Gejolak tajam mengguncang Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134,70 anjlok drastis pada 29 Januari hingga memicu penghentian perdagangan atau trading halt untuk kedua kalinya.
Guru Besar Keuangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr.rer.soc. R. Agus Sartono, M.B.A., menyampaikan penurunan IHSG yang cukup signifikan atau dikenal dengan January Effect ini timbul akibat dari krisis kepercayaan terhadap transparansi pasar modal Indonesia yang memicu reaksi berantai dari investor global. Kondisi tersebut dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yaitu perusahaan riset investasi global yang menyediakan indeks saham, analisis portofolio bagi investor institusi di seluruh dunia.
“MSCI menerapkan interim freeze atau membekukan penilaian saham Indonesia, yang kemudian menghancurkan ekspektasi pertumbuhan jangka pendek,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu (31/1/2026).
Agus Sartono menjelaskan langkah yang diambil MSCI ini karena melihat kurangnya transparansi data mengenai struktur kepemilikan saham (beneficial ownership) dan konsentrasi kepemilikan yang tinggi pada beberapa saham berkapitalisasi besar. Kode broker, kode domisili, ditutup selama trading hours. Kemudian saham-saham dalam pemantauan kemungkinan dilakukan full call auction sehingga pembentukan harga menjadi tidak transparan karena tidak diketahui berapa antrian order buy and sell.
Ketidakpastian ini, lanjutnya, menyebabkan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) masif, mencapai Rp6,17 triliun tanggal 28 Januari. Hari berikutnya 29 Januari 2026 masih berlanjut, net sell investor asing sekitar Rp4,63 trilyun.
“Faktor inilah yang menekan IHSG dan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi thin market sehingga mudah untuk di goreng saham-sahamnya,” tutur dosen Departemen Manajemen FEB UGM ini.
Agus Sartono menambahkan mundurnya Direktur Utama BEI pada 30 Januari 2026 yang dipandang sebagai bentuk pertanggungjawaban atas gejolak pasar yang ekstrem justru membuat pasar semakin goyah. Kemudian disusul pengunduran diri Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi pada tanggal 30 Januari 2026. Kondisi ini akan membuat pasar semakin tertekan.
Penyebab Cepatnya Reaksi Pasar
Lantas mengapa reaksi pasar begitu cepat? Agus Sartono menjelaskan bahwa bottom line investasi baik di aset riil maupun aset finansial didasarkan pada ekspektasi atau harapan akan kemampuan aset menghasilkan “free cash flows” dimasa yang akan datang. Selain itu, investasi harus mampu menghasilkan return on invested capital lebih tinggi dari pada cost of capital.
Keputusan MSCI menimbulkan kekhawatiran investor bahwa harga saham tidak mencerminkan true value atau nilai yang sebenarnya. Terdapat kekhawatiran bahwa transaksi yang terjadi adalah semu karena dilakukan oleh investor yang notabene kepanjangan tangan dari pemilik mayoritas. Sementara kinerja fundamental perusahaan jelek. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena volume transaksi retail sangat kecil dan berpotensi investor hanya ikut-ikutan saja.
“Studi mahasiswa bimbingan saya di FEB UGM juga menunjukan bahwa ada perilaku FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan. Sehingga investor melakukan jual beli saham hanya karena ikut-ikutan dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup bagaimana melakukan penilaian investasi khususnya sekuritas,” urainya.
Agus menjelaskan aksi jual yang berdampak anjloknya IHSG dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap potensi hilangnya likuiditas di masa depan. Kondisi ini mendorong perilaku ikut-ikutan atau herding behavior dimana investor domestik turut melepas asetnya untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Alih-alih meredam tekanan, aksi ini justru memperdalam kejatuhan indeks.
Menurutnya, penurunan IHSG kali ini bukan sekadar fluktuasi teknis, melainkan cerminan dari tuntutan pasar global terhadap standar tata kelola yang lebih tinggi. Dalam konteks ini OJK dan BEI dihadapkan pada pekerjaan besar dan mendesak untuk meningkatkan regulasi free float dan keterbukaan pemilik manfaat guna memulihkan kepercayaan investor.

Pelajaran Bagi Investor
Agus Sartono mengatakan pasar modal merupakan media pembiayaan investasi jangka panjang. Melalui Initial Public Offering (IPO) perusahaan dapat memperoleh pendanaan investasi yang akan menjamin pertumbuhan. Indek bursa di negara maju sering dipakai sebagai indikator perkembangan ekonomi satu negara. Semakin kuat kinerja korporasi, maka semakin tinggi kontribusinya terhadap penerimaan pajak, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan per kapita, peningkatan daya beli, dan penurunan kemiskinan.
Namun demikian, Agus Sartono menekankan pemerintah melalui OJK perlu meninjau kembali aturan yang membolehkan perusahaan dengan free cash flow negative untuk melakukan IPO. Selain melindungi investor kecil, langkah ini krusial untuk mencegah corporate action yang tidak semestinya. Pengalaman IPO sejumlah startup dengan arus kas negatif, yang sempat oversubscribe akibat framing prospek berlebihan, menjadi pelajaran pahit ketika harga saham anjlok tajam di pasar sekunder dan meninggalkan kerugian besar bagi investor.
Pentingnya Keterbukan Informasi Publik
Agus Sartono menyampaikan bahwa akar persoalan kembali pada keterbukaan informasi informasi publik guna menjaga kepercayaan pasar. Semakin maju sebuah bursa, semakin ketat pula persyaratan pencatatan saham demi melindungi seluruh pemangku kepentingan. Perusahaan publik dituntut menyajikan informasi keuangan yang utuh, transparan, dan sesuai standar, dengan dukungan profesi akuntan dan lembaga pemeringkat yang kredibel. Oleh sebab itu, edukasi bagi masyarakat terkait valuasi perusahaan pun perlu digencarkan agar kepentinganya terlindungi saat berinvestasi di bursa dan keputusan investasi tidak semata didorong euforia
Dalam kondisi saat ini dimana tingkat pengangguran relatif tinggi, pertumbuhan kredit melambat, dan risiko defisit yang meningkat, Agus Sartono menilai investor perlu kembali fokus pada fundamental perusahaan dan memperhatikan indikator ekonomi. Menurutnya, transisi kembali pada pendekatan Free Cash Flow (FCF) menjadi keharusan strategis untuk memulihkan kredibilitas pasar.
“FCF mencegah potensi manipulasi kinerja keuangan,” ucapnya.
Agus Sartono menambahkan FCF lebih rasional dan mencerminkan kemampuan perusahaan untuk menjamin keberlanjutannya. Berbeda dengan Laba Bersih (Net Income) yang mudah dimanipulasi melalui kebijakan akuntansi. Free Cash Flow menunjukkan uang tunai riil yang tersisa untuk pemegang saham setelah biaya operasional dan belanja modal (Capityal Expenditure) dipenuhi. Ini penting akan memberikan gambaran potensi pertumbuhan di masa datang.
“Investor juga dapat lebih hati-hati jika melihat FCF yang negatif di tengah laba akuntansi yang positif. Hal ini dapat menjadi warning dan sinyal awal adanya ketidakteraturan atau model bisnis yang tidak berkelanjutan,” terang pria yang pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Pendidikan dan Agama, Kemenko Kesra/PMK 2010-2021.
Valuasi berbasis FCF seperti metode Discounted Cash Flow, lanjut Agus Sartono, memaksa pelaku pasar baik investor dan analis untuk melihat kemampuan perusahaan menghasilkan kas secara mandiri. Tidak kalah penting, pendekatan FCF dalam valuasi memaksa manajemen untuk terbuka dalam penggunaan uang tunai.
Krisis pasar yang tercermin dari anjloknya IHSG pada akhir Januari 2026 menjadi pengingat pentingnya pasar modal yang efisien secara informasi. BEI dan OJK dituntut memastikan seluruh emiten patuh aturan dan membuka informasi secara penuh, meski konsekuensinya adalah biaya yang harus dikeluarkan perusahaan semakin besar. Namun, Agus menegaskan, keterbukaan dan integritas adalah fondasi utama kepercayaan. Tanpa keterbukaan, pasar modal akan terus rentan terhadap guncangan spekulatif dan perannya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional akan terganggu.
“Butuh kerja keras dan waktu yang panjang untuk membangun kepercayaan. Kita bisa saja mengalami kerugian akibat krisis bursa akhir Januari 2026 ini, tetapi kita tidak boleh kehilangan kepercayaan, integritas dan reputasi,” pungkasnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
