Prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) saat ini sudah menjadi salah satu cara pengelolaan perusahaan yang cukup masif dilakukan, terutama dengan nilai keberlanjutan yang terus digaungkan. Nyatanya, ESG tidak hanya berbicara tentang lingkungan dan keberlanjutan, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana perusahaan mengelola risiko dalam setiap pengambilan keputusan.
Di ASEAN, tata kelola perusahaan masih menghadapi berbagai tantangan. Dengan praktik ESG, perusahaan justru berpotensi menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Lalu, apakah ESG ini dapat menjadi alat mitigasi risiko yang lebih efektif bagi perusahaan?
Topik tersebut menjadi fokus penelitian Anggelia Syahputri, M.Sc., untuk tesis pada Program Studi Magister Sains Akuntansi FEB UGM. Yang mengkaji hubungan antara kinerja ESG dan pengambilan risiko perusahaan. Penelitian ini juga melihat apakah pengawasan institusional dapat mengubah hubungan tersebut.
Studi yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya yang mengeksplorasi hubungan antara pengambilan risiko dan ESG umumnya merupakan studi lintas negara dan menunjukkan hasil yang beragam. Sementara pada studi yang dilakukan oleh He et al. (2024) dan Wu et al. (2025) ditemukan bahwa kinerja ESG yang tinggi mengurangi pengambilan risiko perusahaan. Namun, temuan empiris belum selalu konsisten dalam berbagai kondisi tata kelola. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan penting: apakah ESG mengurangi pengambilan risiko perusahaan, atau dampaknya berbeda-beda tergantung pada mekanisme pengawasan lain, seperti kepemilikan institusional?
Berangkat dari hal tersebut, Anggelia melakukan penelitian dengan menawarkan konteks regional yang menyoroti ASEAN dengan ciri khas nuansa budaya yang cenderung menekankan kolektivisme, harmoni, serta pendekatan yang lebih hati-hati dalam pengambilan risiko.
“Penelitian ini mencoba melihat fenomena ini dari perspektif yang lebih luas, yaitu negara-negara ASEAN, dengan mengamati perusahaan publik di lima negara ASEAN selama periode 2018-2024,” ungkapnya dalam Program 3 Minute Thesis Sustainability di ASEAN: Apakah Kinerja ESG Mengurangi Pengambilan Risiko Perusahaan?

Untuk mengukurnya, penelitian ini menggunakan dua indikator yang melihat seberapa besar kenaikan-penurunan kinerja keuangan (volatilitas laba) dan tingkat pengembalian saham (volatilitas return) perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan dengan kinerja ESG yang lebih tinggi cenderung mengurangi pengambilan risiko secara lebih agresif. Hal ini tercermin dari volatilitas laba dan return yang lebih rendah. Namun, dampak negatif ini melemah ketika perusahaan memiliki kepemilikan institusional yang tinggi.
Menariknya, analisis heterogenitas menunjukkan bahwa pengaruh negatif ESG terhadap pengambilan risiko perusahaan hanya signifikan pada kelompok kepemilikan institusional rendah, tetapi tidak signifikan pada kelompok kepemilikan institusional tinggi.
“Artinya, ESG berfungsi sebagai mekanisme pengawasan alternatif di lingkungan dengan monitoring institusional yang terbatas,” tuturnya, Anggelia, yang telah diwisuda pada awal tahun 2026.
Temuan ini memberikan implikasi praktis. Bagi perusahaan, hasil penelitian bermanfaat untuk merancang skema insentif bagi manajemen agar pencapaian ESG seimbang dengan pengambilan risiko strategis guna meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Sementara bagi investor, pemahaman hasil penelitian ini memungkinkan investor menilai apakah praktik ESG perusahaan berfungsi sebagai mekanisme mitigasi risiko yang efektif tanpa secara berlebihan membatasi inovasi dan pengambilan risiko yang produktif.
Video selengkapnya dari Program 3 Minute Tesis berjudul “Sustainability di ASEAN: Apakah Kinerja ESG Mengurangi Pengambilan Risiko Perusahaan? Dapat diakses melalui http://ugm.id/PengaruhKinerjaESGTeradapPerusahaan.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
