Banyak lulusan baru memasuki dunia kerja dengan bekal akademik yang kuat, tetapi tidak sedikit yang mengalami culture shock ketika berhadapan dengan realitas perusahaan atau institusi yang kompleks dan dinamis. Kemampuan analitis, komunikasi, adaptasi, hingga kemauan untuk terus belajar menjadi kompetensi yang semakin penting untuk menjembatani kesenjangan antara teori di ruang kelas dan praktik di dunia profesional.
Hal tersebut mengemuka dalam Alumni Sharing bertajuk “Starting Line: The Journey from Fresh Graduate to Young Professional” yang diselenggarakan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM pada Senin (18/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan alumni FEB UGM dari sektor pemerintahan dan korporasi untuk berbagi pengalaman mengenai transisi dari dunia kampus menuju dunia kerja.
Putut Purwandono, alumni Ilmu Ekonomi FEB UGM angkatan 2004 yang kini menjabat sebagai Division Head of Tax Records Collection and Revenue Development Pemerintah Kota Yogyakarta, menuturkan bahwa melalui pendidikan yang ia peroleh selama kuliah membentuk cara berpikir yang analitis, logis, matematis, dan berbasis data. Namun, menurutnya, kompetensi tersebut perlu dilengkapi dengan kemampuan komunikasi dan pengalaman di luar ruang kelas.
Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan riset selama kuliah menjadi pengalaman berharga yang membentuk kemampuan kepemimpinan, kerja sama tim, dan komunikasi yang kemudian sangat berguna dalam perjalanan kariernya.
“Pengalaman ini membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama tim yang sangat berguna ketika memasuki dunia kerja. Kalau kalian kuat di riset dan suka membaca, ketika masuk dunia kerja kalian akan lebih mudah mengikuti diskusi, memahami persoalan, dan berbicara dengan para senior maupun pimpinan,” jelasnya.
Putut juga menyoroti tantangan yang kerap dihadapi lulusan baru saat memasuki dunia kerja yaitu menyesuaikan teori yang dipelajari selama kuliah dengan realitas di lapangan. Walaupun begitu, ia menekankan bahwa paduan antara pengetahuan akademik dan pemahaman terhadap kondisi dinamika organisasi tetap menjadi fondasi penting.
“Di kampus kita sering melihat berbagai persoalan dari sudut pandang teori yang ideal. Namun ketika masuk ke dunia kerja, kita akan menemukan bahwa setiap keputusan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari politik, anggaran, regulasi, hingga kepentingan berbagai pemangku kepentingan,” tuturnya.
Sementara itu, Angelica Emmy Seraphine, alumni Manajemen 2012 yang saat ini menjabat sebagai Commercial Account Manager di Asuransi Astra membagikan pengalaman meniti karier selama satu dekade. Ia menekankan bahwa pada tahun-tahun awal bekerja adalah fase penting untuk belajar dan memahami perusahaan secara menyeluruh mulai dari posisi, produk atau layanan perusahaan, budaya kerja, hingga karakter rekan kerja.
Menurutnya, kemampuan membangun jejaring profesional dan sikap proaktif dalam mencari informasi menjadi modal penting untuk berkembang di lingkungan kerja yang terus berubah.
“Bangun networking dengan senior maupun lintas divisi. Selain itu, penting sekali untuk bersikap proaktif mencari informasi dan kemauan untuk terus belajar. Teruslah berkembang, karena dunia kerja akan selalu dinamis,” ungkapnya.
Angel juga mengingatkan bahwa perjalanan karier bukanlah proses yang instan. Dalam menghadapi berbagai tantangan dan tekanan pekerjaan, konsistensi untuk terus belajar serta menjaga integritas menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan karier seseorang.
“Karier adalah maraton, bukan sprint. Akan ada tantangan, tekanan, bahkan masa-masa ketika motivasi menurun. Namun yang terpenting adalah tetap belajar, menjaga integritas, dan menemukan alasan yang membuat kita terus bertumbuh,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
