Di tengah ketidakpastian global akibat perang dagang, konflik geopolitik, hingga krisis rantai pasok global, kemampuan kepemimpinan dinilai menjadi faktor menentukan bagi keberlangsungan bisnis. Pemimpin masa kini tidak lagi cukup hanya menjaga stabilitas, tetapi juga dituntut berani mengambil risiko, beradaptasi dan bergerak cepat di tengah perubahan yang terus berlangsung.
Hal tersebut disampaikan Prof. Renato Pereira, Professor General Management dari ISCTE Business School, dalam Executive Series bertajuk Business Beyond Borders: Leading Through Geopolitical Change yang diselenggarakan MBA FEB UGM Kampus Jakarta pada Jumat (8/5).
Menurut Renato, pemimpin bisnis saat ini tidak lagi bisa menjalankan bisnis dengan menghindari risiko, melainkan menghadapinya. Ketidakpastian dunia justru menuntut lahirnya kepemimpinan yang lebih adaptif.
“Kita perlu menghidupkan kembali semangat kewirausahaan. Dari sepuluh strategi yang diluncurkan, mungkin hanya satu yang berhasil, dan itu adalah hal yang wajar. Belajarkah dari prosesnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa berbagai framework dan teori bisnis hanya berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti kepemimpinan manusia yang sesungguhnya. Dalam kondisi global yang bergerak sangat cepat, kemampuan membaca perubahan dan mengambil keputusan menjadi semakin penting.
Renato menekankan bahwa perubahan geopolitik bukan hanya menghadirkan ancaman, tetapi juga peluang yang nyata terutama bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Ia menyoroti bagaimana COVID-19 mendorong banyak negara di Eropa untuk memutus ketergantungan pada Tiongkok dan aktif mencari mitra rantai pasokan alternatif. Melalui data perdagangan internasional, ia menggambarkan bagaimana pangsa pasar Tiongkok melejit dari kurang dari 1% pada 1979 menjadi hampir 15% saat ini, melampaui AS yang justru turun dari 11% menjadi 8%. Namun, sayangnya, Indonesia belum mengambil peran yang lebih besar dan belum berambisi untuk mengembangkan hal tersebut.
Dalam paparannya, Renato menyampaikan lima tren besar geopolitik yang memengaruhi dunia bisnis saat ini. Pertama, rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok dalam memperebutkan dominasi ekonomi global, termasuk pengaruh terhadap sistem keuangan internasional, teknologi, hingga kekuatan militer. Kedua, ketidakstabilan sistem keuangan global akibat tingginya utang negara-negara besar dan ketergantungan terhadap pencetakan uang tanpa nilai riil yang memadai. Ketiga, dampak perubahan iklim mulai mengancam rantai pasok pangan dan memicu kompetisi baru terhadap sumber daya alam. Keempat, slow lization atau melemahnya arus globalisasi. Terakhir, tren era never normal ditandai oleh konflik-konflik tak berkesudahan seperti perang di Ukraina, Gaza, dan Iran.
“Konflik terus membara tanpa penyelesaian yang jelas dan menciptakan ketidakpastian yang bersifat permanen. Kondisi never normal ini secara fundamental mengubah cara kita dalam menyusun strategi bisnis,” paparnya.
Sementara itu, Deputy Director MBA FEB UGM Kampus Jakarta, Sari Sitalaksmi, Ph.D., mengatakan penyelenggarakan Executive Series dengan tema “Business Beyond Borders: Leading Through Geopolitical Change” sangat relevan dengan kondisi yang dihadapi pelaku bisnis saat ini, termasuk mahasiswa MBA yang sebagian besar telah aktif di dunia profesional.
“Untuk beberapa bulan terakhir, Indonesia dan dunia menghadapi turbulensi geopolitik yang signifikan. Mahasiswa kami sangat memahami apa yang sedang terjadi di bisnis mereka,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, MBA FEB UGM Kampus Jakarta juga meluncurkan konsentrasi baru bernama Strategic Leadership, Organizational Design, and Culture sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas kepemimpinan yang relevan dengan tantangan global.
Reportase: Suci Hapsari
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Fotografer: Alfian Rama Aditya
Sustainable Development Goals
