Kemenangan tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan berlatih, konsistensi menjaga performa, dan kemauan untuk terus belajar. Tiga mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) berhasil menorehkan prestasi melalui performa solid mereka di cabang taekwondo dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Gadjah Mada (PORSENIGAMA) 2025.
Mereka adalah Fadlillah Nur Maulidina (Manajemen 2024) meraih Juara II Poomsae Individu Putri Kategori A, Muhammad Bagus Diwangkara (Manajemen 2023) menyabet Juara III Kyorugi U-80 Putra, sementara Amanda Nayla Wardhana (IUP Akuntansi 2025) mendapatkan Juara II Kyorugi O-73 Putri.
Perjalanan Menekuni Taekwondo
Ketertarikan Fadlillah terhadap taekwondo berawal dari kebiasaan menonton film bela diri semasa SMP. Rasa penasaran tersebut mendorongnya untuk mencoba secara langsung sampai ia berlatih taekwondo pada tahun 2019, saat duduk di bangku kelas 2 SMP. Sejak awal, arah latihannya telah diarahkan pada prestasi dengan dukungan penuh dari orang tua.
“Pada awal pendaftaran, pelatih sempat menanyakan apakah saya ingin berlatih sekadar untuk mengisis waktu luang atau berorientasi pada prestasi. Saat itu, orang tua saya mendukung penuh untuk berlatih dengan tujuan prestasi dan hal tersebut juga sejalan dengan keinginan saya sendiri,” ujar Fadlillah.
Sementara itu, Bagus mengenal taekwondo sejak usia yang masih muda. Ia mulai tertarik pada olahraga tersebut sejak duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman bertanding sejak kecil turut membentuk semangat juangnya. Dari awalnya menjadikan taekwondo sebagai hobi, keberhasilan di beberapa kejuaraan membuatnya semakin terpacu untuk berlatih lebih serius.
Berbeda dengan keduanya, perjalanan Amanda di dunia taekwondo tidak lepas dari dorongan keluarga. Ayahnya merupakan mantan atlet taekwondo dan judo menjadi sosok inspiratif yang mengenalkannya pada seni bela diri sejak kecil. Meski sempat vakum cukup lama karena tuntutan pendidikan dan kondisi fisik, keinginannya untuk kembali ke arena pertandingan tidak pernah padam. Meski demikian, keinginannya untuk kembali ke arena pertandingan tidak pernah padam.
Tantangan
Ajang PORSENIGAMA UGM 2025 menghadirkan tantangan tersendiri, baik dari sisi fisik, teknik, maupun mental. Bagi Fadlillah yang saat itu masih berstatus mahasiswa baru, tantangan terbesar terletak pada pembagian waktu antara akademik dan nonakademik di tengah padatnya jadwal perkuliahan. Untuk menjaga kondisi, ia tetap melakukan latihan mandiri ketika tidak dapat hadir latihan di GOR.
Bagi Bagus, keterbatasan waktu latihan akibat kesibukan akademik dan proyek di luar kuliah menjadi hambatan utama dalam persiapan. Ia juga mengakui bahwa vakumnya dari taekwondo sejak 2020 turut memengaruhi performanya saat bertanding.
“Tantangan terbesar saya di PORSENIGAMA ini tentu adalah fisik dan teknik. Saya bisa dibilang kurang persiapan karena sudah mulai sibuk kuliah dan proyek-proyek lain, sehingga agak kesulitan mencari waktu untuk berlatih,” ungkap Bagus.
Sementara itu, PORSENIGAMA 2025 menjadi momen yang sangat personal bagi Amanda. Setelah enam tahun tidak bertanding, kembali turun ke arena pertandingan menghadirkan tantangan fisik dan mental yang tidak ringan. Dengan capaian posisi kedua, pengalaman tersebut menjadi titik awal kebangkitannya sebagai atlet.
Proses Pembelajaran
Bagi ketiganya, prestasi tidak semata dimaknai sebagai capaian akhir, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang berkelanjutan. Pengalaman bertanding di PORSENIGAMA menjadi ruang refleksi, evaluasi diri, serta penguatan karakter di tengah tuntutan akademik.
“Menang maupun kalah, semuanya memberi pembelajaran. Dari pengalaman ini saya belajar mengatur waktu, bertanggung jawab, dan terus memperbaiki diri agar bisa berkembang sebagai mahasiswa maupun sebagai atlet,” tutur Fadlillah.
Selaras dengan Fadlillah , Bagus memaknai PORSENIGAMA sebagai ruang untuk kembali merasakan semangat kompetitif yang sempat ia tinggalkan, sementara Amanda menjadikan setiap pertandingan sebagai sarana evaluasi diri untuk memperbaiki strategi dan menjaga stamina ke depan.
Kisah Fadlillah, Bagus, dan Amanda menunjukkan bahwa dengan disiplin, konsistensi, serta dukungan lingkungan yang suportif, mahasiswa FEB UGM mampu menjaga keseimbangan antara akademik dan pengembangan minat nonakademik. Arena olahraga pun menjadi ruang tumbuh yang memperkaya perjalanan mereka selama menempuh pendidikan.
Reporter: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
