Inovasi tidak berhenti pada lahirnya sebuah ide, tetapi membutuhkan proses untuk mengubahnya menjadi solusi yang mampu menjawab persoalan nyata. Selain menciptakan nilai ekonomi, sebuah solusi juga perlu mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan, serta keberlanjutan dampaknya.
Megawati Syahril, Founder and Chief Executive Officer PT Segala Sukses Bersama, mengajak mahasiswa FEB UGM untuk melihat persoalan sosial di sekitar sebagai peluang untuk menciptakan nilai dan mengembangkan solusi yang dapat memberikan dampak. Ia membagikan pengalaman mengembangkan Sagata, sebuah usaha yang mendukung kemandirian ekonomi perajin penyandang disabilitas di Yogyakarta melalui produk buatan tangan, seperti tas dan dompet.
Dalam kegiatan Future Leaders for Impact bertajuk “Create Innovation and Sustainable Solutions” yang diselenggarakan Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM yang diperuntukan bagi mahasiswa angkatan 2026 pada 15 September 2026, Megawati mengungkapkan pengembangan Sagata berangkat dari persoalan keterbatasan kesempatan kerja, stigma dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas, serta keterampilan yang belum sepenuhnya terhubung dengan pasar. Bagi Megawati, solusi yang dibangun tidak cukup berhenti pada produk, tetapi perlu memperhatikan sistem yang membuat dampak tersebut dapat terus berjalan.
“Solusi bukan satu produk tinggal, melainkan sistem yang menghubungkan manusia, proses, pasar, dan dampak,” jelas mahasiswa Program Doktor FEB UGM ini.
Dalam mengembangkan solusi, ia memperkenalkan lima kriteria yang perlu diperhatikan, yaitu desirable, feasible, viable, inclusive, dan sustainable. Kelima kriteria tersebut digunakan untuk melihat sebuah ide benar-benar dibutuhkan penerima manfaat dan memiliki peluang untuk diterima oleh pasar.
Menurutnya, produk dalam bisnis sosial tetap perlu memiliki kualitas agar konsumen tidak membeli hanya karena rasa kasihan. Produk yang memiliki nilai bagi konsumen akan membuka peluang pembelian kembali dan membuat usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
Keberlanjutan juga perlu dibangun dari berbagai aspek, mulai dari sosial, ekonomi, lingkungan, hingga organisasi. Dalam praktiknya, Sagata menerapkan konsep zero waste dengan memanfaatkan sisa kain menjadi produk lain, sekaligus membangun standar operasional prosedur dan pengendalian kualitas.
Dari sisi ekonomi, keberlanjutan usaha perlu didukung oleh pengelolaan margin, repeat order, dan arus kas. Sementara dari sisi sosial, usaha diarahkan untuk meningkatkan kapasitas, menciptakan kesempatan kerja, dan mendukung kemandirian ekonomi para perajin.
Megawati juga membagikan contoh usaha lain yang dikembangkan bersama anak-anak yatim melalui usaha sayuran dan roti bakar. Menurutnya, penyelesaian persoalan sosial tidak harus selalu dimulai dari skala besar.
“Jangan hanya fokus melalui jalur formal saja. Dunia ini tidak selurus seperti textbook. Kalau bisa, mulai dari sekarang semasa mahasiswa untuk being productive,” ujar Megawati.
Ia mendorong mahasiswa untuk mengamati persoalan yang terdapat di lingkungan sekitar dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang mereka miliki. Menurutnya, menciptakan dampak dapat dimulai dari langkah sederhana selama terdapat nilai yang dapat diberikan kepada orang lain.
“Setiap lingkungan pasti ada masalah sosial. Lihat kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan value dan delivering value, kemudian aplikasikan dengan ilmu ekonomi yang kalian miliki. If you can do more, start right now,” pungkasnya.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
