Menerbitkan artikel di jurnal bereputasi sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para akademisi dan peneliti. Dalam upaya membantu para akademisi dan peneliti menembus publikasi di jurnal bereputasi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menggelar lokakarya bertajuk “Sustainability Research: How to Publish in a Top Journal” pada Selasa, 12 November 2024.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Departemen Akuntansi dan Laboratorium Akuntansi FEB UGM dalam kegiatan bertema Methods in Sustainability Research ini menghadirkan pakar di bidang riset keberlanjutan, yakni Profesor Kazi Sohag, Ph.D., dari Graduate School of Economics Management, Ural Federal University, Rusia. Kazi berbagi tips mulai dari pemilihan topik hingga strategi menulis abstrak yang memikat, yang dapat diikuti oleh para peneliti.
Di awal paparannya, Kazi menjelaskan pentingnya memilih jurnal yang terindeks dan memiliki peringkat tinggi seperti jurnal yang terdaftar dalam Scopus atau Web of Science. Ia menjelaskan bahwa untuk meningkatkan peluang diterima di jurnal berkualitas, peneliti perlu memahami klasifikasi kuartil jurnal tersebut karena jurnal di peringkat atas (Q1) cenderung memiliki pengaruh yang lebih besar dan sering dijadikan rujukan.
Kazi menjelaskan pentingnya memilih topik yang menarik dan relevan, sebab topik yang memiliki signifikansi global memiliki peluang lebih besar untuk diterima oleh jurnal berkualitas. Ia juga mengingatkan peserta agar tidak membahas lebih dari satu isu utama dalam setiap karya ilmiah. “Penting untuk fokus pada satu isu agar analisis bisa lebih mendalam dan tidak terjebak dalam kompleksitas yang sulit diikuti. Karya ilmiah yang membahas banyak isu cenderung kehilangan arah dan menjadi sulit untuk diselesaikan,” jelasnya, Selasa (12/11).
Menulis artikel jurnal ilmiah, terutama di bidang ekonomi keuangan, Kazi mengatakan membutuhkan ketelitian dalam struktur dan kesederhanaan bahasa agar mudah dipahami pembaca. Ia mencontohkan gaya tulisan yang efektif dapat ditemukan di Journal of Financial Economics, dengan judul artikel yang pendek namun langsung menjelaskan esensi penelitian. Gaya penulisan yang singkat, padat, dan jelas, seperti yang diterapkan di jurnal ini, penting agar pembaca segera memahami inti topik yang dibahas.“Judul harus dibuat singkat dan padat dengan memuat pertanyaan yang bersifat perdebatan serta merujuk pada isu penting yang sedang terjadi,” tambahnya.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa penulisan abstrak harus memuat tujuan penelitian, metode yang digunakan, hasil utama, serta implikasinya bagi kebijakan atau sektor-sektor yang relevan. Selanjutnya, saat menulis pendahuluan, sebaiknya langsung menyampaikan tujuan karya ilmiah dan motivasi utama, serta menyertakan referensi singkat dari penelitian. Sementara dalam penyusunan tinjauan pustaka, memilih referensi yang paling relevan guna menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap literatur dapat meningkatkan kredibilitas di mata editor dan peninjau. Lalu, bagian kesimpulan harus memuat ringkasan tujuan, hasil utama, dan implikasi temuan, baik bagi teori, praktik, kebijakan, maupun dampak luas bagi masyarakat tanpa mencantumkan referensi. “Langkah-langkah ini akan membuat karya ilmiah menjadi menarik, relevan, dan bernilai bagi bidang tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kazi menjelaskan pentingnya mencari jurnal yang tepat untuk penelitian guna memastikan keselarasan antara topik penelitian dan jurnal yang dituju. Beberapa contoh jurnal bereputasi dari penerbit besar seperti Elsevier, Blackwell, Springer, dan Taylor & Francis menyediakan platform yang memungkinkan pencarian jurnal berdasarkan topik atau kata kunci tertentu, sehingga mempermudah peneliti untuk menemukan jurnal yang relevan. “Mengutip banyak artikel dan mengacu pada isu-isu terkini menunjukkan bahwa kalian mengikuti perkembangan di bidang tersebut. Hal ini dapat meningkatkan kredibilitas di mata editor dan para peninjau. Selain itu, jangan menunda pengiriman makalah terlalu lama karena dapat menyebabkan hilangnya motivasi,” urainya.
Kazi menekankan bahwa penolakan karya ilmiah oleh jurnal merupakan hal yang umum dalam dunia akademik. Oleh sebab itu, ia pun mendorong para peneliti dan akademisi agar tetap semangat untuk melakukan perbaikan. “Berita buruknya adalah beberapa jurnal yang bagus memiliki tingkat penolakan 80–90%. Kabar baiknya, kebanyakan karya ilmiah yang ditolak itu akhirnya akan diterbitkan, walaupun memang memakan waktu,” tutupnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)



