Kemampuan presentasi bukan sekadar soal tampil percaya diri di depan umum. Lebih dari itu, presentasi yang baik membutuhkan struktur yang jelas, alur yang terarah, dan kemampuan untuk menyentuh audiens secara bermakna. Menjawab kebutuhan tersebut, Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM menggelar sesi pelatihan “Presentation Skill” sebagai bagian dari program STAR LEAD (Soft Skills Training and Recharging Leadership Exploration and Development) bagi mahasiswa sarjana angkatan 2025.
Adriani Surono, praktisi pengembangan SDM sekaligus pendiri Executive Coach Indonesia, mengajak mahasiswa FEB UGM untuk menelaah empat tantangan yang paling sering menghambat efektivitas presentasi, yaitu tidak adanya poin yang jelas, alur yang membingungkan, penyampaian yang kurang berenergi, hingga audiens yang tidak terlibat.
Dalam sesi pelatihan yang berlangsung pada Jumat (22/5/2026) di Auditorium Djarum FEB UGM, Adriani menyampaikan bahwa fondasi presentasi yang mudah dipahami adalah pesan yang terstruktur. Melalui The Power of Structure, peserta diperkenalkan pada tiga kerangka, yakni Clock untuk pesan yang mengikuti alur waktu, Globe untuk pesan yang dibagi berdasarkan tempat atau wilayah, dan Triangle untuk tiga gagasan yang saling menopang dalam satu ide utama. Pemilihan struktur yang tepat tidak hanya memudahkan audiens, tetapi juga mendorong presenter untuk berpikir lebih jernih sebelum berbicara.
Namun, Andrian menekankan bahwa struktur yang kuat saja belum cukup jika presenter tidak tahu cara mengarahkan audiensnya. The Power of Navigation mengajarkan bagaimana presenter dapat mengantar audiens dari kondisi awal mereka menuju pesan yang ingin disampaikan, mencakup opening yang mengidentifikasi kekhawatiran utama audiens, content yang mengurai poin-poin secara terstruktur, serta closing yang merangkum bagaimana seluruh alur membawa audiens menuju tujuan yang dimaksud.
Ia menambahkan bahwa cara menyampaikan pesan juga tidak kalah penting. The Power of Delivery yang dirangkum dalam akronim L.VEGAS yakni Language, Voice, Eye Contact, Gesture, Archetype, dan Setting, menjadi pengingat bahwa koneksi antara presenter dan audiens tidak hanya terbangun dari isi pesan, tetapi juga dari bagaimana pesan itu disampaikan secara fisik dan emosional.
Adriani juga menekankan bahwa presentasi yang baik tidak terlepas dari kemampuan untuk mengenali audiens. Melalui The Power of Dialogue, peserta diperkenalkan dengan empat tipe audiens, yaitu The Go-Between, The Socializer, The Analyst, dan The Chief. Masing-masing memiliki cara menerima informasi yang berbeda, sehingga presenter yang mampu membaca dan menyesuaikan pendekatannya akan jauh lebih efektif dalam menyampaikan pesan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa angkatan 2025 semakin percaya diri dan terampil dalam menyampaikan gagasan secara terstruktur, terarah, dan berdampak, baik dalam konteks akademik maupun dalam persiapan karier di masa mendatang.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum

