Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2009-2014 yang juga Guru Besar Purna Tugas Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. Boediono, mendorong FEB UGM untuk mencetak pemimpin yang bukan hanya menguasai ilmu, namun juga berintegritas, berani mengambil keputusan terutama di saat kritis, dan arif. Hal tersebut disampaikan dalam kunjungannya ke FEB UGM saat diskusi bersama dosen-dosen Departemen Ilmu Ekonomi dan Dekanat, Selasa (6/10).
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Boediono menyampaikan kekaguman beliau pada kemajuan besar sarana-prasarana FEB UGM dan berpesan agar kemajuan fisik ini juga dibarengi dengan kemajuan dalam substansi pembelajaran khususnya kurikulum.
Dalam kaitan itu dan dinamika ekonomi saat ini, Prof. Boediono mengingatkan pesan beliau di bukunya Ekonomi Indonesia: Dalam Lintasan Sejarah yang juga disampaikan di saat menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dari CNBC 2025, bahwa “Sejarah memberikan pelajaran bagi mereka yang mau belajar darinya dan dari situ tumbuh kearifan.”
Lebih jauh Prof. Boediono menjelaskan bagaimana Indonesia mencapai prestasi ekonomi yang gemilang dan diakui dunia selama hampir 3 dasawarsa di masa Presiden Soeharto. Kuncinya ada pada pemimpin politik yang mendengarkan nasihat para teknokrat ekonomi dan sinkron antara satu sektor dengan sektor yang lain.
Sementara itu, dari sejarah krisis ekonomi, Prof. Boediono mengingatkan bahwa sumber krisis bisa berasal dari dalam maupun luar negeri. Kita memang tidak dapat berbuat banyak bila sumbernya dari luar negeri. Namun kita bisa membangun ketahanan ekonomi domestik sehingga kuat menahan krisis.
Di saat krisis, seperti krisis keuangan global 2008, pemimpin harus membuat keputusan untuk mencegah krisis meluas di Indonesia. Padahal, tidak semua informasi ada di tangan. Namun bila keputusan tidak dibuat, dampaknya akan mahal bagi perekonomian.
Berbeda dengan situasi normal, di saat krisis, setiap jam yang berlalu sangat berarti bagi nasib ekonomi kita. Namun kadangkala, begitu keputusan dibuat dan ekonomi kita selamat, orang lupa seolah tidak pernah terjadi krisis.
Dekan FEB UGM, Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D., menyambut gembira atas kehadiran Prof. Boediono di kampus FEB UGM. Kehadiran Prof. Boediono memiliki makna istimewa karena FEB UGM merupakan bagian penting dari perjalanan akademik dan pengabdian beliau. Pun bagi Prof. Boediono, karena UGM disebut sebagai rumah beliau sampai akhir hayat nanti.
Bayu menyampaikan kehadiran Prof. Boediono menjadi kesempatan berharga bagi FEB UGM untuk memperoleh perspektif Prof. Boediono yang memiliki pengalaman panjang di pemerintahan mulai dari Menteri PPN/Kepala Bappenas, Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia, hingga Wakil Presiden RI.
“Berbagai masukan berbasis rekam jejak panjang dan kearifan beliau sangat menginspirasi kami untuk semakin maju dan memberikan impak yang baik bagi masyarakat,” jelas Bayu.
Suasana diskusi berlangsung cair dan akrab. Di tengah perbincangan, Prof. Boediono juga bernostalgia mengenang berbagai pengalaman bersama rekan-rekan dosen FEB UGM dan bagaimana beliau ditawari oleh Prof. Sukadji untuk mengajar di UGM hingga akhirnya direkrut oleh Menkeu Prof. J.B. Sumarlin melalui Bapak Adrianus Mooy atas masukan dari Prof. Widjojo Nitisastro setelah Prof. Widjojo terkesan dengan tulisan Prof. Boediono di harian Kompas.
“Dengan sikap yang jernih dan bersahaja, Prof. Boediono mendengarkan sekaligus berbagi pengalaman dengan para dosen lintas generasi, menciptakan ruang dialog yang hangat dan penuh makna,’’ ungkapnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
