Kesempatan mengikuti program double degree di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dan University of Glasgow menjadi babak baru bagi Heri Primadona. Namun di balik capaian tersebut, terdapat perjalanan panjang yang dimulai dari pengalamannya bekerja di industri pupuk dan menyaksikan langsung ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku mengantarkan Heri mendalami ilmu ekonomi. Kini, ia menjalani program double degree di Magister Sains Ilmu Ekonomi (MSI IE) FEB UGM dan Adam Smith Business School, University of Glasgow, United Kingdom.
Heri merupakan mahasiswa angkatan 2024 yang lolos program kerja sama antara UGM dan University of Glasgow setelah perusahaannya membuka jalur tugas belajar bagi karyawan melalui kemitraan dengan UGM. Kesempatan itu tidak datang begitu saja, ia harus melalui seleksi ketat dari perusahaan, kemudian mendaftar ke program pascasarjana FEB UGM hingga akhirnya lolos skema double degree.
Alasan Heri melanjutkan studi berasal dari pengalamannya bekerja di industri pupuk. Selama bertugas di PT Pupuk Iskandar Muda yang merupakan anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), ia mengamati bagaimana Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku pupuk dari berbagai negara. Ketergantungan ini bukan sekadar persoalan logistik, tetapi juga menyimpan kerentanan yang berpotensi berdampak luas bagi masyarakat, khususnya petani lokal.
Ketika guncangan global terjadi, harga bahan baku di pasar internasional langsung melonjak. Kondisi itu menyebabkan biaya produksi naik sehingga harga pupuk yang sampai ke tangan petani menjadi semakin mahal dan sulit dijangkau.
“Ketika perang terjadi, jalur logistik terganggu yang menyebabkan biaya bahan baku kita menjadi meningkat. Akhirnya biaya produksinya juga tinggi dan harga pupuk pun mahal sehingga sulit diakses oleh petani,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menyadarkan Heri bahwa Indonesia membutuhkan strategi yang lebih matang dalam mengelola pengadaan bahan baku strategis. Menurutnya, strategi yang baik harus dibangun di atas pemahaman mendalam tentang risiko pengadaan dan dinamika ekonomi global. Hal itu yang mendorongnya untuk mempelajari ilmu ekonomi secara serius.
Di FEB UGM, ia mengambil konsentrasi ekonomi internasional yang relevan dengan aktivitas ekspor-impor dalam pekerjaannya. Sementara di University of Glasgow, ia akan berfokus pada ekonomi pembangunan. Dua pendekatan ini ia nilai saling melengkapi untuk menjawab persoalan nyata yang selama ini dihadapi di lapangan.

Untuk dapat mengikuti program double degree ini, Heri harus memenuhi persyaratan dari kedua institusi. Dari UGM, ia wajib memenuhi standar kemampuan akademik dengan nilai TPA sekitar 550 ke atas. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris yang dibuktikan dengan skor IELTS minimal 6,5 juga menjadi syarat yang tidak bisa ditawar.
Terkait pendanaan, Heri mendapatkan beasiswa dari PT Pupuk Iskandar Muda sebagai program pengembangan sumberdaya manusia di perusahaan tersebut. Terdapat sumber pendanaan lainnya seperti LPDP yang secara resmi mengakomodasi program double degree sehingga mahasiswa yang memenuhi syarat dapat memanfaatkan beasiswa tersebut.
“Buat teman-teman yang mungkin tertarik dengan program double degree, tentu ini kesempatan yang sangat bagus. Kita bisa mendapatkan international exposure dan punya pengalaman akademik yang lebih luas. Tapi perlu persiapan juga, terutama kemampuan akademik dan kemampuan bahasa Inggrisnya, itu salah satu yang paling utama,” tegasnya.
Studi di FEB UGM, menurut Heri, memberikan fondasi yang kuat sebelum ia melanjutkan perkuliahan ke Glasgow. Program MSI IE membekalinya dengan pemahaman konsep dan teori ekonomi, pengetahuan tentang evaluasi kebijakan, serta kemampuan berpikir analitis dan kritis.
Ke depan, Heri berencana mengaplikasikan ilmu dari kedua institusi untuk membangun model ekonomi yang dapat menganalisis biaya impor sekaligus mengukur risiko manajemen suplai bahan baku. Ia ingin merumuskan rekomendasi kebijakan yang konkret agar Indonesia memiliki instrumen yang tepat dalam mengelola industri strategis.
“Dari situ nanti kita akan bisa buatkan analisis kebijakannya seperti apa, agar Indonesia punya instrumen kebijakan yang tepat dalam mengelola industri strategis,” katanya.
Bagi Heri, program double degree bukan sekadar soal gelar tambahan. Ia melihatnya sebagai jalan untuk memperluas jaringan internasional sekaligus memperdalam kapasitas analisis yang kelak ia bawa kembali ke industri dan kebijakan di Indonesia.
“Program ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperluas pengetahuan, memperoleh pengalaman akademik yang lebih variatif, serta membangun jejaring internasional. Karena itu, persiapkan diri dengan baik. Setiap tantangan dalam proses ini pasti dapat dihadapi selama kita memiliki komitmen dan semangat untuk terus belajar,” pungkasnya.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
