Aushaaf Rafif Keane Pribadi (Ilmu Ekonomi 2022) awalnya sama sekali tidak menyangka akan menekuni Ilmu Ekonomi hingga menjadi wisudawan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Periode IV Tahun Akademik 2025/2026. Rafif berhasil menyelesaikan studinya di Program Studi Ilmu Ekonomi dalam waktu 3 tahun 11 bulan 5 hari dengan IPK 3,95. Pencapaian tersebut kemudian mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik.
Namun, siapa sangka, perjalanannya berawal dari pengalaman yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya. Saat masih SMA, seluruh siswa di sekolah Rafif diwajibkan mengikuti tes penjaringan Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk semua mata pelajaran, termasuk mata pelajaran ekonomi. Tak disangka, pria asal Bantul ini lolos seleksi tersebut dan terpilih untuk mengikuti OSN Ekonomi. Dari sana, ia mulai mendalami mata pelajaran peminatan ekonomi meski berasal dari jurusan IPA.
Rasa ingin tahunya tumbuh seiring waktu. Ia menyadari bahwa ekonomi bukan sekadar rumus dan angka, melainkan bidang yang melibatkan banyak pertimbangan dari dunia nyata. Rasa penasaran itulah yang kemudian membuatnya yakin untuk memilih Ilmu Ekonomi FEB UGM.
“Ketika kita berbicara tentang sosial, tidak hanya sekadar angka-angka, tapi di sana ada banyak banget faktor yang memengaruhi bagaimana suatu hal di dunia nyata itu bisa terjadi,” ujarnya.
Setelah memasuki perkuliahan, ketertarikannya pada ekonomi semakin mendorongnya untuk memahami materi yang dipelajari. Ia tidak terlalu memikirkan pencapaian akademik tertentu, tetapi lebih terdorong oleh rasa ingin tahu.
“Saat ada materi yang belum saya pahami, saya pelajari sendiri, saya cari tahu, dan saya ingin benar-benar paham materi tersebut karena rasa ingin tahu,” ungkapnya.
Tantangan Saat Kuliah
Namun, perjalanan perkuliahannya tidak selalu berjalan dengan mudah. Pada semester kedua, Rafif mengalami cedera lutut yang membuatnya kesulitan beraktivitas di kampus selama lebih dari 1 tahun. Ia juga harus menjalani operasi serta fisioterapi selama masa pemulihan.
Kondisi tersebut membuat Rafif perlu menyesuaikan berbagai aktivitasnya, mulai dari perkuliahan hingga kegiatan organisasi. Ia juga harus mencari cara agar tetap dapat mengikuti aktivitas akademik di tengah keterbatasan mobilitas.

Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak di FEB UGM sangat membantu selama masa pemulihan. Pihak akademik mengakomodasi pelaksanaan kelas dan ujian secara daring, sementara teman-temannya turut membantu mobilisasi saat ia harus datang ke kampus.
Memasuki semester lima, tantangan yang dihadapi Rafif bergeser pada beban akademik. Beberapa mata kuliah dengan materi dan tugas yang cukup padat harus dijalani dalam satu semester. Untuk menghadapinya, Rafif memilih cara yang sederhana. Setiap tugas yang diberikan, ia berusaha mengerjakannya sesegera mungkin, terutama saat masih berada di kampus. Baginya, menunda seluruh tugas hingga akhir pekan justru akan membuat bebannya semakin berat.
Selain itu, ia terbiasa menggunakan to-do list untuk mengatur pekerjaannya. Rafif tidak menetapkan jadwal secara rinci berdasarkan jam, melainkan mencatat berbagai hal yang harus diselesaikan setiap hari.
“Sebelum besok, di malam hari atau sore hari sebelumnya, aku list terlebih dahulu kira-kira besok tugas-tugas apa aja, belajar apa, atau persiapan apa saja,” jelasnya.
Cara tersebut membantunya melihat pekerjaan yang sudah dan belum diselesaikan sekaligus menentukan tugas yang perlu dikerjakan pada hari-hari berikutnya.
Aktif Berorganisasi, Proyek Sosial, dan Kompetisi
Di luar kegiatan akademik, Rafif aktif di Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIESPA), khususnya di Departemen Kajian dan Penelitian (DKP). Ia memilih departemen tersebut karena ingin mengembangkan kemampuan menulis. Dari pengalaman tersebut, ketertarikannya terhadap dunia riset pun semakin berkembang.
Selain aktif berorganisasi, Rafif juga merupakan penerima Tanoto Scholars. Melalui Tanoto Scholars Association (TSA) UGM, ia mengikuti berbagai pelatihan rutin dari Tanoto Foundation. Pada semester lima dan enam, ia dipercaya menjadi project leader dalam proyek sosial terkait bank sampah di Yogyakarta. Proyek tersebut berangkat dari persoalan pemasaran produk daur ulang yang dihadapi oleh sejumlah bank sampah di Yogyakarta.
“People work with incentive, dan itu jadi salah satu hal yang aku angkat sebagai proyek sosial yang kami kerjakan selama kurang lebih 1 tahun,” jelasnya.
Ketertarikannya terhadap riset juga semakin berkembang ketika memasuki semester akhir. Di bawah bimbingan sejumlah dosen, termasuk Elan Satriawan, Rafif mulai terlibat sebagai asisten peneliti. Ia juga menjadi asisten pengajar pada beberapa mata kuliah.
Selain kegiatan akademik dan riset, Rafif sempat mengikuti sejumlah kompetisi, mulai dari business plan, business case, hingga paper. Salah satu pencapaiannya adalah meraih Juara 3 dalam PYC International Energy Conference Essay Competition 2023. Bersama timnya yang beranggotakan lima mahasiswa, ia juga mengangkat tema ekonomi kerakyatan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) hingga mengantarkan timnya lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-37.

Bagi Rafif, banyaknya aktivitas yang dijalani bukan berarti harus mengerjakannya semua secara bersamaan. Ia justru memilih menetapkan fokus sejak awal semester dan tidak mengambil terlalu banyak kegiatan dalam satu waktu.
“Manajemen waktu itu starts with planning. Jadi, bukan hanya bagaimana kita mengatur waktu ketika suatu hal atau kegiatan itu sudah terjadi, tetapi dari awal, sebelum kita mengambil kegiatan itu, kita harus sudah siap,” tuturnya.
Makna Sebuah Pencapaian
Menjadi wisudawan terbaik bagi Rafif merupakan sebuah kehormatan. Meski demikian, ia tidak melihat predikat tersebut semata-mata sebagai ukuran bahwa dirinya merupakan mahasiswa terbaik. Menurutnya, mahasiswa memiliki pencapaian dan fokus yang berbeda-beda. Ada yang lebih banyak berorganisasi, mempersiapkan karier, dan mengembangkan proyek tertentu. Karena itu, ia melihat predikat wisudawan terbaik sebagai kesempatan untuk mewakili mahasiswa lain yang juga memiliki perjalanan masing-masing.
Kepada mahasiswa FEB UGM, Rafif berpesan agar mulai menemukan arah masing-masing saat memasuki pertengahan masa perkuliahan. Ia menilai mahasiswa perlu mulai menentukan hal yang ingin dicapai sekaligus mempersiapkan diri sebelum terjun ke jalan masing-masing setelah lulus.
“Silakan kalian cari jalan kalian masing-masing. Ketika kalian sudah masuk di pertengahan perkuliahan, kalian sudah bisa membayangkan kira-kira apa yang ingin kalian capai di FEB dan setelah lulus,” pesannya.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum




