Perjalanan panjang tim FEB UGM selama 4 malam 3 hari di Bandung berakhir dengan kemenangan atas sesi final melawan ITB dalam ajang Debat Ekonomi Nasional yang diselenggarakan oleh BEM FEB Telkom University. Acara yang berlangsung sejak tanggal 21 Oktober 2016 tersebut diikuti oleh 10 tim debat dan 10 tim business plan competition. Ada 10 Tim dari 8 universitas yang turut berpartisipasi dalam lomba debat tersebut yaitu dari Universitas Siliwangi, Universitas Pembangunan Nasional, Universitas Indonesia, Universitas Katholik Parahyangan, Telkom University, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada.

Sitem debat yang digunakan yaitu Australasian parlementary dimana tidak ada poin interupsi bagi masing-masing orang untuk menyela tim lawan yang sedang menyampaikan argumennya. Tim FEB UGM dengan nama Satu Hati Menginspirasi yang diwakili oleh Erlin Meida Ramadhani (Akuntansi 2014) sebagai pembicara pertama, Fakhrurrazi (Akuntansi 2014) sebagai pembicara kedua, dan Salim Fauzanul Ihsani (Ilmu Ekonomi 2013) sebagai pembicara ketiga harus mengalahkan tim Telkom University dan Universitas Katholik Parahyangan sebelum berhak untuk maju ke babak semifinal melawan tim From Zero to One dari Universitas Indonesia.

Tim FEB UGM “Satu Hati Menginspirasi” harus mengakui bahwa pertandingan di semifinal tidaklah semudah mengalahkan tim TEBS 56 Telkom University dan EP Parahyangan 2. Mosi pertama yang dimainkan antara tim Satu Hati Menginspirasi FEB UGM dengan tim TEBS 56 Telkom University berkaitan dengan kebijakan impor yang diyakini dapat memberikan dampak buruk bagi produksi nasional. Tim FEB UGM mendapatkan peran sebagai tim Kontra. Tim FEB UGM meyakini bahwa kebijakan kontra tidak akan membahayakan produksi nasional. Hal ini justru dapat meningkatkan produksi nasional karena adanya kebijakan impor khususnya terhadap produk pangan akan menstimulus petani dan produsen di Indonesia untuk semakin mengembangkan inovasi terhadap produknya dalam bersaing dengan produk impor. Tidak hanya itu, tim FEB UGM juga membawakan argument bahwa adanya kebijakan impor sudah diatur dan diawasi oleh pemerintah dalam pelaksanannya. Sehingga adanya kebijakan impor justru dapat mengatasi kekurangan pasokan yang ada di Indonesia dan tidak mengganggu produksi nasional.

Di pertandingan kedua tim FEB UGM berhadapan dengan tim EP Parahyangan 2. Sebagai tim Kontra untuk yang kedua kalinya, tim FEB UGM dalam hal ini membawakan argument ketidaksetujuan atas mosi yang diusung oleh tim pro terkait dengan mobil Indonesia dianggap dapat menjadi pilar pendapatan nasional. Analogi mobil Indonesia yang keliru disampaikan oleh tim EP Parahyangan berhasil dibabat oleh tim Kontra SEF FEB UGM. Tim pro mendefinisikan mobil Indonesia layaknya mobil rakitan yang dibuat di Indonesia. Sementara itu, tim FEB UGM menganggap bahwa hal tersebut bukanlah mobil Indonesia. Contoh nyata mobil Indonesia adalah mobil Esemka yang sempat popular di tahun 2012 dan mobil Timur pada tahun 1998. Akan tetapi, belum bisa dikatakan bahwa mobil Indonesia dapat digunakan sebagai pilar ekonomi nasional. Mengingat bahwa mobil Indonesia masih perlu dilakukan inovasi lebih sehingga mampu bersaing di pasar dengan kompetitor lain. Teori David Ricardo tentang comparative advantage juga menjadi salah satu argument kuat yang disampaikan oleh tim FEB UGM untuk menolak mosi tersebut.

Dalam babak semifinal, mosi yang dimainkan berkaitan dengan kebijakan belanja infrastruktur yang dapat meningkatkan perekonomian nasional. Tim UI sebagai tim pro menyatakan bahwa kebijakan infrastruktur dapat meningkatkan perekonomian nasional. Akan tetapi, tim FEB UGM tidak sependapat dengan menyampaikan argument kontra yaitu dengan beranggapan bahwa kebijakan belanja infrastruktur bukanlah prioritas utama yang harus dibenahi oleh pemerintah saat ini. Pemerintah seharunya lebih memprioritaskan anggarannya untuk melakukan reformasi birokrasi. Meski sempat mendapat kritik dari dewan juri bahwa argument tim FEB UGM lebih mengarah ke politik, tapi tim FEB UGM tetap optimis dengan argumen yang disampaikan. Akhirnya, tim FEB UGM berhasil mengalahkan tim UI dengan selisih skor sebesar 68 poin dengan keunggulan Tim FEB UGM 3845 poin. Bisa dikatakan pertandingan melawan UI terasa lebih panas dibandingkan dengan permainan sebelumnya ketika berhadapan dengan TEBS dan EP Parahyangan.

Di final, tim FEB UGM berhadapan dengan tim ITB dengan mosi lemahnya nilai tukar rupiah menandakan ketidaksiapan Indonesia menghadapi AEC. Berbedadengan posisi tim yang selalu mendapatkan posisi kontra. Kali ini di final, tim FEB UGM harus mengarahkan permainan debat termasuk mengendalikan argument lawan agar dapat memenangkan pertandingan. Dengan menggunakan beberapa ekonomika internasonal dan juga teori ekonomika makro, tim FEB UGM berhasil mengalahkan tim ITB dan meraih Juara 1. Tidak tanggung-tanggung, Best Speaker dari lomba debat ini juga berhasil diraih oleh Salim Fauzanul Ihsani (Ilmu Ekonomi 2013), pembicara ketiga dari tim FEB UGM, Satu Hati Menginspirasi.

Sumber: Salim/febugm