Kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi mahasiswa menghadapi derasnya arus informasi di media sosial dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Kemampuan ini diperlukan agar mahasiswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memeriksa bukti dan mengevaluasi kebenarannya.
Dr. Ina Melati, S.E., M.M., dosen Departemen Manajemen FEB UGM menegaskan bahwa mahasiswa perlu membiasakan diri berpikir kritis dalam menghadapi informasi, memecahkan masalah, dan menyampaikan pendapat secara terstruktur.
“Ketika kita berpikir kritis, kita dapat mengambil keputusan secara efektif dan bijak dengan mengungkapkan sesuatu yang didukung oleh bukti dan data. Dengan begitu, kita dapat menyampaikan pendapat dengan lebih bijaksana,” jelasnya dalam sesi Mandatory Softskills: Critical Thinking yang diselenggarakan Career and Student Development Unit (CSDU), Jumat (25/9). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya FEB UGM membekali para mahasiswa untuk dapat berpikir kritis dalam menghadapi derasnya arus infromasi.
Ina menyampaikan salah satu risiko ketika seseorang tidak menerapkan berpikir kritis adalah munculnya anecdotal evidence yaitu kesimpulan yang dibangun berdasarkan pengalaman pribadi dengan informasi yang terbatas. Pengalaman tersebut sering kali dianggap sebagai kebenaran sebab seseorang cenderung menggunakan apa yang dialami sebagai acuan.
“Setiap orang memiliki pengalaman dan kita sering merasa bahwa pengalaman kita yang paling benar. Ketika menyampaikan informasi, dampaknya kita cenderung menggunakan pengalaman pribadi sebagai acuan,” ujarnya.
Untuk menghindari hal tersebut, Ina mendorong mahasiswa tidak menjadikan opini atau pengalaman pribadi sebagai satu-satunya dasar dalam menyampaikan informasi. Mahasiswa perlu melakukan riset dan pencarian data agar suatu pendapat yang disampaikan memiliki dasar yang lebih kuat.
Di tengah derasnya arus perkembangan informasi, semakin marak juga informasi tidak revelan yang tersebar melalui media sosial. Ina mencontohkan seseorang yang memiliki persona baik dan citra positif sehingga publik percaya terhadap semua hal yang disampaikan. Padahal belum tentu informasi yang disampaikan adalah sebuah kebenaran. Karena itu, setiap informasi perlu diperiksa dan dievaluasi sebelum dipercaya atau disebarluaskan.
“Dasar dari berpikir kritis adalah mempertanyakan dan mengidentifikasi masalah serta mengumpulkan dan mengevaluasi informasi. Dengan kata lain kita harus memfilter semua informasi yang tersedia,” ujarnya.
Ina menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui latihan dan kebiasaan sehari-hari. Mahasiswa dapat melatihnya dengan membandingkan, menganalisis, mengelompokkan, dan mengevaluasi berbagai informasi. Membaca juga menjadi salah satu cara untuk membangun kebiasaan tersebut.
Saat membaca suatu tulisan, misalnya, mahasiswa dapat mempertanyakan apakah pernyataan yang disampaikan memiliki bukti yang mendukung. Dengan cara ini, pembaca tidak sekadar menerima informasi, tetapi turut mengevaluasi bagaimana sebuah kesimpulan dibangun.
Selain kemampuan mengevaluasi informasi, kemampuan berpikir kritis juga menuntut seseorang untuk mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Menurut Ina, berpikir kritis bukan sekadar mencari kesalahan pada pendapat orang lain, tetapi juga bersedia menerima fakta yang tidak sesuai dengan pandangan pribadi.
“Ini merupakan bentuk critical thinking sekaligus fairness karena kita tidak hanya kritis terhadap orang lain tetapi juga dengan diri sendiri,” ujarnya.
Ina menambahkan bahwa kemampuan menyampaikan argumentasi juga menjadi bagian penting dalam berpikir kritis. Argumentasi yang kuat tidak ditujukan membuat pihak lain merasa kalah atau terpaksa menerima pendapat yang diajukan, melainkan untuk menunjukkan alasan dan bukti secara logis.
“Winning an argument tidak berarti membuat orang lain kalah. Argumentasi yang baik adalah ketika kita mampu menunjukkan alasan dan bukti secara logis, termasuk ketika kita menemukan bahwa suatu pernyataan memang tidak benar,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
