Tantangan perdagangan global bukan menjadi isu belaka lagi khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia. Memperkuat daya saing dan stabilitas nasional merupakan kunci agar Indonesia mampu terus maju dan bertahan dalam persaingan di pasar internasional. Isu tersebut yang diangkat dalam "East Asia Policy Dialogue : Leveling Up Indonesia’s Value Added," (Kamis, 17/4) bertempat di Hotel Sheraton Mustika

Yogyakarta. Acara ini merupakan inisiasi dari Program Studi Magister Sains dan Doktor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MSi FEB UGM) yang bekerjasama dengan Economic Research Institute for East Asia (ERIA) dan Setwapres RI. Dialog ini menghadirkan pakar-pakar ekonomi yang sangat memahami kondisi perekonomian Indonesia dan cara Indonesia memposisikan diri dalam kancah perekonomian global, diantaranya yaitu Iwan Jaya Aziz (Head Office of Regional Economic, Integration Asian Development Bank) dan Fukunari Kimuta (Chief Economist ERIA). Dialog ini juga menghadirkan tamu kehormatan, Wakil Presiden Republik Indonesia sekaligus bagian dari keluarga FEB UGM, H.E. Budiono. Dipandu oleh Tony Prasetiantono, dialog berjalan dengan santai namun kaya akan nilai intelektualitas.

 

Budiono tampil sebagai pembicara pertama dengan mengangkat dua isu penting yaitu bagaimana bertahan dan menjaga stabilitas di kala krisis serta langkah yang dapat dilakukan untuk maju di era kompetitif. "Terdapat tiga well proven method untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional : pertama kebijakan fiskal dan moneter yang penuh kehati-hatian; sektor keuangan yang sehat; dan utang pemerintah dan swasta yang dikontrol," jelas Budiono. Terkait meningkatkan nilai tambah dari Indonesia dan upaya untuk terus kompetitif, Budiono menekankan bangsa Indonesia harus terus meningkatkan kreativitas. Melalui kreativitas akan tercipta nilai tambah yang berkelanjutan. Iwan Jaya Aziz menjadi pembicara berikutnya dengan menyoroti besarnya peran dan dampak sektor keuangan bagi perekonomian dunia. Aziz juga menyajikan data-data yang menunjukkan pertumbuhan perdagangan internasional baik di Asia maupun di Indonesia. "Agar dapat kompetitif perlu didukung oleh kebijakan yang mendukung suasana berkompetisi dan selalu produktif,” ungkap Aziz. Fukunari Kimura tampil sebagai pembicara terakhir dengan menekankan pada besarnya potensi Indonesia untuk terus maju dan unggul dalam daya saing global. Fukunari Kimura juga menambahkan bahwa daya saing dan nilai tambah suatu negara dapat ditingkatkan dengan perpartisipasi dalam jaringan produksi internasional, sistem logistik yang lebih baik, dan aglomerasi industri yang efisien.

Dialog ini tidak hanya dihadiri oleh pembicara spesial, namun hadir juga tamu undangan lain seperti Hidetoshi Nishimura (Executive Director of ERIA), Djoko Kirmanto (Menteri Pekerjaan Umum RI), Denny Indrayana (Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI), dan KGPAA Paku Alam IX (Wakil Gubernur DIY). Rangkaian acara lain pun telah diselenggarakan sebelum sesi dialog bersama Wakil Presiden RI, yaitu kuliah umum bersama Dr. Lili Yang In (peneliti ERIA), Dr. Ari Kuncoro (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), dan Dr. Sjamsu Rahardja (Senior Economist, World Bank).

Sumber: Poppy/FEB