Kemiskinan menjadi salah satu permasalahan sosial yang menjadi tantangan tersendiri bagi suatu negara. Salah satu bentuk kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengatasi kemiskinan adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa. Harapannya, dengan bantuan ini masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan mereka, termasuk bagi anak-anaknya. Namun, apakah dengan bantuan ini anak-anak dapat merasakan manfaatnya?
Pertanyaan tersebut menjadi titik awal penelitian Syaila Anya Tanaya dalam menyusun disertasi sata menjalani studi di Magister Ekonomi Pembangunan Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MEP FEB UGM). Ia mengkaji dampak BLT Dana Desa terhadap gizi anak, terutama pada pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI).
Kemiskinan dan Tantangan Gizi Anak
Syaila yang telah lulus dari prodi MEP FEB UGM pada Januari 2026 lalu menyoroti masalah gizi dan stunting masih menjadi salah satu persoalan yang erat kaitannya dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam periode 2013-2023, sekitar satu dari lima anak di Indonesia mengalami stunting.
“Sejak 2020, pemerintah menjalankan BLT Dana Desa sebagai salah satu instrumen perlindungan sosial bagi masyarakat desa dengan nilai mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahunnya. Bantuan ini diberikan dalam bentuk uang tunai yang bersifat tanpa syarat atau unconditional cash transfer,” paparnya dalam program 3 Minute Tesis berjudul “Dari Dana Desa ke Gizi Anak: Evaluasi Dampak BLT di Indonesia”.
Menurut household production theory dan engel’s law, lanjutnya, tambahan pendapatan ini akan meningkatkan kemampuan rumah tangga dalam memenuhi konsumsi, termasuk kebutuhan pangan anak sehingga kualitas gizi anak seharusnya ikut meningkat.
Syaila menjelaskan penelitian dilakukan melihat rumah tangga yang memiliki anak usia 0-24 bulan menggunakan data SUSENAS 2022 dan 2023 yang digabungkan dengan PODES 2021. Usia tersebut dipilih karena dua tahun pertama merupakan periode yang sangat penting bagi pertumbuhan anak.

Penelitian dilakukan untuk mengkaji pemberian ASI dan kualitas MPASI, khususnya apakah makanan yang diberikan sudah cukup beragam. Selain itu, penelitian ini juga melihat aspek penting dari BLT Dana Desa yang hanya diberikan kepada keluarga yang sejak awal cenderung lebih miskin dan rentan.
Penelitian ini menghasilkan fakta yang menarik. BLT Dana Desa terbukti berhasil mengubah isi piring anak. Kebijakan ini berhasil meningkatkan peluang anak mendapatkan MPASI yang beragam sebesar 9,38 poin. Artinya, tambahan pendapat yang dimiliki keluarga dapat disalurkan menjadi makanan yang lebih beragam bagi anak seperti telur, ikan, sayuran, atau makanan lain yang sebelumnya lebih sulit dibeli oleh keluarga miskin.
“BLT Dana Desa dapat membuat keluarga miskin mampu untuk memakan makanan yang lebih bergizi untuk anak,” ujar Syaila.
Uang Dapat Membeli Makanan, tetapi Tidak Dengan Waktu
BLT Dana Desa memang bisa meningkatkan peluang anak mendapatkan MPASI beragam, tetapi dampaknya tidak signifikan terhadap pemberian ASI. Berbeda dengan MPASI, pemberian ASI membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, yakni waktu. Kondisi ibu, pekerjaan, tekanan sosial, hingga kondisi fisik dan psikologis ibu dapat memengaruhi pemberian ASI. Menurut Syaila, bantuan ekonomi perlu berjalan bersama dengan edukasi gizi, layanan posyandu, dukungan kesehatan, serta pendampingan bagi ibu dan anak, terutama selama 1000 hari pertama kehidupan.
“Cash is necessary, but not sufficient. Ketika kita berbicara ASI, kita berbicara tentang waktu. ASI itu lebih bersifat time-intensive sedangkan MPASI relatif money-intensive sehingga dapat berubah jika terdapat peningkatan pemasukan keluarga, tetapi tidak dengan ASI,” ungkap Syaila,
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya dapat dilihat dari seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi juga dari bagaimana bantuan tersebut diterjemahkan menjadi kesejahteraan di dalam rumah tangga. Dalam konteks gizi anak, uang memang dapat membantu keluarga menyediakan makanan yang lebih beragam, tetapi kebutuhan anak tidak berhenti pada makanan.
Video selengkapnya Program 3 Minute Tesis berjudul Dari Dana Desa ke Gizi Anak: Evaluasi Dampak BLT di Indonesia dapat diakses melalui http://ugm.id/EvaluasiDampakBLTdiIndonesia.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
