Sebelum mengambil keputusan investasi dalam sekuritas, ekuitas, investor atau calon investor disarankan membandingkan antara nilai intrinsik saham dengan harga saham yang terjadi di pasar. Nilai intrinsik saham harus ditentukan lebih dahulu dengan melakukan analisis terhadap faktor-faktor fundamental perusahaan. Salah satu dari faktor-faktor tersebut adalah laba perusahaan. Hal itu dikemukakan Guru Besar Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Prof. Dr. Slamet Sugiri, M.B.A., Akt., dalam Exploring the Prospect of Investment in Indonesia’s Financial Market, Sabtu (30/4).

Menurut Sugiri, harga teoritis saham sangat bergantung pada laba permanen dan relevansi nilai laba. Laba permanen memiliki harga paling tinggi. Kemudian, disusul oleh laba transitoris, sedangkan value irrelevant component tidak memiliki harga sebab tidak memiliki nilai ekonomis. "Nilai antarkomponen laba berbeda, maka investor harus mengklasifikasikan laba terlaporkan berdasarkan pada kepermanenan tersebut. Sayangnya, laporan laba komprehensif mungkin belum mencerminkan realitas ekonomik yang mendasari transaksi dan kejadian yang dilaporkan sehingga investor atau calon investor harus melakukan analisis akuntansi lebih dahulu terhadap laporan tersebut," katanya.

Ia menambahkan laporan laba komprehensif tidak mengklasifikasi laba secara memadai sebagaimana yang diperlukan untuk analisis sekuritas. Oleh karena itu, investor harus melakukan lebih dahulu recasting dan adjusting. Setelah itu, barulah dilakukan penaksiran nilai intrinsik saham dengan model residual income. "Aturan investasi adalah jika nilai intrinsik lebih tinggi/rendah daripada harga pasar saham, maka investor sebaiknya membeli/menjual. Jika dua hal itu sama, maka investor sebaiknya tetap menahan saham," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan BAPEPAM-LK, Etty Retno Wulandari, mengatakan tujuan adanya laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk melakukan investasi, evaluasi, dan perencanaan. Namun, laporan keuangan juga sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada pemegang saham, dewan komisaris, dan stakeholder lainnya. "Laporan keuangan menunjukkan kinerja profitabilitas perusahaan, kemampuan likuiditas dan solvensi, serta sruktur permodalan. Dengan laporan keuangan ini pula bisa keputusan investasi, baik beli, jual dan hold," pungkasnya.

 

Sumber: Gusti/UGM