Pada Selasa (9/6) diselenggarakan Open House dan Seminar "Prospek Perbankan dan Pasar Modal Syariah di Indonesia" yang bertempat di Auditorium BRI, Gedung Magister Sains dan Doktor FEB UGM. Open house ini diselenggarakan oleh Program Sains dan Doktor (MD) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam rangka pembukaan konsentrasi keuangan syariah di Program Studi Magister Sains (MSi) Manajemen FEB UGM.

Narasumber yang hadir dalam seminar tersebut adalah Fikri Ausyah dari Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Irfan Noor Riza dari bidang pendidikan Bursa Efek Indonesia (BEI) regional Yogyakarta. Seminar yang berlangsung kurang lebih 3 jam dimoderatori oleh Mamduh M. Hanafi, M.B.A, Ph.D selaku Ketua Program Studi Manajemen Program Magister Sains dan Doktor FEB UGM. Penuhnya kursi yang disedikan panitia menunjukkan antusiasme yang tinggi dari peserta yang berasal dari jenjang S1.

Dalam seminar ini dibahas prospek cerah bidang keuangan syariah di Indonesia, terutama dalam hal karir. Pasalnya, saat ini bidang keuangan syariah masih kekurangan tenaga kompeten. "Dunia keuangan syariah masih membutuhkan banyak SDM yang berkompeten. Saat ini, SDM di perbankan syariah mayoritas di tempati oleh lulusan sarjana S1 Ekonomi yaitu 38%, sedangkan lulusan S2 hanya kurang dari 2%" ujar Fikri Ausyah. Setidaknya, dibutuhkan sebanyak 6.700 tenaga kompeten/tahun yang siap terjun di bidang keuangan syariah.

SDM menjadi kendala utama perkembangan keuangan syariah di Indonesia saat ini. Masih banyak orang yang menganggap praktik keuangan syariah lebih rumit daripada keuangan konvensional. "Sebenarnya praktik keuangan syariah tidaklah rumit memiliki bekal knowledge, skill, dan attitude yang syariah," tukas Fikri. Ditambahkan pula oleh beliau bahwa praktik keuangan syariah akan memiliki dampak yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Karena keuangan syariah yang berusaha mengembalikan fungsi uang dari sebagai komoditas menjadi alat tukar akan benar-benar memberikan keadilan bagi nasabah.

Sehubungan dengan dibutuhkannya SDM, geliat pasar modal syariah juga semakin terasa. Irfan Noor Riza mengungkapkan, "Ibarat pembeli di foodcourt, saat ini investor di pasar modal bebas memilih baik investasi yang haram maupun yang halal. Tentunya masyarakat Indonesia yang sebagian besar muslim akan lebih tertarik dengan investasi yang halal".

Akan tetapi, kembali lagi masalah SDM menjadi kendala utama. Untuk dapat menganalisis kehalalalan suatu investasi juga dibutuhkan tenaga ahli yang benar-benar menguasai sharia compliance. Dengan demikian, pilihan investasi halal dapat semakin banyak diidentifikasi dan investor semakin mudah memilih, khususnya investor dalam negeri. Karena saat ini 60% investasi di pasar modal masih berasal dari asing.

Merespon fenomena tersebut, maka Program Magister Sains dan Doktor (MD) FEB UGM secara resmi membuka Konsentrasi Keuangan Syariah pada Program Studi Magister Sains Manajemen untuk Tahun Ajaran 2015/2016 yang akan dimulai pada bulan September 2015. Lulusan program ini diharapkan memiliki pemahaman yang mendalam dan sudut pandang yang luas mengenai industry jasa keuangan di Indonesia baik syariah maupun konvensional.

Mamduh M. Hanafi, M.B.A, Ph.D menyampaikan, "Sebagai fakultas ekonomika dan bisnis pertama yang memperoleh akreditasi internasional dari The Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB) International, kami berharap dapat memberikan kontribusi yang signifikan melalui penyelenggaraan pengajaran dan penelitian di bidang ilmu keuangan dan perbankan syariah untuk memajukan dan mendukung industri keuangan syariah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ke depannya, kami juga berharap untuk dapat menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga nasional maupun internasional dan universitas-universitas yang ternama di bidang keuangan syariah di dunia dalam bentuk penyelenggaraan seminar, konferensi, penelitian, maupun publikasi".

Sumber: Ibe/FEB