Di tengah kompetitifnya persaingan dunia kerja, memiliki prestasi akademik saja tidaklah cukup. Kemampuan menyusun CV yang kuat dan menarik serta menampilkan potensi terbaik dan percaya diri saat wawancara kerja juga menjadi hal yang sangat krusial untuk memenangkan hati perekrut.
Maya Septriana, M.A., yang merupakan Career Consultant menegaskan bahwa CV adalah hal pertama yang dilihat oleh perekrut sehingga harus mampu memberikan nilai tambah kandidat secara jelas.
“CV membentuk kesan pertama dari seorang pelamar. CV yang kuat membantumu lebih menonjol dibandingkan kandidat lain dan meningkatkan kesempatan untuk masuk ke tahap interview,” jelasnya dalam sesi “Ace Your Job Search: CV Writing & Interview Hacks” pada Kamis (16/7/2026) yang diselenggarakan Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM secara daring untuk membekali mahasiswa FEB UGM sebelum terjun di dunia kerja.
Maya menjelaskan bahwa CV yang kuat tidak hanya berisi riwayat pendidikan dan pengalaman kerja saja, tetapi juga harus disusun secara strategis sesuai posisi yang dilamar. Menurutnya pelamar perlu menyesuaikan isi CV dengan deskripsi pekerjaan yakni menggunakan kata kunci relevan, menonjolkan pencapaian yang terukur, mencantumkan hard skill yang dimiliki, serta menyajikan pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
“Sebelum memulai membuat CV, siapkan dulu hal yang mendasar seperti membuat daftar pencapaian dan prestasi yang diraih. Buatlah satu Master CV dan sesuaikan untuk setiap pekerjaan yang dilamar. Ingat, rekruter juga manusia yang memiliki selera dan sudut pandang yang berbeda sehingga tidak ada satu format CV yang cocok untuk semua perusahaan,” urainya.

Ia menambahkan bahwa ada beberapa hal yang perlu dihindari dalam pembuatan CV. Misalnya, informasi yang terlalu personal, informasi yang kurang relevan dengan posisi yang dilamar, dan CV yang dibuat menggunakan AI.
Selain membahas mengenai CV, Maya juga mengajak peserta untuk menilai tingkat kepercayaan diri dan bagian tersulit dalam menghadapi proses wawancara kerja. Beberapa menilai bahwa mereka sudah tampil baik saat wawancara namun tetap tidak diterima bekerja.Dari diskusi yang berlangsung, terungkap bahwa tidak sedikit peserta yang merasa telah memberikan performa terbaik dalam wawancara, tetapi tetap belum berhasil memperoleh pekerjaan.
Menanggapi hal tersebut, Maya menjelaskan bahwa penting bagi seorang pelamar untuk mempelajari profil perusahaan, memahami tanggung jawab posisi yang dilamar dan pengalaman yang dimiliki sebelum melakukan wawancara. Disamping itu, penting untuk berlatih menjawab pertanyaan dengan metode STAR (Situation, Task, Action, Result).
Pada akhir sesi, Maya mengulas sejumlah pertanyaan yang sering muncul dalam wawancara kerja, mulai dari pengalaman menghadapi tantangan, rencana karier lima tahun ke depan, ekspektasi gaji, hingga kesempatan bagi pelamar untuk mengajukan pertanyaan kepada pewawancara. Ia juga mengingatkan peserta untuk menghindari sejumlah kesalahan yang kerap menjadi penilaian negatif dalam proses seleksi.
“Dalam wawancara, pelamar harus menghindari sikap defensif dari feedback, terlalu percaya diri, berbohong, hanya berfokus pada gaji dan tunjangan selama proses wawancara,” jelasnya.
Melalui workshop ini, mahasiswa diharapkan mampu menyusun CV yang lebih kompetitif serta meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi proses rekrutmen. Dengan demikian mahasiswa nantinya memiliki peluang yang lebih besar untuk memperoleh karier sesuai bidang yang diminati.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
