Program Studi Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM mendorong para mahasiswanya untuk berkesempatan mendapatkan sertifikasi profesi berstandar internasional di bidang investasi dan keuangan, selain mendapatkan gelar akademis dari pendidikan master yang tengah diikutinya. Hal itu ditegaskan oleh Direktur MM FEB UGM, Dr. T. Hani handoko, MBA., usai membuka kegiatan sosialisasi program pelatihan sertifikasi Chartered Financial Analyst (CFA), Jumat (2/12) di ruang Faculty Meeting MM UGM.

Menurut Hani Handoko, mendapatkan sertifikasi internasional sudah menjadi tren bagi pekerja profesional di bidang bisnis dan keuangan dunia. Sertifikasi profesi tersebut umumnya didapat dari lembaga asosiasi profesi. "Sudah menjadi tren di dunia, di bidang keuangan dan bisnis, sertifikasi profesional dari lembaga asosiasi yang dianggap kredibel sangat diperlukan," ujarnya.

MM UGM, kata Hani, bekerjasama dengan lembaga asosiasi profesi untuk mendorong mahasiswa ikut mendapatkan sertifikasi internasional salah satu diantaranya yang ditawarkan oleh CFA Institute untuk sertifikasi profesi di bidang investasi dan keuangan. Peserta yang mengikuti program ini apabila lulus ujian akan mendapatkan sertifikat CFA. "Jika Anda punya CFA, saya yakin bisa jadi rebutan banyak perusahaan. Yakinkan pada diri Anda," kata Hani memotivasi mahasiswa MM yang hadir di ruangan.

Hani bercerita saat ia tengah menempuh pendidikan MBA di Amerika Serikat tahun 1985, umumnya para kolega dari Eropa dan Amerika berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi CFA. "Menurut pengakuan kawan-kawan saya dulu, CFA itu jaminan kerja di Wall Street. Bayangkan saya baru tahu CFA tahun itu, mereka sudah membicarakan sertifikasi," kenangnya.

Pakar Ilmu Manajemen dari FEB UGM ini mengharapkan mahasiswa MM UGM yang rata-rata masih berumur di bawah 30-an tahun untuk berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi tersebut agar memiliki kemampuan daya saing dan berpeluang bersaing menempati posisi strategis di industri keuangan dan investasi. "Anda semua masih muda. Tidak masalah. Karena untuk mendapatkan sertifikasi ini melalui proses yang cukup panjang," ujarnya.

Direktur Goldstone Financial Advisor, Sapto Raharjo, MM, M.Si., CFP, mengatakan banyak para pekerja profesional bidang keuangan di seluruh dunia berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi CFA. Pasalnya, banyak perusahaan multinasional yang merekrut karyawan di bidang analis keuangan dan telah mendapatkan sertifikasi CFA."Di Asia Tenggara, Vietnam menjadi salah satu negara yang banyak menghasilkan SDM yang mendapatkan CFA tertinggi. Karena banyak warganya kerja ke luar negeri, umumnya mereka ambil CFA di Hongkong. Di Singapura sudah banyak pekerja dari Vietnam, memang sudah ada juga orang Indonesia, tapi jumlahnya sedikit," katanya.

Sapto menyebutkan di seluruh dunia terdapat 123 ribu anggota bersertifikasi CFA yang tersebar di 145 negara. Sementara di Indonesia, hingga 20 tahun terakhir, jumlah praktisi keuangan yang mendapatkan sertifikasi CFA hanya 140-an orang. "Di Hongkong jumlahnya sudah mencapai 5 ribu orang lebih. Singapura itu setiap tahun bisa meluluskan 300 orang," katanya.

Untuk mendapatkan sertifikasi ini, menurut Sapto, setidaknya membutuhkan waktu tiga tahun untuk mencapai level 3. Untuk mendapatkan tingkat level 1, 2, dan 3, peserta diharuskan mengikuti ujian sertifikasi CFA.

Sumber: ugm.ac.id