Kenaikan suhu tidak hanya membuat cuaca terasa lebih gerah, tetapi juga berdampak pada pendapatan usaha kecil di Indonesia. Hal tersebut menjadi temuan dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).
Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., Elan Satriawan, S.E., M.Ec., Ph.D., dan Esa Azali Asyahid, S.E., M.Sc., melakukan riset ini bersama peneliti dari Department of Economics, College of William and Mary. Penelitian yang bertajuk Climate Change and Small Business Productivity mengungkap dampak perubahan temperatur terhadap produktivitas usaha rumah tangga di Indonesia.
Penelitian tersebut menganalisis data Indonesia Family Life Survey (IFLS) yang dikombinasikan dengan data historis temperatur dan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Pendekatan ini digunakan untuk melihat bagaimana perubahan iklim memengaruhi produktivitas usaha rumah tangga.
Usaha kecil berbasis rumah tangga dipilih sebagai fokus penelitian karena perannya yang besar dalam perekonomian, namun kapasitas adaptasinya terhadap cuaca ekstrem relatif terbatas. Di Indonesia, sekitar 99 persen unit usaha berada pada kategori UMKM dan sebagian besar dijalankan dari rumah tangga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu berkaitan dengan penurunan pendapatan usaha. Besarnya penurunan tersebut bergantung pada perubahan temperatur dari kondisi normal suatu wilayah.
“Kami menemukan bahwa kenaikan temperatur tahunan sebesar 1 derajat Celsius dari kondisi normal menyebabkan penurunan pendapatan usaha sekitar 13 hingga 14 persen. Sementara itu, pendapatan tiap pekerja dapat turun hingga sekitar 20 persen,” ujar Esa dalam Research Series bertajuk “Climate Change and Small Business Productivity”.
Sebagai gambaran, pada UMKM dengan omzet normal tahunan sebesar Rp60 juta, kenaikan suhu 1 derajat Celsius diperkirakan dapat menurunkan pendapatannya hingga di bawah Rp52 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak berhenti pada lingkungan, tetapi juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha.
Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa pengaruh suhu terhadap produktivitas tidak bersifat linear, melainkan membentuk pola seperti huruf U terbalik.
“Produktivitas cenderung optimal pada temperatur rata-rata tahunan sekitar 25 hingga 26 derajat Celsius. Namun ketika temperatur terus meningkat melewati titik tersebut, produktivitas mulai mengalami penurunan secara signifikan,” jelasnya.

Temuan tersebut menjadi semakin penting jika melihat kondisi suhu di Indonesia. Rata-rata suhu di banyak wilayah Indonesia sudah berada di angka 26,6 derajat Celsius. Suhu maksimum harian di area Jabodetabek bahkan belakangan bisa mencapai 36 derajat Celsius. Usaha berskala kecil dan sektor padat karya seperti konstruksi, manufaktur, serta usaha makanan tercatat mengalami tekanan produktivitas paling besar.
“Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang membuat pekerja melambat dan lebih sering beristirahat. Suhu panas juga mengganggu kemampuan kognitif pekerja dalam mengambil keputusan, sehingga memperlambat reaksi dan mengurangi akurasi kerja,” ujarnya.
Meski produktivitas menurun, pemilik usaha tetap harus beroperasi dengan ongkos yang sama. Kondisi ini berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi, karena kelompok yang paling rentan justru memiliki kapasitas adaptasi paling terbatas. Menurut Esa, temuan tersebut menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih responsif terhadap kondisi sektor informal.
“Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan juga persoalan produktivitas, kesejahteraan, dan pembangunan ekonomi,” tegasnya.
Ia menilai strategi adaptasi iklim pemerintah selama ini masih berfokus pada industri besar dan sektor pertanian, sementara regulasi usaha kecil belum secara eksplisit mempertimbangkan risiko suhu. Ia mendorong sejumlah langkah intervensi, seperti insentif finansial, akses teknologi pendingin, jam kerja yang lebih fleksibel, dan perlindungan sosial yang responsif terhadap guncangan cuaca.
Video Research Series bertajuk “Climate Change and Small Business Productivity” dapat diakses melalui tautan: http://ugm.id/DampakPerubahanSuhuTerhadapUSaaRumahTanggaIndonesia
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
