Acara "Diseminasi Kajian Pengaruh Regime Kebijakan BBM Yang Baru terhadap Inflasi dan Rasionalitas Para Pelaku Usaha" (2/12/2015) menghadirkan Rimawan Pradiptyo, Akhmad Akbar, Abraham Wirotomo, Yudhistira Permana, dan Alvin Adisasmita sebagai peneliti dan Berly Mertawardaya sebagai panelis. Dalam acara ini dipaparkan dua hasil kajian terkait bagaimana regim kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang baru mempengaruhi inflasi dan rasionalitas para pelaku usaha di Indonesia. Kajian pertama menggunakan pendekatan ekonometri sedangkan kedua menggunakan pendekatan ekonomika keprilakuan (behavioral economics).

Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa elastisitas antara harga komoditas dengan harga BBM tidaklah simetris dengan menggunakan data dari 66 daerah di Indonesia. Di daerah-daerah itu harga komoditas lebih elastis jika harga BBM naik dibandingkan jika turun. Kajian yang lain menunjukan bahwa para pelaku usaha cenderung menghindari resiko (risk averse) dengan menggunakan data dari pedagang dan produsen di Yogyakarta dan Pontianak. Ketidakpastian akan kapan dan seberapa besar harga BBM akan berubah akan mendorong munculnya inflasi ekspektasian (expected inflation).

Berly menanggapi bahwa hasil kajian ini dapat menjadi informasi yang berharga bagi pemerintah dalam menyusun strategi penanggulangan inflasi yang diakibatkan dari perubahan harga BBM. Berly juga memaparkan adanya kondisi prisoner dilemma. Dimana pelaku usaha saling berusaha menjaga keuntungan mereka dengan cara menaikan harga komoditas ketika harga BBM naik, akan justru berdampak negatif untuk perekonomian secara keseluruhan. Dengan menggunakan sampel dari Yogyakarta dan Pontianak, kajian ini memberikan gambaran bagaimana perbedaan akses BBM dapat mempengaruhi bagaimana pelaku usaha merespon perubahan harga BBM.

Sumber: p2eb.feb