Memahami isu keberlanjutan dan membangun pengalaman sejak di bangku kuliah menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi perubahan dunia kerja dan tantangan masyarakat. Climate Risk Senior Analyst CIMB Niaga, Jovitania Soediro, menjelaskan bahwa risiko perubahan iklim bukan lagi sekadar persoalan masa depan. Dampaknya mulai dirasakan saat ini dan dalam jangka panjang risiko lingkungan diperkirakan semakin dominan.
“Kalau kita geser ke long-term horizon, risiko yang berkaitan dengan lingkungan bahkan semakin dominan. Oleh karena itu, kita perlu membekali diri dengan ilmu yang berkaitan dengan mobility, climate, dan environmental issues, meskipun latar belakang kita berasal dari manajemen, ekonomi, akuntansi, atau bidang lainnya,” jelasnya dalam Kick Off Student Week Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) belum lama ini.
Jovitania juga membagikan pengalamannya yang berlatar belakang akuntansi dan keuangan justru menggeluti bidang climate risk. Ketertarikannya terhadap isu iklim muncul setelah melihat berbagai lecture dan video mengenai penggunaan climate risk dalam stress testing oleh institusi seperti Bank of England dan European Central Bank.

Ketertarikan tersebut kemudian ia kembangkan melalui riset mengenai climate risk dan sektor keuangan sebelum memasuki dunia kerja. Pengalaman itu turut membantunya dalam proses wawancara karena menunjukkan ketertarikan sekaligus pemahaman terhadap bidang yang ingin ditekuni.
Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa mahasiswa tidak perlu menunggu hingga memperoleh pekerjaan untuk mulai membangun pengalaman. Berbagai langkah dapat dilakukan sejak masa studi, mulai dari membantu penelitian dosen terkait sustainability atau climate, mengikuti internship, aktif dalam organisasi, membangun inisiatif sendiri, hingga mempelajari industri dan teknologi yang berkaitan dengan climate transition.
“Hal-hal tersebut akan membantu membangun pengalaman dan membuat CV menjadi lebih kuat. Ini merupakan salah satu bentuk kesempatan yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengenal bidang tersebut sebelum masuk ke dunia kerja,” tegasnya.
Sementara Pande Putu Setiawan, alumnus MBA FEB UGM yang merupakan pendiri Komunitas Sekolah Alam membagikan perjalanan hidupnya. Ia memilih jalur pengabdian kepada masyarakat setelah memperoleh kesempatan mengikuti pertukaran mahasiswa ke University of Victoria di British Columbia, Kanada.

Bagi Pande, kesempatan belajar di luar negeri bukan hanya tentang memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan untuk kembali memberikan manfaat kepada masyarakat. Berasal dari kampung dengan akses pendidikan yang terbatas yaitu Bangli, Bali, ia ingin menunjukkan kepada anak-anak di daerah asalnya bahwa kesempatan untuk belajar dan mencapai sesuatu yang lebih besar dapat dimiliki siapa saja.
“Di kampung saya tidak banyak orang yang bisa sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan, saya ingin menyampaikan kepada anak-anak kecil di kampung saya bahwa kalau saya bisa menaklukkan sesuatu yang sebelumnya terasa jauh dan besar dan mereka juga bisa menaklukkan banyak hal yang lebih besar,” jelasnya.
Pande memilih jalan yang berbeda dari pilihan karir yang umum ditempuh. Ketika banyak orang mengejar gelar S2, karier terbaik, maupun masuk ke perusahaan besar, ia justru memilij mencari antitesis dari pilihan tersebut.
Antitesis ini membawanya pada banyak hal yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Pilihan itu membawanya berkunjung ke berbagai desa dan mendokumentasikan kehidupan anak-anak melalui fotografi. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya mendirikan Komunitas Anak Alam di Bali pada 2009.
Keputusan tersebut sempat mendapat penolakan dari sang ibu yang berharap Pande bekerja di perusahaan besar. Namun, pertemuannya dengan Andy F. Noya pada 2014 turut membantu meyakinkan sang ibu bahwa jalan pengabdian yang dipilih Pande memiliki makna dan dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia. Pada tahun yang sama, Pande memperoleh penghargaan Kick Andy Heroes 2014. Penghargaan tersebut menjadi salah satu momentum yang membuat kiprahnya dalam pengabdian kepada masyarakat semakin dikenal.
“Saya tidak pernah bermimpi menjadi pejabat atau menjadi orang terkenal. Saya hanya ingin menjadi rakyat biasa yang melakukan sesuatu yang baik. Dan sampai hari ini saya masih kembali ke kampung-kampung tersebut,” jelasnya.

Ia pun mendorong mahasiswa untuk tidak takut memilih jalan yang berbeda, terutama ketika belum memiliki gambaran pasti mengenai masa depan. Pande mengibaratkan perjalanan pendidikan seperti mendaki gunung. Setelah mencapai puncak dan memperoleh ilmu, seseorang perlu kembali turun untuk membagikan pengetahuan tersebut kepada orang lain.
“Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang mencapai posisi tertentu, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
