Rasa syukur tak henti diucapkan Salsabila Sabrina Rasya (18) saat mengetahui dirinya dinyatakan lolos masuk Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Momen pengumuman pada 31 Maret 2026 kala itu masih membekas jelas dalam ingatannya. Diliputi rasa takut tidak diterima, Salsabila bahkan sengaja menunda membuka hasil pengumuman hingga akhirnya tertidur. Saat sang ibu memintanya membuka pengumuman, air matanya kembali pecah karena cemas. Namun suasana berubah haru ketika ibunya yang terlebih dahulu melihat hasil di ponsel spontan berteriak, “Alhamdulillah,” tanda ia berhasil diterima di kampus impian.
“Saat itu saya tidak berani membuka pengumuman, sering menangis karena takut tidak diterima. Akhirnya, Ibu yang membuka dan berteriak Alhamdullilah. Saya pun senang bercampur sedih karena nantinya harus merantau berpisah dari Ibu,” ungkapnya saat ditemui belum lama ini di kediamannya di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Perjalanan Salsabila untuk menembus kampus impian tidaklah mudah. Bagi Salsabila, masuk FEB UGM bukanlah mimpi yang muncul secara tiba-tiba. Ketertarikannya pada bidang ekonomi sejak kelas 10 SMA membuatnya perlahan menyusun langkah, mulai dari menjaga nilai akademik, aktif mengikuti lomba, hingga mempersiapkan diri di jalur SNBP dengan serius. Usaha panjang itu akhirnya membawanya diterima di Program Studi Ilmu Ekonomi FEB UGM.
Kebahagiaan Salsabila kian membuncah ketika ia mengetahui mendapatkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% sehingga menjalani kuliah secara gratis.
“Yang jelas senang dan bersyukur karena bisa kuliah gratis dan meringankan keluarga mengingat ibu adalah satu-satunya tulang punggung keluarga,” tuturnya.
Salsabila terlahir sebagai anak tunggal. Saat ini ia tinggal bersama dengan sang ibu yang membuka toko kelontong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perjuangan Masuk FEB
Salsabila mengaku mantap memilih FEB UGM setelah sering melihat berbagai konten tentang kehidupan kampus dan mahasiswa melalui Instagram. Dari sana, ia merasa akrab dengan lingkungan UGM bahkan sebelum benar-benar menginjakkan kaki di kampus tersebut.
Berbekal mimpi tersebut, Salsabila mulai mempersiapkan diri sejak awal SMA. Ia fokus menjaga konsistensi nilai akademik sambil terus memperdalam minatnya di bidang ekonomi dan akuntansi. Keseriusannya membuahkan hasil melalui berbagai prestasi nasional, di antaranya Medali Emas Olimpiade Nasional Gemanesia bidang Akuntansi dan Medali Emas Olimpiade Science Explorers Online bidang Ekonomi.
Meski aktif berprestasi, perjalanan Salsabila menuju FEB UGM tidak dilalui dengan cara instan. Ia lebih banyak mengandalkan kedisiplinan belajar mandiri dan hanya mengikuti les untuk satu mata pelajaran. Baginya, proses belajar yang konsisten jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar hasil akhir.
Saat proses pendaftaran SNBP dimulai, Salsabila juga aktif berdiskusi dengan guru bimbingan konseling di sekolah, tepatnya SMAN 1 Balikpapan, untuk memastikan pilihan yang diambil benar-benar sesuai dengan kemampuannya. Menariknya, ia hanya memilih satu kampus yakni UGM.
Keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Sejak awal, ia memang ingin berkuliah di FEB UGM dan memilih percaya pada proses yang telah ia bangun selama SMA.
Selain aktif di bidang akademik, Salsabila juga dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan. Sejak kecil ia mengikuti kegiatan tahfidz dan beberapa kali mengikuti lomba tahfidz sejak sekolah dasar. Kemampuannya di bidang tersebut bahkan membawanya masuk SMA melalui jalur tahfidz. Selama SMA, ia juga aktif dalam organisasi rohis.
Salsabila pun memiliki pesan sederhana bagi pelajar lain yang tengah berjuang mengejar kampus impian.
“Jangan suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain karena setiap orang punya prosesnya masing-masing,” tuturnya.
Dukungan Orang Tua
Perjalanan Salsabila menuju FEB UGM juga mendapat dukungan penuh dari sang ibu, Sri Indah (48). Sebagai orang tua, ia harus menghadapi berbagai tantangan demi memastikan putrinya bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Sri Indah mengaku sempat merasa takut putrinya tidak diterima melalui jalur SNBP. Namun di tengah kekhawatiran tersebut, ia memilih terus mendukung pilihan putrinya dan percaya pada usaha yang telah dijalani selama ini.
“Sangat senang dan bangga, Salsabila bisa masuk FEB UGM tanpa tes dan kuliah gratis. Ini merupakan jawaban doa-doa yang saya panjatkan selama ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca menahan perasaan bahagia bercampur haru.
Sri Indah sempat diliputi rasa cemas saat harus melepas putrinya merantau jauh dari kota kelahiran demi mengejar impian berkuliah di FEB UGM. Kendati demikian, ia terus meyakinkan dirinya dan sang putri untuk tetap kuat menjalani proses tersebut. Ia pun berpesan agar Salsabila senantiasa menjaga ibadah, terutama salat lima waktu, di tengah kehidupan perantauan dan dunia perkuliahan yang akan dijalani.
Sebagai seorang ibu, Sri Indah berharap putrinya kelak dapat meraih kesuksesan.
“Harapannya Salsabila bisa sukses di dunia dan akhirat, selalu diberikan kemudahan dalam setiap langkah, dipermudah jalannya dalam menuntut ilmu, serta senantiasa berada dalam lindungan Allah,” harapnya.
Reportase: Sulthan Thariq Firmansya
Editor: Kurnia Ekaptiningrum








