The 2nd International Conference on Islamic Perspective of Accounting, Finance, Economics, and Management (IPAFEM) 2016 adalah sebuah acara yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para akademisi dan praktisi di bidang­bidang ilmu sosial seperti akuntansi, keuangan, dan manajemen untuk berdiskusi mengenai tantangan, tren, serta inovasi yang ada dalam kegiatan bisnis berdasarkan sudut pandang Islam demi memajukan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat.

Sesuai dengan tujuannya, IPAFEM 2016 mengangkat tema utama "​Towards Advancing Economics Prosperity and Social Wellbeing". Universitas Gadjah Mada (UGM) berkesempatan untuk menjadi tuan rumah IPAFEM 2016. Acara tersebut akan diselenggarakan pada Rabu­-Jumat, 17­-19 Agustus 2016 dan berlokasi di The Alana Hotel and Convention Center, Yogyakarta. Peserta IPAFEM tahun ini adalah mahasiswa, akademisi, dan praktisi dari Indonesia, Qatar, Algeria, Pakistan, UK, Belanda, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Saudi Arabia.

Prof. Nasim Shah Shirazi, Ph. D. datang sebagai pembicara pertama di IPAFEM 2016. Ia adalah seorang ​Lead ​Research ​ Economist di Islamic Research and Training Institute (IRTI). Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa zakat memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat. Melalui data yang telah ia kaji, ditunjukkan secara jelas besarnya potensi suatu negara dalam menanggulangi kemiskinan apabila masyarakatnya mau secara rutin melakukan zakat. "​Let us revive the religious teaching on charity and concretize their potential impact at social ​ tax," ucap Prof. Nasim dalam rangka mengajak para peserta untuk ikut berkontribusi dalam mencanangkan zakat.

Acara dilanjutkan​ dengan ​Research Forum yang mengangkat tema "Researching Islamic Perspective of Accounting, Finance, Economics and Management" oleh Prof. Roszaini Haniffa dan Dr. Mohammad Hudaib. Prof. Roszaini menjelaskan tahap­tahap perkembangan bank syariah. Di awali dengan ketidaknyamanan kaum muslim dengan sistem riba yang digunakan oleh bank konvensional. Hingga akhirnya, kini bank syariah berkembang baik di masyarakat dan mulai berkompetisi dengan bank konvensional. "​We try to find innovation on product, try to address at social justice level and make sure that every penny we get will go the people who ​ really need it." jelas Prof. Roszaina pada sesi wawancara.

Pada sesi ketiga, yaitu sesi ​Publisher Talks, Dr. Mohammad Hudaib dan Dr. Muniati Mukhlisin hadir sebagai pembicara. Tema pada sesi kali ini adalah "A Guide to Getting Published in JIABR". Kedua pembicara tersebut memberikan cara­-cara jitu kepada para peserta agar tulisan mereka dapat di terbitkan pada tingkat internasional. Tentu hal tersebut membutuhkan waktu yang lama, sehingga mereka memotivasi para peserta agar bersabar dan pantang menyerah.

Pembicara terakhir pada hari pertama adalah Prof.Rosziana Haniffa dan Mahfud Sholihin, Ph.D. yang membahas tentang Paper Writing Workshop. IPAFEM 2016 hari pertama ditutup dengan sesi paralel dimana para peserta dipersilakan mempresentasikan ​paper yang telah mereka kumpulkan. Peserta dibagi ke dalam beberapa ruangan sesuai dengan tema ​paper yang telah ditentukan.

Hari kedua dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Dr. Mohammad Hudaib dan ​Dr. Muhammad Edhie Purnawan sebagai perwakilan dekanat FEB UGM. Pada sambutannya, Edhie menekankan bahwa konsep dari akuntansi, manajemen, maupun perekonomian Islam kini telah menarik perhatian para peneliti dari seluruh dunia.

Setelah itu, acara memasuki sesi pemaparan dan diskusi dengan beberapa ​keynote speakers. Sesi diskusi ini dimoderatori oleh Anggito Abimanyu, Ph.D (Komisaris BRI syariah). Pembicara pertama adalah Muhammad Irfan Sukarna selaku deputi direktur OJK yang membawakan tema "​Global Islamic Finance Development and Indonesia’s Position". Ia mengatakan bahwa perkembangan bank Islam di Indonesia memiliki perumbuhan yang tinggi sehingga memiliki prospek yang cerah di masa depan. Jumlah populasi masyarakat Indonesia juga menjadi salah satu peluang meningkatnya kebutuhan akan produk perbankan.

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Dr. Hylmun Izhar (​Senior Research Economist IRTI) dengan tema ​"Mapping the Landscape of Islamic Financial Services Industry". Ia menekankan bahwa pemerintah sebagai pengatur kebijakan memiliki peran yang penting dalam memperluas industri keuangan Islam. Setelah itu, pemaran materi dilanjutkan oleh Imam Teguh Saptono, Presiden Direktur BNI syariah, yang membawakan tema "​Going Further with Islamic Banking". Imam memaparkan bahwa bank Islam adalah jawaban dari kebutuhan finansial masyarakat Islam saat ini. Ia berharap hal ini akan mendukung bergesernya orientasi profit menjadi konsep barokah. Sebagai penutup sesi diskusi, Iggi H. Achsien, memaparkan materi dengan tema "​Islamic Capital Market in Indonesia: Potentials & Challenges". "Indonesia adalah satu­satunya negara yang telah menerapkan sistem ​shariah stock trading system. Industri keuangan islam di Indonesia memiliki masa depan yang cerah," ujarnya sekaligus menutup sesi diskusi pada hari kedua IPAFEM.

Ada pemandangan berbeda di malam kedua IPAFEM 2016. Para peserta dan pembicara berkumpul dalam rangka menghadiri acara ​Networking Dinner. Acara tersebut di buka dengan ​gendhing gamelan nan merdu. Dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Saman yang dibawakan dengan gerakan yang gesit dan kompak.

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat hadir membawa perbicangan ringan pada malam itu. Networking Dinner ditutup dengan persembahan kolaborasi musik oleh Anggito Abimanyu (​flutist), Ade Rudiana (pemain perkusi profesional), dan Economics
Session Band (ESB). Kolaborasi musik yang dibawakan amatlah merdu, terlihat antusiasme peserta dengan ikut bertepuk tangan mengikuti irama musik.

Sumber: Ebnews Rep