Perjuangan menyeimbangkan peran sebagai Assistant Director di Bank Indonesia (BI), ibu dari dua anak, dan mahasiswa magister akhirnya membuahkan hasil bagi Rieska Indah Astuti. Ia dinyatakan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM pada Wisuda Program Pascasarjana UGM Periode IV.
Mahasiswa Program Studi Magister Sains Ilmu Ekonomi (MSIE) ini berhasil meraih predikat wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yaitu 4,00, dan masa studi 1 tahun 9 bulan 27 hari. Baginya hasil ini merupakan buah dari keberaniannya keluar dari zona nyaman setelah bertahun-tahun berkarier, sekaligus bukti bahwa usia dan padatnya tanggung jawab bukan penghalang untuk terus belajar.
Sebelum melanjutkan studi magister, Rieska telah 13 tahun berkarier di BI dan terlibat dalam berbagai proses analisis serta perumusan kebijakan. Menariknya, latar belakang sarjananya bukan berasal dari bidang ekonomi, melainkan matematika, sebuah jarak yang membentuk caranya memandang ilmu ekonomi hingga hari ini.
“Saya sudah dapat pengalaman kerja 13 tahun, tapi saya sadar itu tidak cukup. Saya butuh fondasi akademik yang kuat supaya keputusan yang saya ambil tidak hanya berdasarkan pengalaman, tapi juga teori, metodologi, dan bukti empiris,” ujarnya.
Keputusan untuk melanjutkan studi tidak datang tanpa pertimbangan panjang. Rieska sempat merasakan dilema antara melanjutkan pendidikan di luar negeri dan di dalam negeri. Ia pernah diterima di Nanyang Technological University (NTU) dan sudah sampai tahap wawancara akhir di National University of Singapore (NUS), dua kampus dengan reputasi kuat di kawasan Asia.
Namun Rieska akhirnya memantapkan pilihan pada FEB UGM, bukan karena keterbatasan pilihan, melainkan karena ia menilai lingkungan pendidikannya paling sesuai dengan apa yang sebenarnya ia butuhkan, yaitu keseimbangan antara ruang untuk memadukan pengalaman kerja dengan fondasi akademik yang kokoh serta keluarga yang senantiasa menjadi prioritas.
“Saya ingin perjalanan baru saya bisa menjembatani pengalaman dengan ilmu pengetahuan, sehingga saya nggak cuma mampu menjawab apa yang terjadi, tapi juga mengapa itu terjadi dan bagaimana seharusnya kita bereaksi,” jelasnya.

Ketertarikan Rieska pada topik tesisnya bahkan telah muncul sebelum ia resmi memulai studi magister. Ia mengkaji peran bank BUMN dalam menjaga penyaluran kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama periode tekanan ekonomi di Indonesia.
Penelitian ini menyoroti peran instrumen Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dalam membantu bank BUMN mempertahankan fungsinya di tengah krisis. Topik ini lahir dari pengamatannya selama krisis COVID-19 ketika UMKM sebagai tulang punggung perekonomian negara justru menjadi sektor yang paling terdampak akibat tekanan ekonomi.
“UMKM ini kan tulang punggung ekonomi Indonesia, tapi kita lihat kemarin saat terjadi tekanan, UMKM ini yang paling severe, yang paling parah jatuhnya. Salah satunya karena saat krisis, bank-bank cenderung mengerem, mereka sangat berhati-hati memberikan pembiayaan kepada UMKM untuk membatasi risiko, padahal UMKM sangat membutuhkan,” ungkapnya.
Rieska menjelaskan bahwa bank BUMN memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan bank swasta maupun bank asing, yaitu adanya mandat sosial atau mandat developmental di samping motif mencari keuntungan semata. Mandat ini termasuk keberpihakan kepada kelompok rentan seperti UMKM.
“Saya mau melihat di tengah krisis, apakah bank BUMN ini benar-benar bisa melakukan mandat sosialnya, tapi di sisi lain juga tetap bisa menjaga prudensialnya. Karena kalau lagi krisis, tetap menyalurkan pembiayaan ke sektor yang vulnerable seperti UMKM tentu ada risikonya, salah satunya kredit macet,” jelasnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bank BUMN tetap menjalankan mandat sosialnya dengan menjaga penyaluran kredit UMKM pada masa krisis COVID 19. Kondisi ini berbeda dengan bank swasta yang cenderung menahan penyaluran kredit pada periode yang sama.
Temuan lain dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan CKPN turut memengaruhi kepercayaan diri bank dalam menyalurkan kredit saat krisis. Bank yang memiliki cadangan memadai cenderung lebih confidence menyalurkan kredit saat ekonomi tertekan.
Namun demikian, pengaruh CKPN ini tidak seragam pada semua bank tergantung kekuatan modal, likuiditas, kapasitas pendanaan dan tingkat risiko kredit masing-masing, sebuah temuan yang menurut Rieska penting untuk diingat oleh perumus kebijakan agar tidak menyamaratakan pendekatan bagi semua bank.

Dalam proses penyusunan tesis, Rieska dibimbing oleh Eny Sulistiyaningrum, S.E., M.A., Ph.D. Ia sempat menganggap proses penulisan tesis akan menjadi hal yang relatif mudah baginya, mengingat pengalamannya yang sudah terbiasa melakukan riset selama bekerja di BI. Namun, anggapan itu berubah seiring proses bimbingan yang ia jalani.
“Peran dosen pembimbing ini mengajarkan hal yang sangat berharga buat saya. Melakukan penelitian ini bukan tentang mempertahankan pendapat pribadi, saya belajar bahwa saya perlu punya kerendahan hati untuk terus memperbaiki argumen berdasarkan data dan masukan,” ungkapnya.
Selama menempuh studi di FEB UGM, Rieska mengaku menemukan tiga hal yang menurutnya sulit didapatkan di tempat lain, yaitu keluarga, keseimbangan, dan kebahagiaan. Lingkungan yang suportif dari dosen, staf akademik, dan sahabat seperjuangan menjadi salah satu alasan ia tidak menyesali pilihannya berkuliah di FEB UGM.
“Dosennya inspiratif dan terbuka untuk diskusi, staf akademik responsif dan membantu dengan tulus, sahabat-sahabat seperjuangan saling mendukung meski usia kami jauh berbeda. Saya sama sekali tidak merasa ada jarak dengan mereka,” ujarnya.
Di tengah tuntutan menjalankan tiga peran sekaligus, ada satu prinsip yang terus Rieska pegang setiap kali merasa ragu, terutama saat harus belajar bersama teman-teman baru yang usianya jauh lebih muda dan proses berpikirnya lebih segar.
“Dream big, learn forever, and grow beyond limits. Kita harus berani bermimpi lebih tinggi, terus belajar sepanjang hayat, dan tumbuh melebihi batas yang kita kira ada pada diri kita,” ujarnya.
Prinsip itulah yang menurutnya menjawab keraguan di awal perjalanan, bahwa kembali belajar setelah bertahun-tahun berkarier merupakan bentuk lain dari keberanian untuk terus bertumbuh.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum