Memiliki gagasan bisnis yang berdampak sosial merupakan langkah awal dalam menciptakan perubahan. Namun, mewujudkan gagasan tersebut menjadi bisnis yang berkelanjutan membutuhkan strategi pendanaan dan kolaborasi yang tepat.
Pemahaman inilah yang dibagikan Co-founder dan Chief Operating Officer (COO) PrimaKu, Stanislaus MC Tandelilin kepada peserta Global Summer Week (GSW) 2026 melalui sesi Impact Financing and Network for Inclusive Innovation pada Jumat (17/7). Para peserta diajak memahami bagaimana strategi pendanaan dapat memperkuat inovasi yang berorientasi pada dampak sosial sekaligus berkelanjutan secara bisnis.
Stanislaus membagikan pengalamannya selama membangun sejumlah start-up di Indonesia, mulai dari e-commerce fashion Sorabel, peer-to-peer lending ModalRakyat, hingga aplikasi parenting PrimaKu. Berbekal pengalaman itu, ia menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan rintisan tidak hanya ditentukan oleh kualitas ide, tetapi juga oleh keputusan dalam memilih sumber pendanaan. Menurutnya, tidak ada satu instrumen pembiayaan yang dapat diterapkan untuk semua model bisnis. Sebab, setiap model bisnis memiliki kebutuhan yang berbeda.
Stanislaus juga berbagi pengalaman ketika Sorabel harus menghentikan operasinya. Ia mengakui bahwa kegagalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan kondisi pasar, tetapi juga dipengaruhi oleh keputusan internal, termasuk dalam memilih investor. Kesalahannya dalam memilih investor menjadi faktor terbesar dari kegagalan tersebut sehingga baginya sangatlah penting untuk memilih mitra yang sejalan dengan visi dan misi dari bisnis yang dimiliki.
“Dari kasus Sorabel, saya menyadari bahwa jika kita memilih partner yang salah, keseluruhan bisnis bisa merasakan kerugiannya,” ungkapnya.
Lebih lanjut Stanislaus juga memperkenalkan berbagai skema pembiayaan, seperti hibah (grants), utang (debt), ekuitas (equity), dan campuran (blended finance). Ia menjelaskan bahwa pemilihan instrumen pendanaan harus disesuaikan dengan karakteristik bisnis, seperti margin keuntungan, arus kas, dan tahapan pertumbuhan perusahaan. Untuk model bisnis yang berbasis social enterprise, konsep blended financing menjadi pendekatan yang lebih relevan karena mampu menjembatani kebutuhan pendanaan usaha yang berorientasi pada dampak sosial.
“Blended financing ini dapat menjadi solusi ketika bisnis yang sudah terbukti berjalan tetapi belum cukup besar untuk menarik investor komersial,” jelasnya.
Untuk memperdalam pemahaman peserta, sesi dilanjutkan dengan diskusi kelompok berbasis studi kasus. Enam perusahaan dari berbagai negara menjadi bahan analisis, yakni Waste4Change dan Du Anyam dari Indonesia, M-Kopa dan Sanergy dari Kenya, Zipline dari Rwanda, serta One Acre Fund dari Afrika Timur. Peserta diminta mengidentifikasi model pembiayaan yang paling sesuai berdasarkan karakteristik bisnis masing-masing perusahaan.
Di akhir sesi, Stanislaus merangkum tiga pelajaran penting dalam menjalankan bisnis. Pertama, setiap model bisnis membutuhkan instrumen pendanaan yang berbeda. Kedua, mitra strategis merupakan bentuk modal yang nilainya sering kali melampaui investasi finansial. Ketiga, berkembangnya ekosistem investasi berdampak membuka peluang yang semakin besar bagi bisnis yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
