaimana menghargai dan mengapresiasi kegigihan petani yang sudah mempertahankan kearifan lokal bahkan sudah menjaga beberapa jenis padi lokal asli dari daerah masing-masing. Menurutnya, banyak petani di Indonesia yang mengedepankan pertanian berbasis spiritualisme. Hal itu ditemuinya pada petani dekat kaki Gunung Halimum Salak yang menjunjung keberkahan daripada produktivitas. Bahkan mereka tidak terbiasa menjual hasil panennya kecuali dibarter atau disimpan sebagai cadangan pangan. "Mereka ada yang menanam dengan membaca bintang. Hama itu dianggap berbagi jatah hidup. Di Magelang, saya menemui Mbah Suko yang menyimpan benih padi kuno," katanya.

Dengan Mbah Suko inilah, Helianti memulai menjual produk beras organik pertamanya seperti beras Menthik Susu, Cempo Merah, Jenggot Netep, Wangi Menyan dan Andel Abang. "Saat itu saya berpikir bagaimana produk kearifan bisa diterapkan di Indonesia dan internasional. Produk pertama kita dengan Mbah suko, ada warna beras ungu dan merah muda (pink). Kita bukan semata jualan produk, tapi cerita dari produk itu, ini membuatnya berbeda," kata Helianti.

Kini, sejak menggeluti wirausaha sejak 2008, Helianti sudah membina 50 ribu petani dari berbagai daerah dengan 747 varian produk. Dari jumlah tersebut 80 persen produknya diekspor ke Amerika dan Eropa. "Tren internasional, mengarah konsumen yang mulai semakin pintar karena banyak produk menyebabkan penyakit diabetes dan jantung. Mereka ingin tahu asal usul sebuah produk, ini kesempatan untuk kita. Menyajikan produk dengan kearifan dan keterbukaan," katanya.

Bukan hanya beras, namun ada produk turunan dari kakao, varian dari produk kopra, garam dan hasil rempah-rempah yang semua diolah menjadi produk olahan. Helianti bercerita banyak produk dibuat karena terdesak membantu petani yang tengah mengalami kesulitan. Misalnya, ide untuk membuat mie brokoli dilakukan saat menghadapi petani di lereng Merapi yang khawatir brokoli mereka gagal panen akibat terkena abu Merapi pada 2010. Lalu, kemasan garam dari Bali dibuat dari bahan batu lereng Merapi oleh para perajin dari Magelang.

Di hadapan mahasiswa UGM yang menjadi peserta talkshow, Helianti berpesan jangan pernah memobilisasi kemiskinan untuk mendapatkan dana dan dukungan. Tetapi berusaha menggali potensi guna membangun kreatifitas, harga diri, dan kemandirian. Dia mengajak mahasiswa tidak segan-segan untuk berkunjung pelosok terpencil di Indonesia untuk menemukan sebuah keunikan dan kearifan lokal yang bisa digali potensinya. "Semakin aneh dan terpencil, maka Anda akan menemukan surga dan mutiara baru di sana," pungkasnya.

Sumber: ugm.ac.id