Program Sarjana Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) terus berkomitmen untuk memperkuat relevansi pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja melalui pelaksanaan tracer study. Selain menjadi bagian dari evaluasi, program ini juga menghadirkan pengguna lulusan untuk memberikan masukan agar setiap proses pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan industri dan dunia profesional.
Survei pengguna lulusan yang dilakukan Unit Admisi, Kemitraan, dan Alumni (AKA) FEB UGM meliputi respon user atas sembilan komponen kemampuan alumni yang terdiri dari integritas moral dan etika, profesionalisme, kemampuan berbahasa Inggris, penggunaan teknologi, kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, kemampuan analisis data, wawasan mengenai isu sustainability, dan kepemimpinan.
Hasil tracer study menunjukkan sembilan aspek kompetensi lulusan dinilai baik oleh pengguna, dengan skor antara 3,33 hingga 3,78 dari skala 4.Dari seluruh aspek tersebut, integritas moral dan etika memperoleh penilaian tertinggi dengan skor 3,78. Tiga kompetensi berikutnya, yakni penggunaan teknologi informasi, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan analisis data, masing-masing memperoleh skor 3,67.
Sementara itu, profesionalisme dan kerja sama tim memperoleh skor 3,56. Adapun kemampuan berbahasa Inggris, wawasan mengenai isu sustainability, dan kepemimpinan masing-masing memperoleh skor 3,33. Seluruh aspek tersebut berada dalam kategori baik.
Ketua Prodi S1 Manajemen FEB UGM, Rr. Tur Nastiti, S.E., M.Si., Ph.D., menyampaikan hasil tracer study memberikan gambaran bahwa kompetensi lulusan telah dinilai baik oleh pengguna lulusan pada berbagai aspek yang dibutuhkan di dunia kerja. Pengalaman alumni juga menunjukkan bagaimana bekal yang diperoleh selama masa studi dapat berkembang dan diterapkan dalam perjalanan profesional.
Abdillah Rasyid Baswedan, alumni program studi sarjana Manajemen FEB UGM angkatan 1999 yang saat ini berkarier di bidang investasi sebagai Partner di Quvat Management Pte Ltd., menilai pengalaman mahasiswa selama kuliah berperan dalam membentuk kemampuan yang dibutuhkan ketika memasuki dunia profesional. Tak hanya itu, kegiatan kemahasiswaan, interaksi dengan dosen, pengalaman organisasi, serta kesempatan menghadapi berbagai persoalan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Pengalaman tersebut melengkapi pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran di kelas.
“Ada banyak hal yang mungkin tidak secara eksplisit diajarkan dalam silabus di bangku perkuliahan tetapi terpakai di dunia kerja. Salah satunya kemampuan problem solving. Ketika kita menghadapi berbagai masalah, kemampuan-kemampuan yang sifatnya general tersebut justru banyak membantu setelah lulus,” ungkapnya.
Sebagai pengguna lulusan, Abdillah juga menilai lulusan Sarjana Manajemen FEB UGM memiliki kemampuan akademik yang menjadi modal untuk memasuki dunia kerja. Di lingkungan profesional, lulusan terlibat dalam beragam pekerjaan, mulai dari riset, penyusunan financial model dasar, pembuatan research report dan information memorandum, hingga penyiapan berbagai dokumen terkait investasi.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses adaptasi lulusan baru dalam memahami bagaimana pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan diterapkan dalam situasi profesional. Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, problem solving, komunikasi, serta pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI). AI, menurutnya, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperdalam riset, memperoleh perspektif yang lebih beragam, dan meningkatkan kualitas produk, tanpa menggantikan proses berpikir manusia.
Melalui tracer study dan masukan dari pengguna lulusan, S1 Manajemen FEB UGM terus memperoleh perspektif mengenai kebutuhan dunia profesional. Dengan pembelajaran yang terus dievaluasi dan dikembangkan, S1 Manajemen FEB UGM berupaya mempersiapkan mahasiswa tidak hanya untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan kontribusi di tengah perubahan dunia profesional.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
